PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•138


__ADS_3

"Tapi bagus juga sih pak Sandy memutuskan kerjasama dengan pak Broto,biar dia tau rasa. lagian pak Broto kan emang genit. banyak yang udah jadi korbannya." Cerocos Rahma kesal.


"Apa itu akan berdampak buruk buat perusahaan?!" ucapku ragu.


"Hm, untuk sekarang sih belum ada masalah. mungkin hanya berupa kerugian materi aja. alah, kamu gak usah mikir aneh-aneh deh. pak Sandy kan banyak uang. tenang aja!" celetuk Rahma diiringi kekehan kecil.


"Tapi jujur aku takut,. Gimana kalau tiba-tiba pak Broto balas dendam dan menghancurkan perusahaan mas Sandy?!" gumamku sedikit cemas.


"Pak Broto mau melawan perusahaan ASTRA? mana bisa? lagipula dia gak punya kekuatan sebesar itu untuk menghancurkan perusahaan suami kamu!" tegasnya meyakinkan.


Namun tetap saja, ada banyak ketakutan dalam hatiku. meski aku baru sekali bertemu dengan pak Broto itu. tapi aku bisa melihat jika dia orang yang tak bisa di pandang sebelah mata. Manusia lemah saja bisa berubah menakutkan saat dia memiliki dendam. bagaimana dengan manusia yang memang terlahir licik dan ambisius.


"Hey! kenapa jadi diem? udah gak usah Dipikirin. besok kita ketemu Yuk? aku traktir kamu makan deh!" ajaknya


"Besok?" tukasku bingung.


TOK...


TOK...


Suara ketukan pintu tiba-tiba mengagetkanku.


"Aku matikan teleponnya ya. ada mas Sandy." bisikku pada Rahma.


Ku matikan teleponnya dan segera menyalakan keran air di wastafel


"Sayang, kamu baik-baik aja kan?" teriaknya dari luar.


Ku matikan Keran air itu dan bergegas keluar, ku tatap dalam mas Sandy yang berdiri didekat pintu kamar mandi.


"Kamu gak apa-apa?" selorohnya.


Melihat dia begitu khawatir padaku, membuatku terharu dan tak kuasa ingin segera memeluknya.


Aku mendekap tubuhnya erat.


"Hey, kenapa?" tanyanya lembut.


"kamu Beneran sakit perut atau lagi ngobrol sama cowok lain di telepon?" godanya


Aku menggeleng pelan.


"Kebetulan Andi sudah tidur, kita bisa lanjutkan pelukannya di atas kasur aja!' celetuknya lagi masih berusaha menggodaku.


"Maafkan saya mas,.. Mas Sandy pasti sangat lelah hari ini," gumamku ragu.


Mas Sandy mengurai pelukannya,lalu menatapku cukup lama.


"Kamu kenapa? kamu masih kepikiran soal tante Ayu tadi? apa perlu kita pindah saja ke apartemenku?" ajaknya.


Aku menolak cepat.


"Bukan."


"Lalu? kenapa tiba-tiba kamu begini?"

__ADS_1


selidiknya.


Aku menatap matanya ragu.


"Saya sudah tahu kalau mas Sandy tadi siang bertengkar di kantor dengan pak Broto!" gumamku.


"Kamu sudah tahu? pasti Rahma atau Sinta yang memberitahu kamu." sahutnya dingin.


"Ini semua pasti karena saya. mas Sandy jadi kehilangan relasi bisnis."


Pemuda itu tersenyum sembari mengusap lembut pipiku.


"Iya, semua karena kamu Alis. karena saya terlalu mencintai kamu." tukasnya


"Tapi mas, Gak seharusnya mas Sandy memutus kerjasama dengan pak Broto. bukankah itu akan merugikan perusahaan?"


"Saya memang sudah lama ingin memutus kerjasama dengannya. hanya saja saya belum punya alasan yang kuat. tapi berkat kamu, saya jadi memiliki alasan itu. lagipula, saya sudah punya penggantinya. kebetulan ada relasi bisnis yang ingin bekerja sama dengan PT.ASTRA menggantikan Pak Broto." jelasnya panjang lebar.


"Benarkah?" sahutku kaget. meskipun aku tak yakin dengan apa yang mas Sandy ucapkan. mungkin saja dia bicara begitu hanya untuk menyenangkanku.


"Ya tentu saja. dan kamu tahu,.. semuanya berkat kamu!"


"Mas Sandy jangan bohong! saya tahu mas Sandy bicara begitu hanya untuk menyenangkan saya 'kan?"


"Saya bersumpah! jika saya berbohong saya mati besok-" celetuknya.


Sontak saja aku menutup mulutnya dengan cepat.


"Mas-" dengusku menatapnya kesal


Mas Sandy berbalik memeluk tubuhku erat.


Ku usap lembut pundaknya,


"Maafkan saya"


"Kamu Gak perlu minta maaf sayang, semakin kamu sering meminta maaf. malah semakin membuat saya merasa bersalah!" gumamnya.


"Lalu saya harus apa mass..?" keluhku


Mas Sandy melepas pelukannya.


"Kamu bisa pijit pundak saya, yang ini rasanya sakit sekali!" rengeknya.


Aku tersenyum sinis.


"Ya sudah, mas duduk di Sofa! biar saya ambilkan minyak gosok" ajakku.


Mas Sandy segera menuju Sofa dan berbaring dengan nyaman. Sejujurnya aku masih memikirkan soal pertengkaran mas Sandy dengan pak Broto. belum lagi keributan kecil yang dibuat Andi tadi siang. Dan rasanya kepalaku terasa penat sekarang.


Sebagai istrinya, tentu semua masalah yang dihadapinya juga akan menjadi masalahku. aku tak bisa abai begitu saja, apalagi ini menyangkut perusahaan mas Sandy.


Sepertinya rencana makan siang besok bukan ide buruk. aku bisa bertanya banyak hal pada Rahma nantinya.


"Sayang... kamu dimana?" panggil mas Sandy tak sabar.

__ADS_1


"Sebentar mas," sahutku segera menyabet minyak gosok yang ku simpan di laci nakas.


"Apa Andi sudah benar-benar tidur?"


tanyaku hampir lupa.


"Hm, saya menemaninya minum obat tadi. Kasian Andi..." gumamnya tiba-tiba


"Kenapa? Andi bertanya sesuatu sama mas Sandy?" tanyaku penasaran.


"Dia bertanya tentang sikap tante Ayu pada kalian tadi siang. sepertinya dia sedikit syok. maafkan saya teh! harusnya saya bisa menjaga kalian dengan baik." lirihnya penuh sesal.


Aku termangu.


"Andi sudah sering melihat pertengkaran mas-,.." gumamku kelu.


Mas Sandy menoleh padaku. dia tentu tahu apa yang aku maksudkan. pertengkaranku dengan mas Rizal dulu sudah menjadi kebiasaan buruk bahkan didepan Andi.


"Kalian pasti sangat menderita,"


Aku tersenyum tipis.


"Mungkin Andi mengalami trauma, hanya saja dia tak terlalu pandai untuk mengungkapkannya. beruntung emosinya tak meledak-ledak. tapi justru itu yang saya khawatirkan"


"Tapi saya yakin, Andi anak yang kuat. dia memiliki Ibu yang luar biasa dalam mendidik anak. Andi tak rewel, dia juga tak pernah mengeluh. hanya sesekali merengek saja, itu hal wajar." sahutnya.


"Saya harap juga begitu. saya ingin Andi mendapatkan perhatian yang utuh. dan saya rasa, dia sudah mendapatkannya dari kamu mas. hanya sama kamu, dia bisa bicara leluasa. sebelumnya dia tak pernah begitu."


"Saya masih jauh dari sempurna. saya harap kamu bisa membantu saya untuk menjadi ayah yang baik dan pantas untuk Andi." Mas Sandy mengecup tanganku lembut.


"Terima kasih banyak mas," aku tersenyum lega.


"Apa kamu bisa mulai memijat pundak saya teh?" pintanya.


"Maaf," Aku segera mengolesi pundak mas Sandy dan memijatnya dengan lembut.


Untunglah aku pandai memijat. dulu sewaktu bapak masih ada, aku biasa melakukannya. memijat kaki dan tangan bapak. dan sekarang kemampuanku berguna juga. bahkan aku bisa mempraktekannya langsung pada suamiku sendiri.


"Ternyata selain pandai memasak, kamu juga pandai memijat ya! saya bahkan baru tahu" tukasnya.


"Apa pijatannya enak?" tanyaku


"Hm, sangat!" jawabnya sembari memejamkan mata dan bersandar di sisi Sofa.


"Kalau begitu, saya akan pasang tarif! satu juta untuk satu jam" godaku menahan tawa.


"Baiklah. saya akan membayar dengan sisa hidup saya,apa itu cukup?" selorohnya serius. dan membuatku merasa tersipu.


"Kalau begitu saya juga akan melakukannya seumur hidup saya" tukasku yakin.


Kami berdua bercanda menjelang tengah malam. obrolan ringan yang akhir-akhir ini sering kami lakukan berdua sebelum tidur, menyelami perasaan satu sama lain lewat kata-kata sederhana ternyata sangat menyenangkan.


Pernikahan bukan hanya perjanjian di atas kertas, tapi juga sebuah pembuktian pada pasangan kita. bahwasanya kita mampu menjalani hubungan dengan baik, meski memiliki dua prinsip yang terkadang bertolak belakang.


*Mas Sandy menggendongku ke atas tempat tidur setelah aku terlelap dalam dekapannya saat kami mengobrol disofa.

__ADS_1


"Selamat tidur sayang," bisiknya lembut*.


• • • • • •


__ADS_2