PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•137


__ADS_3

"Ada apa? siapa yang memecahkan guci itu?!!" seloroh bu Ayu yang turut melihat apa yang terjadi.


Aku menoleh pelan ke arah anak tangga. ku lihat andi tengah berdiri mematung dengan wajah yang tampak ketakutan juga sebuah Remote control yang di pegangnya. pastilah Andi mencoba memainkan Drone -nya hingga hilang kendali dan menabrak guci mahal ini.


Bu Ayu melangkah maju melewatiku dan mendekati pecahan guci itu.


Terlihat Bi Atun dan Susi juga keluar dari halaman belakang. untuk melihat apa yang terjadi di dalam.


"Ya allah, guci mahalnya pecah!" seloroh bi Atun kaget.


Perlahan bu Ayu berjongkok dan mengamati Drone yang tergeletak itu, sedetik kemudian dia mengambilnya.


"Siapa pemilik benda ini?" gumamnya pelan.


Aku meremat jari jemariku gugup.


Bu Ayu menoleh ke arah anak tangga, tepat dimana Andi berdiri sekarang. lalu dia kembali menoleh padaku.


"Apa ini milik anakmu?" selidiknya.


Aku mengangguk gusar. bodohnya aku! seharusnya aku tak meninggalkan Andi, seharusnya ku biarkan saja sampahnya di dalam kamar. racauku dalam hati.


"Anakmu memiliki mainan semahal ini? apa ini hadiah dari Sandy juga?"


"Maaf bu, Andi pasti tak sengaja! biar saya ganti dan bereskan semuanya!" Tukasku cepat.


"GANTI? dengan apa kamu mengganti semuanya? apa dengan uang Sandy?"


"Tante! kembalikan mainan Andi!" tiba-tiba saja andi berlari dari arah tangga dan hendak mengambil Mainannya. beruntunglah aku sempat menarik tangannya.


"Jangan nak," cegahku.


"Kalian pikir, kalian bisa seenaknya dirumah ini? tolong jaga sikap kalian! ajari anak kamu sopan santun! kamu pikir rumah saya ini lapangan? atau gang kumuh seperti tempat tinggal kalian dulu? sehingga kalian bisa bermain semaunya?!" tegasnya dengan nada Pelan namun terdengar menyakitkan.


"Tolong bu, jangan bicara seperti itu. Andi masih anak-anak" tuturku mencoba memohon padanya agar tak berkata kasar atau menghinanya didepan banyak orang.


"Karena dia anak-anak. dia harus tahu, dari mana dia berasal. seharusnya Sandy tak membawa kalian kemari." gumamnya sinis.


Ku tutup telinga Andi, berharap agar anakku tak mendengar perkataan buruk dari Bu Ayu barusan.


"SIAPA YANG TANTE MAKSUD?!" suara keras mas Sandy terdengar dari arah pintu.


Kami semua menoleh ke arah yang sama.


"Alis ini istri saya, dan Andi adalah anak saya. Kemanapun saya membawa mereka, itu hak saya!" mas Sandy mendekati kami berdua.


"Sayang, Gimana demamnya?" mas Sandy berjongkok dan memeriksa dahi Andi dengan penuh kekhawatiran. dia bahkan tak mempedulikan sikap marah bu Ayu.


"Baik om papa. tapi Drone -nya rusak!" Andi menatap Bu Ayu ragu.


Mas Sandy lalu bangkit dengan tatapan yang sudah pasti membuat siapa saja takut.

__ADS_1


"Apa tante akan terus menerus mengganggu mereka? apa tante belum mau berhenti? jika tante merasa terganggu dengan mereka,silahkan pergi dari rumah ini!!!"


"MAS,.." sergahku menarik kuat lengannya.


"Oh, sekarang kamu berani mengusir tante? kamu terlalu dibutakan oleh cinta Sandy! kamu lihat,bahkan Perusahaan hampir hancur gara-gara kemunculannya di muka umum. kamu pikir semua orang mendukung tindakanmu? mereka semua bersikap baik, hanya karena tak ingin bisnis mereka ikut hancur. Jangan egois san! kamu juga harus berpikir rasional. Ini baru permulaan,kamu pasti tahu bagaimana kedepannya nanti." dengusnya penuh kekesalan.


"Saya tak peduli dengan perusahaan! tak ada seorang pun yang boleh menyakiti alis dan anak saya! kalau tante berani bersikap kasar lagi pada mereka! saya tak akan segan mengusir tante dari rumah ini!!!" dengusnya seraya mengambil kasar mainan Andi dari tangannya. lalu segera menggendong Andi menuju lantai atas.


Aku menatap tante Ayu yang masih terlihat penuh amarah.


"Lihat apa yang sudah kamu perbuat padanya? kamu sudah membuat satu-satunya keluarga saya membenci saya Alis, kamu hebat!" gumamnya dengan tatapan tajam lalu pergi menuju kamarnya. meninggalkanku yang masih mematung melihat keributan barusan.


"Non, non Alis gak apa-apa?" bi Atun dan susi mendekatiku.


"Ibu kok jahat banget ya" gumam susi tak tega.


"Saya yang salah bi, bukan ibu yang jahat" aku tersenyum getir.


Aku tentu sadar diri, aku juga tak akan mengelak. jika hubungan mereka jadi memburuk semua karena kehadiranku.


•••


Malam ini setelah makan malam, kami berdua sengaja berkumpul di kamar Andi. ku lihat mas Sandy begitu Asik mengobrol dengannya. dia mungkin merasa bersalah pada Andi karena putraku melihat semua pertengkaran tadi siang.


Sementara aku memilih duduk di tepi ranjang seraya memperhatikan mereka berdua.


PING!


Aku tersentak kaget.


Rahma mengirimi sebuah foto ketika mas Sandy terlihat hampir mencekik leher pak Broto.


"kejadian tadi siang," tulisnya.


"Apa maksudnya?" balasku singkat.


"Kamu tahu Gak lis, tadi siang pak Sandy ribut besar sama pak Broto. kayanya ada hubungannya sama kamu deh. soalnya pak Sandy bilang 'jangan berani-berani sentuh istri saya lagi!' sebenarnya ada apa sih Lis?" tanyanya


"Kapan kejadiannya?" tanyaku lagi


"Jam makan siang deh pokoknya. aku takut banget, aku aja ngambil fotonya sembunyi-sembunyi. untung ada Billy sama pak Ivan yang melerai mereka. kalo enggak, bonyok deh tuh pak Broto!" cerocosnya.


Ku tatap diam-diam mas Sandy yang tampak asyik bermain dengan Andi.


Apa mungkin,saat tadi siang mas Sandy menelpon kami, setelah kejadian ini? Pantas suara mas Sandy terdengar lelah dan seperti sedang emosi.


"Emang pak Broto ngapain kamu lis?" Tulisnya lagi.


"Aku gak bisa cerita sekarang. nanti aku telepon" balasku cepat.


"Siapa?" tanya mas Sandy kemudian saat tahu aku sibuk dengan ponselku.

__ADS_1


"Hah? Oh, ini Rahma. dia ngajak aku makan siang besok." aku tersenyum ragu.


"Mas, Gimana kerjaan di kantor? lancar kan?!" ku tatap serius wajahnya. kenapa mas Sandy tak bercerita soal keributan tadi siang dengan pak Broto.


"Seperti biasa, pekerjaan kantor tak ada yang enteng. semuanya bikin sakit kepala. tapi kamu tenang aja, semuanya aman kok!" jawabnya seolah tak ingin aku tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Hari ini mas Sandy pasti sangat lelah. setelah pekerjaan di kantor yang sangat berat. dia juga harus berhadapan dengan pak Broto juga bu Ayu.


Maafkan saya mas,


Semuanya memang salah saya. terlalu percaya diri masuk ke dalam dunia mas Sandy yang memang sudah sangat berat. dan saya menjadikanny semakin bertambah berat.


PLUKK!


Drone itu jatuh di atas tempat tidur tepat di hadapanku dan membuatku kaget seketika, ku tatap Andi dan mas Sandy yang tampak terkekeh puas karena berhasil mengerjaiku.


"Mama kok bengong sih?" tanya Andi.


"Mama ke toilet sebentar ya, sepertinya perut mama sakit!' pamitku pada keduanya. mas Sandy tampak heran melihat kepergianku.


Aku masuk ke kamarku dan segera menuju kamar mandi. sebetulnya aku sengaja menghindari mas Sandy untuk mengetahui lebih lanjut apa yang sebenarnya terjadi di kantor tadi siang.


Ku tatap lama ponselku.


Apa perlu ku telepon pak Ivan? dia pasti tahu banyak tentang kejadian tadi siang.


Tapi, apakah tidak apa-apa jika aku menanyakan hal itu padanya?


DRRRRTTT!


"Ahhh!" Aku terperanjat saat ponselku sendiri tiba-tiba berdering.


Ku lihat Rahma yang menelepon.


"Hufht!" desahku lemas.


"Halo,...!" sahutku kemudian.


"Aduhhh lama banget deh. kamu lagi ngapain sih? jangan bilang kamu lagi berduaan sama pak Sandy!" sindirnya.


"Enggak. aku lagi di toilet." jawabku pelan.


"Pak Sandy cerita Gak sama kamu soal kejadian tadi?" selidiknya yang memang terdengar penasaran.


"Belum."


"Tuhkan,bener tebakan aku. pak Sandy pasti gak bakalan mau cerita. dia gak mau kamu kepikiran lis. tapi jujur ya, aku salut sama pak Sandy. dia itu cinta banget sama kamu, sampai dia juga memutuskan kerjasama dengan pak Broto. padahal perusahaan media milik pak Broto itu sangat berpengaruh besar dalam memajukan bisnis perusahaan kami loh. gila sih!!!" decaknya antusias.


"Mas Sandy memutuskan kerjasama dengan pak Broto?!"


• • • • • •

__ADS_1


__ADS_2