PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•200


__ADS_3

Ku lihat mas Sandy masih terus berjalan menuju ke arah mobilnya yang terparkir.


"Mas Sandy, tunggu!" panggilku setengah berteriak.


Mas Sandy menghentikan langkahnya, namun tak mau menoleh ke arahku. Aku berjalan cepat untuk mendekatinya.


"Mas,.. Apa kamu percaya dengan semua tuduhan Bu Ayu pada saya?" tanyaku padanya meski dengan suara pelan.


Mas Sandy menghela nafas dalam. lantas berbalik dan menatapku gamang.


"Saya hanya perlu waktu untuk menerima semua kenyataannya." jawabnya


Aku menatapnya tak percaya. jawabannya itu seolah dia memang mempercayai tuduhan Bu Ayu terhadapku.


"Jadi mas Sandy percaya?!" Aku menggeleng lemah.


"Menurut kamu, apa salah jika saya percaya? Tante memang bersalah karena telah mencoba menyakiti papa dan mama. tapi saya masih tak percaya jika ternyata mendiang suami kami pun terlibat. terlebih lagi, mungkin kamu juga tahu segalanya,-" gumamnya tercekat.


"Mas...!" ku pegang erat kedua tangannya.


"Maafkan saya Alis. saya hanya sedang bingung." lanjutnya seraya memalingkan wajahnya dariku.


Aku tertunduk kalut. Ya tentu saja,Aku juga tak bisa memaksa mas Sandy untuk percaya sepenuhnya padaku. Aku tak punya bukti meski Aku berkata jujur bahwa Aku tak tahu soal masalah ini.


"Mas, sepertinya saya bisa buktikan kalau saya sama sekali tak terlibat." Tegasku saat mengingat sesuatu.


Mas Sandy menatapku tak yakin.


"Apa maksud kamu?!" tanyany curiga.


"Ikut saya mas!" Aku menarik tangannya menuju ke dalam mobil.


•••


Setibanya di Rumah lama, aku meminta mas Sandy untuk segera turun.


"Kenapa kita harus kesini?" tanya mas Sandy begitu penasaran karena sejak tadi aku sama sekali tak berniat menjawabnya.


"Ada sesuatu yang mungkin bisa menjadi jawaban atas keraguan mas Sandy kepada saya" jelasku kemudian turun dari mobil yang di ikuti oleh mas Sandy tak lama setelahnya.


Kondisi rumah tampak sepi. Bi susi sepertinya tengah berada di halaman belakang. yang kami lihat hanya mobil Pak Muh yang terparkir di garasi.


"Saya tak mau semuanya menjadi semakin kacau. jika memang saya terlibat, pasti ada bukti. Begitupun sebaliknya." tegasku seraya berjalan menuju kamar Bu Ayu.


"Bukalah mas," ku pinta mas Sandy membuka pintu kamar Tantenya.


Mas Sandy tampak ragu. mungkin dia masih tak mengerti dengan apa yang coba ku tunjukkan.

__ADS_1


"Ayo buka pintunya mas!" desakku.


Perlahan mas Sandy membuka pintu yang memang sengaja tak di kunci itu.


Kami berdua merangsak masuk ke dalam kamar yang memang sangat besar dan di dominasi warna emas itu.


Kamar yang masih tampak sangat rapi. mungkin Bi Susi baru saja membereskannya.


"Apa yang ingin kamu tunjukan pada saya sebenarnya?!" tanya mas Sandy.


Aku merogoh tas untuk mengambil dompet milikku. foto yang beberapa waktu lalu membuatku tak tenang masih terselip rapi di dalamnya.


"Mas Sandy lihat ini! saya menemukannya tepat Dibawah meja itu" ku tunjukkan foto Bu Ayu dan Mas Rizal.


Mas Sandy menatap lama foto itu lalu menariknya secara kasar dari tanganku. mungkin dia juga tak percaya dengan apa yang Dia lihat.


"Saat saya melihat benda ini jatuh,saya juga mendengar bu ayu berbincang dengan seseorang ditelepon. obrolan mereka sangat mencurigakan." jelasku lagi.


"Apa lagi yang kamu ketahui?" tanyanya


"Bu Ayu memindahkan sebuah berkas dari dalam rak itu. berkas yang mungkin berhubungan dengan foto ini juga mas."


Mendengar itu mas Sandy seketika melirik sekelilingnya. Begitupun denganku yang mencoba mencari dimana berkas itu berada. apa jangan-jangan bu Ayu sudah menyembunyikannya? batinku.


Mas Sandy berjalan menuju lemari dan mengobrak-abrik semua isinya.


"Dimana berkasnya!" gumam mas Sandy dengan kedua tangannya yang tak berhenti mencari.


"Eh, Non Alis sama bapak ada disini? kalian sedang apa?" suara Susi membuat kami menoleh ke arahnya bersamaan.


"Susi, apa kamu sudah membereskan kamar ini?" tanya mas Sandy


"Iya pak. sudah. karena tadi Ibu menelepon dan meminta saya membuang beberapa barang ke tempat sampah. katanya udah gak dipake" jelas Susi.


"Tante menelepon?" gumam mas Sandy kaget. padahal tantenya baru saja sadar. sempat-sempatnya dia menelepon ke rumah dan meminta Susi membereskan semuanya.


"Jangan-jangan!" ku tatap mas Sandy penuh curiga. Kami berdua segera menuju tempat sampah yang ada di halaman belakang.


Dan benar saja, beberapa barang bekas tampak menumpuk dan hendak di bakar oleh mang cecep.


"Mang, tunggu!" perintahku.


Mang cecep terlihat kaget mendengar suaraku.


"Ada apa non?" tanyanya bingung.


"Jangan di bakar! kita mau nyari benda penting." aku dan mas Sandy mendekat.

__ADS_1


Kami berdua membongkar barang-barang yang sudah bercampur dengan sampah itu. Cukup lama kami mencari dan belum juga menemukan apapun.


Hingga akhirnya mas Sandy menarik sebuah berkas yang tertimbun Dibawah pakaian-pakaian kotor.


Aku menatapnya cukup lama, serta menilik benda yang di ambilnya. dan itu terlihat seperti berkas yang waktu itu ku lihat.


Aku segera mendekat untuk melihat apa saja yang tertulis di dalamnya.


Mas Sandy menatap berkas itu cukup lama. sebelum akhirnya membuka lembar demi lembarnya.


"Apa ini?!" mas Sandy membolak-balik halamannya dengan tatapan tak percaya.


"Kenapa mas?"


"Ini kontrak kerja dengan para investor yang hilang beberapa tahun lalu. sepertinya tante sengaja menyembunyikannya." jelas mas Sandy.


Aku terhenyak sesaat. dalam benakku tak terpikirkan mengapa Bu Ayu tega berbuat demikian pada keponakan sendiri dan juga Perusahaan milik keluarga Hadiwijaya. bukankah itu sebuah penghianatan. dan rasanya apa yang di lakukan bu Ayu tak akan termaafkan. aku menatap suamiku kemudian. dia masih diam membisu, bahkan melupakan apa yang menjadi tujuan utamanya tadi. yaitu mencari bukti atas kejahatan Bu Ayu dan mas Rizal.


"Coba saya lihat mas," ku ambil beberapa lembar berkas dari tangannya.


Kami berdua mengamati isi dari semua berkas-berkas itu. Jujur aku dan mas Sandy sama sekali tak menyangka ternyata banyak hal besar yang bu Ayu sembunyikan.


Dari mulai aset-aset perusahaan yang di sembunyikan serta di pindah tangankan sejak beberapa tahun lalu. mungkin semenjak orangtua mas Sandy masih ada. Bu Ayu sudah melakukan hal itu.


Dan yang membuatku kaget adalah kontrak kerja yang ku temukan antara Pak Broto dan Bu Ayu. tentang sebuah berita yang sengaja mereka sembunyikan untuk membersihkan nama Bu Ayu.


"Apa ini mas?" ku tunjukan berkas itu.


Mas Sandy mengambil dan melihatnya dengan seksama.


"Ternyata memang benar dugaanku, mereka berdua bersekongkol selama ini. mereka ingin menguasai ASTRA dan memjatuhkanku." gerutunya penuh emosi.


Mungkin selama ini mas Sandy sudah mengetahui tentang hal itu, hanya saja dia belum punya bukti yang kuat. sehingga dia tak terlalu kaget melihat berkas-berkas itu.


"Coba mas Sandy cek yang ada di dalam amplop coklat itu!" tunjuk ku pada sebuah amplop yang ada di lipatan paling bawah.


Mas Sandy menyimpan sebagian berkasnya lalu beralih pada amplop coklat yang dipegangnya.


Aku berharap tuduhan Bu Ayu pada mendiang suamiku tak benar. tapi jikapun semua itu benar adanya. aku berharap ada bukti nyata atas semua kejahatan mereka.


"Kurang ajar! mereka memang melakukannya!" geram mas Sandy sembari meremat kertas itu.


"Kenapa mas?!" aku menatap mas Sandy bingung.


Mas Sandy balik menatapku dengan wajah muram dan mata berkaca-kaca.


"Mereka membunuh papa dan mama" desahnya lirih.

__ADS_1


Aku tersentak kaget. mas Sandy pasti sudah menemukan bukti itu. lalu bagaimana sekarang? Apa dia juga menyalahkanku atas kejahatan mereka?


• • • • • •


__ADS_2