
"Andi! ayo sarapan dulu nak!"
"Iya ma!" Andi keluar dengan seragam sekolah lengkap. dia duduk dan meletakkan tas nya tak jauh dari tempat duduknya.
"Hari ini,udah ngerjain PR?!" tanyaku
"Udah dong," jawabnya percaya diri.
"Pinter anak mama!" Aku mengusap lembut pipinya.
"Ya udah,Andi makan yang banyak! biar tambah pinter!" perintahku.
"Ma,Andi belum bilang makasih sama om yang kasih sepatu?!" selorohnya tiba-tiba.
"Kamu tenang aja,kemaren mama udah sampaikan ucapan terima kasih kamu sama majikan mama. dia bilang sama-sama!" jelasku.
"Tapi kan beda ma,Andi maunya bilang langsung sama om,... om siapa ma, namanya?!"Andi menatapku tak sabar
"Om Sandy!"
"Om Sandy? namanya mirip sama Andi ya ma.." sahutnya nyengir.
"Nanti Kapan-kapan aja ya! kalo sekarang-sekarang kamu gak bisa ikut dulu! Soalnya ada Bu Rahayu yang punya rumah. dia bisa marah kalau tahu, mama kerja Bawa anak!" Aku mencubit gemas hidungnya.
"Kapan kira-kira Andi bisa ketemu sama om Sandy ma? om Sandy belum bisa jalan ya ma?"
"Mama juga gak tahu,kamu bisa ketemu sama dia atau enggak! soalnya om Sandy nya belum sembuh betul sayang!"
"Yahh,padahal Andi pengen banget bilang makasih sama om Sandy mah. berkat sepatu dari om Sandy teman-teman Andi jadi pada baik ma! mereka nanya terus, Andi punya sepatunya dari mana?"
"Terus kamu jawab apa?" tanyaku penasaran.
"Andi bilang aja,kalo sepatunya hadiah dari teman mama" Andi kembali menunjukan gigi-gigi kecilnya.
Aku tersenyum tipis mendengar celotehannya. selepas sarapan kami pun berangkat seperti biasa. Andi berangkat bersama Reyhan dan teman-temannya sedangkan aku segera mencari angkutan umum untuk segera menuju Rumah tempatku bekerja.
•••
Sialnya Aku sedikit terlambat karna ada kemacetan dijalan menuju kompleks. Setibanya didepan rumah Aku bergegas masuk menuju pintu belakang yang langsung menembus ke dapur. kali ini aku melihat bi Marni tengah berdiri di dekat pintu sembari mengintip sesuatu.
"Bi, lagi ngapain?" godaku.
"Ssssttt! Bakal ada perang!" sahutnya menarik tubuhku agar berdiri dibelakangnya. dan akhirnya Aku ikut mengintip bersama bi Marni,meski aku tak tahu apa yang sedang dipantau nya.
Aku mengikuti arah pandangannya yang fokus kearah ruang makan. ku lihat mas Sandy tengah duduk dimeja makan, sementara di sebelahnya terlihat Bu Ayu dan... si 'Pria' nya itu. Aku tersentak kaget begitu melihat si Pemuda itu juga duduk disana.
__ADS_1
"Hah! orang itu juga duduk disana?" bisikku pada bi Marni.
"Kamu kemana aja sih Lis, kenapa kamu gak bilang kalo mas Sandy mau makan dibawah! bu Ayu pasti marah karna saya gak kasih tahu sebelumnya!" bisiknya.
"Maaf bi,saya kena macet! saya lupa kasih tahu bi Marni soal mas Sandy. maaf!!!" Sesalku.
"Semoga mas Sandy gak ribut sama bu Ayu soal Pria itu." jelasnya penuh harap.
Aku memperhatikan ketiganya dengan seksama dari celah pintu dapur.
"Jadi ngapain kamu disini?" tanya mas Sandy pada sosok pria itu. Suara mas Sandy yang dingin dan cuek benar-benar membuatku sedikit ketakutan.
"Aku kesini buat bahas soal perusahaan! selama kamu sakit,kinerja karyawan di perusahaan sedikit terganggu!" jelas si Pria.
"Sandy sebetulnya, tante berniat merekomendasikan Ivan jadi Manager diperusahaan kita. Kamu tahu kan, selama kamu sakit. Ivan yang bantu tante urus semua kerjaan kantor!" sela Bu Ayu.
Mas Sandy melirik tak percaya pada tante nya sendiri dan juga pria yang bernama Ivan itu.
Aku benar-benar heran dengan kedua orang itu. mereka sama sekali tak menanyai soal kondisi mas Sandy Pasca pemulihan. bahkan Bu Ayu saja seakan abai dengan kondisi keponakan nya. Padahal dia tahu jika kemarin dokter Hasan berkunjung. Apa mereka benar-benar tak peduli soal mas Sandy atau mereka gugup makanya melupakan hal itu.
Aku menarik tubuh bi Marni menjauh dari pintu.
"Sebaiknya kita gak usah nguping lagi, gak bagus buat kesehatan mental kita bi. lagipula kita gak paham apa yang mereka bahas!" ajakku pada bi Marni.
"Kamu benar juga Lis, tapi bibi juga lega karna Mas Sandy gak marah sama Bu Ayu. itu tandanya bibi juga aman!" jelasnya menghela nafas lega.
Kami kembali bekerja dan tak menghiraukan percakapan ketiga orang itu lagi. meskipun Aku masih menaruh curiga jika ada sesuatu Antara bu Ayu dan Ivan. walaupun aku sadar, tak ada hak untuk ikut campur urusan pribadi mereka. hanya saja,aku merasa Mas Sandy seperti sedang dikelabui oleh tantenya sendiri.
"Biii,.. bi Marni!" Suara mas Sandy terdengar kuat dari ruang makan.
Aku yang tengah merapikan perabotan rumah langsung menoleh kearahnya.
"Bibi, tinggal sebentar ya Lis!" Pamitnya.
Aku mengangguk sembari melanjutkan kembali pekerjaanku. Sepertinya sebentar lagi aku akan pergi dari rumah ini. Toh sekarang mas Sandy sudah lebih baik. dia juga sudah mau makan bersama dengan keluarga nya, kondisi tubuhnya pun sudah hampir pulih meskipun dia harus berjalan dengan alat bantu. Aku menghela nafas berat,ada perasaan tak enak didadaku jika mengingat hal ini. Entah itu perasaan tak rela jika harus pergi dari rumah ini karna bekerja disini benar-benar membuatku nyaman.
"Lis, kamu di diminta mas Sandy buat anterin Makanan ke kamarnya!" Suara bi Marni mengagetkanku.
"Loh! bukannya mas Sandy mau sarapan bareng Bu Ayu?" tanyaku heran.
"Kayanya mas Sandy berubah pikiran! buruan kamu antar makanan nya ke kamar!" Perintahnya.
Aku bangkit dan segera mengambil beberapa menu sarapan untuk kemudian ku bawa ke kamarnya.
Setibanya di kamar Aku segera meletakan nampan di meja dan segera merapikan tempat tidurnya. lalu beranjak merapikan buku-buku yang dibacanya. sepertinya semalaman mas sandy tak tidur. kulihat kacamata baca nya juga masih tergeletak diatas buku. dan lagi banyak buku berserakan. tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Mas Sandy baca buku sebanyak ini? gak pusing apa ya?" Gumamku sendiri.
KLEK,
Pintu kamar terbuka,Aku menoleh pelan dan ku lihat Mas Sandy dengan ditemani Ivan masuk ke dalam kamar.
"Mas Sandy!" Aku segera mendekat untuk membantunya berjalan menuju tempat tidur.
"Terima kasih!" tukas mas Sandy pada sosok Ivan. pemuda yang juga memiliki tinggi badan setara dengan mas Sandy itu hanya tersenyum.
"Sama-sama San,aku harap kamu bisa mempertimbangkan soal obrolan kita tadi" tukasnya.
Mas Sandy hanya menatapnya lalu beralih menatap tempat tidur.
"Saya capek! saya mau istirahat!" Usirnya pada Ivan.
"Ya sudah,selamat beristirahat!" sahut ivan dengan wajah kecewa.
Aku bergegas memapah mas Sandy menuju tempat tidur. sepertinya ada perselisihan dibawah,hingga wajah mas Sandy tampak ketus.
"Saya siapkan sarapannya sekarang mas!" tanyaku
"Kamu selesaikan saja dulu beres-beres nya teh! saya pusing liat buku-buku berantakan begitu!" perintahnya.
Aku menatapnya sinis,padahal dia sendiri yang membuat semuanya jadi berantakan.
Mas Sandy duduk ditempat tidur dengan pandangan tajam seperti tengah berfikir. ada apa sebenarnya? kenapa sikapnya jadi begitu setelah kembali dari ruang makan? pikirku.
"Semalem mas Sandy lupa minum obat ya!" Aku menyelesaikan pekerjaan ku lalu membawa obat-obatan itu ke atas nakas disampingnya.
Mas Sandy menoleh pelan.
"Saya lupa!" Tukasnya dingin
Aku menghela nafas kesal.
"Kalo begini terus,kapan sembuhnya mas! ini udah hampir satu bulan loh mas,sebentar lagi kerjaan saya selesai disini. kalo mas Sandy belum sembuh,-"
"Jangan pergi!" Sela nya.
Aku terdiam mendengar ucapan nya barusan.
Mas Sandy kembali menoleh kearah ku dengan tatapan aneh yang sulit ku pahami.
"Teh Alis jangan pergi," pintanya lagi.
__ADS_1
• • • • • •