
Proses memanen masih terus berlanjut, hingga akhirnya mereka tiba di kebun wortel yang lebih luas dari kebun kubis.
Pak Abdul dengan gesit menunjukkan bagaimana cara memanen sayuran itu secara benar agar umbinya tidak patah atau malah putus dari batangnya.
"Pelan-pelan ya Reyhan! Jangan sampe patah semua wortelnya!" teriak bu dewi.
Ku lihat mas Sandy dan Andi berdiskusi cukup serius. sepertinya mereka sedang memutuskan Siapa yang akan mencabut wortel itu terlebih dahulu.
"Saya perhatian pak Sandy dan Andi Asik berdiskusi ya!" tanya bu Maryam yang terlihat penasaran.
"Om papa bilang, nyabut wortelnya harus Pelan-pelan bu biar Gak patah." jelasnya polos.
"Kok manggilnya om papa sih? Andi aneh. hahahaaaa...!" ledek Adrian.
Semua orangtua yang ada disana melirik ke arah Andi dan suamiku. Aku dan bu Dewi pun menatap kaget ke arah mereka berdua.
"Eh, Adrian. jangan ngomong gitu!" sergah bu sarah merasa tak enak pada mas Sandy.
"Maafkan anak saya ya pak!" tukasnya seraya membungkuk penuh sesal.
"Gak apa-apa kok bu. lagipula itu panggilan kesayangan Andi pada saya!" jelasnya santai.
Andi menatap mas Sandy lekat. sepertinya dia juga menyesal tak bisa mengontrol bicaranya setelah memanggil mas Sandy dengan sebutan itu. apalagi ini didepan banyak orang.
"Sudah-sudah! ayo kembali fokus sayang! sayuran Adrian belum penuh tuh!" Bu Maryam mencoba mengalihkan anak itu pada hal lain.
Kini aku jadi khawatir pada Andi, apa yang sedang dipikirkannya. hingga dia jadi mematung seperti itu.
"Kenapa?" mas Sandy berlutut dan menatapnya penuh tanya.
Andi tak menjawab dan masih menatapnya lirih.
"Maaf," gumamnya pelan.
Ku perhatikan keduanya dari jarak yang lumayan dekat.
Mas Sandy tersenyum seraya mengusap kepalanya penuh kasih.
"Kita bicara nanti saja. sekarang tugas kita harus mengumpulkan wortelnya dulu!" bujuk mas Sandy sembari mengangkat keranjang di tangannya.
"Hm," Andi mengangguk patuh.
Beberapa Anak tampak kesulitan saat memanen wortel. bahkan di antara mereka ada yang masih berkutat dengan sayuran kubis.
Sebenarnya Membiarkan anak bermain di alam terbuka seperti ini memang sangat bagus untuk tumbuh kembang mereka. tapi ada juga sebagian orangtua yang justru khawatir anaknya kotor atau terkena penyakit dan sebagainya.
"Hati-hati nak! jangan sampe kena muka!"
"Pelan-pelan Erick! nanti tangan kamu berdarah!"
Bu Dewi berbisik pelan,
"Sejak Kapan ngambil kubis aja bisa berdarah," celetuknya menahan tawa.
Aku ikut terkekeh dengan kehebohan para ibu saat mendampingi putra putri mereka beserta sang ayah dalam berkebun.
Lamanya kegiatan menghabiskan waktu sekitar 1 jam 30 menit. setelah itu mereka mencuci tangan dan membawa hasil panen mereka di sebuah pelataran yang cukup luas.
Setelah tadi Pak Abdul menjelaskan tentang bagaimana mereka menanam kubis dan wortel kini giliran bu Maryam yang menjelaskan bagaimana sayuran itu bisa tiba di pasar lalu di beli oleh kita/konsumen.
Mas Sandy yang duduk disampingku tampak meremat jari jemarinya.
__ADS_1
"Kenapa mas? Pegel ya?" godaku.
"Sepertinya nanti malam kamu harus memijat saya teh," bisiknya pelan.
"Baru juga segitu mas, kegiatan lainnya belum loh." gumamku.
"Tenang saja, saya masih punya banyak tenaga ekstra untuk nanti malam." sahutnya nakal.
Aku mengernyit kecil.
"Mas Sandy mesum." desisku lagi.
Banyak sekali pelajaran penting dan juga bermanfaat yang didapatkan oleh anak-anak siang ini. hingga tak terasa matahati sudah sangat condong ke barat.
•••
Malam ini kegiatan di tutup dengan makan malam. tak seperti siang hari, pada malam hari semua anak-anak di perbolehkan ikut bergabung bersama para orangtua untuk makan malam bersama.
"Kamu mau kemana?" tanya mas Sandy saat kami baru saja duduk di meja makan.
"Saya mau menjemput Andi mas, sambil nunggu yang lainnya berkumpul." sahutku.
"Saya mau ikut!' pintanya kemudian. sepertinya mas Sandy enggan di tinggalkan bersama orang-orang yang tak begitu di kenalnya.
"Mas Sandy yakin?!" Kulirik serius wajahnya.
"Tentu saja!" sahutnya seraya bangkit.
"Loh, pak Sandy mau kemana?" seloroh pak Indra.
"Saya mau mencari udara segar di luar." jelasnya.
"Tapi kan, sebentar lagi makan malam siap?"
Aku dan mas Sandy melenggang keluar dari dalam Villa menuju Villa anak-anak. dan ternyata masih banyak orangtua yang juga melihat anak mereka disana.
Banyak yang merengek tak betah tinggal di Villa bahkan ada pula yang ingin cepat-cepat pulang.
"Pantas saja ruang makan sepi." gumamku sembari berjalan menuju kamar Andi.
"Bu Alis mau bertemu Andi?" tanya bu Maryam.
"Iya bu, Andi ada di kamarnya kan?"
"Ada bu. hanya saja sejak tadi Andi sepertinya enggan keluar kamar. wajahnya juga murung,apa mungkin Andi sakit ya?" Bu Maryam menatap kami berdua cemas.
"Ya sudah, kalau begitu kami lihat dulu bu." mas Sandy bergegas mendahuluiku menuju kamarnya. bahkan mas Sandy masuk tanpa mengetuk pintu.
"Andi," seru mas Sandy saat masuk ke kamar.
Ku lihat Andi sedang duduk termenung. Aku dan mas Sandy saling melemparkan pandangan. mas Sandy melangkah maju perlahan.
"Kamu kenapa nak? Andi sakit?" mas Sandy berjongkok dihadapannya.
Andi menggeleng pelan.
"Andi Gak betah?" aku segera duduk disampingnya.
Namun Andi masih tak mau menjawab.
"Atau ada yang ngejek Andi lagi ya? siapa orangnya? bilang sama om papa?" bujuk mas Sandy.
__ADS_1
Andi menengadah menatap suamiku sendu. dan tiba-tiba saja Andi memeluk mas Sandy erat. membuat kami berdua kaget.
Aku menatap mas Sandy heran, begitupun mas Sandy yang menatapku penuh tanya. Mas Sandy mengurai pelukannya, lalu menatap Andi serius.
"Andi kenapa? kalau Andi sedih, Andi bisa cerita sama om papa ya nak," tukasnya.
"Maafin Andi, karena udah bikin malu." gumamnya pelan.
"Malu..? Malu kenapa?!" Mas Sandy melirik padaku. aku menggedik tak paham.
"Mulai hari ini Andi, gak mau panggil 'om papa' lagi." timpalnya kemudian.
Aku membulatkan mataku kaget.
"Andi,-" sergahku cepat.
Mas Sandy tersenyum. di usapnya kepala Andi penuh kasih.
"Jadi Andi sedih karena takut om papa marah tadi? gara-gara temen Andi ngejek Andi karena nama panggilan 'om papa'?" terkanya.
Andi mengangguk.
"Ya sudah, kalau begitu.. mulai sekarang Andi Gak usah panggil om papa lagi." tegasnya.
Andi mendongak cepat.
"Panggil 'papa' lebih gampang kan?" godanya dengan senyum yang mengembang.
Anakku masih menatap mas Sandy ragu. pasti dia takut jika mas Sandy masih marah padanya.
"Sini peluk! papa Gak marah kok. justru papa marah kalo Andi Gak mau panggil papa dengan sebutan papa sekarang!" jelasnya seraya mendekap Andi.
Andi membalas dekapannya begitu erat. dia menyembunyikan wajahnya di balik tubuh mas Sandy.
"Coba, papa mau denger Andi manggil 'papa'?" pintanya.
Andi menengadahkan wajahnya pelan
"Papa....!" gumamnya pelan.
"Kedengarannya ini lebih enak." goda mas Sandy.
Jujur aku sangat terharu melihat mas Sandy bersikap begitu. Andi pasti sangat bahagia mendapatkan sosok ayah pengganti seperti dirinya.
DRRRRTTT....
DRRRRTTT...
Tak berapa lama ponsel mas Sandy bergetar.
"Sebentar ya, papa angkat telepon dulu!"
"Siapa mas? apa dari kantor?" tanyaku
"Iya. ini dari Nita. saya keluar sebentar!" pamitnya.
Andi melepaskan pelukannya dan beralih memelukku.
"Mulai sekarang, Andi panggil om papa dengan sebutan papa. biar Gak ada temen Andi yang ngejek Andi lagi. oke!" tukasku menyemangatinya.
Meski ini adalah hal sederhana, tapi mungkin bagi Andi ini adalah hal besar dalam hidupnya. Andi masih sangat kecil, dia juga tak paham bagaimana sosok seorang ayah yang sebenarnya. mungkin yang dia tahu, jika sikap seorang ayah itu terkenal kejam dan tegas. sehingga membuatnya ragu untuk sekedar memberi gelar 'Papa' pada mas Sandy.
__ADS_1
• • • • • • •