PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•42


__ADS_3

Pukul 6 pagi semua rutinitasku di rumah,sudah ku selesaikan. Bahkan sarapan pagi untuk Andi sudah ku hidangkan lebih awal.


Ku lihat Andi tengah memakai dasinya dan berkaca didepan cermin. Sementara Aku sendiri asyik duduk di ruang makan dengan selembar kertas formulir dihadapanku. Sebetulnya sejak semalam Aku masih belum mengisinya. tapi apakah harus ku ambil kesempatan ini atau ku abaikan saja dan mencari pekerjaan yang lebih pasti. Sebenarnya beberapa hari lalu tetanggaku juga menawariku berbagai macam pekerjaan, kemarin saja Teh Ani sempat memberi tahu jika saudaranya membutuhkan seorang cleaning service untuk bekerja di salah satu rumah sakit. hanya saja, tempat yang jauh membuatku berfikir dua kali untuk menerima pekerjaan itu.


Tapi jika mengingat kedai kemarin, bahkan itu baru akan di buka minggu ini. dan menjadi pelayan disana sama sekali bukan pekerjaan yang menjanjikan ditengah ramainya persaingan bisnis minuman dan kuliner yang semakin menjamur dimana-mana.


"Ma, Andi udah siap!" suara Andi mengagetkanku.


"Sini sayang,sarapan dulu!" ajakku padanya.


"Apa itu ma?" Andi menatap kertas di hadapanku.


"Ini kertas formulir pendaftaran kerja sayang."


"Mama mau kerja? dimana? bukannya mama sudah bekerja pada om?" tanyanya tak paham.


"Kontrak kerja mama sudah selesai dengan om Sandy. jadi mama harus cari pekerjaan baru. Andi doakan mama ya nak!" Ku usap lembut pipinya yang tembem itu.


"Kenapa harus selesai ma? bukankah Andi sudah pinjamkan mama pada om?" selorohnya polos.


Aku nyengir mendengar ucapannya.


"Sayang, nanti kalau Andi sudah besar. Andi pasti akan paham. sekarang lebih baik kita sarapan dulu ya nak!" perintahku mengakhiri obrolan kami.


Meski tatapannya masih lapar akan sebuah jawaban, tapi Andi menurut dan memilih menghabiskan sarapannya.


•••


Sepanjang jalan,isi kepalaku terus saja berdebat. haruskah ku terima atau ku urungkan saja niatku bekerja di kedai itu.


Dan tanpa ku sadari ku lihat Aisyah tengah berdiri dipinggir kedai seolah hendak menghadangku,akupun tak tahu sejak kapan dia disana.


"Kak!" teriaknya sembari melambaikan tangannya ke arahku dengan senyuman manis yang mengembang.


Aku tersenyum tipis,seraya berjalan ke arahnya. ku lihat Aisyah sudah mengenakan pakaian kerja dengan sebuah apron tersemat ditubuhnya.


"Apa kabar kak!" Tanyanya ramah.


"Baik, kamu sedang apa sepagi ini?" ku lirik toko yang memang belum dibuka itu.


"Saya sedang beres-beres kak! kami harus membantu bos dan karyawan untuk mempersiapkan kedai ini. apa kakak mau pergi bekerja?" tanyanya.


"Iya, saya harus bekerja." jawabku singkat.


"kak, bagaimana dengan formulir nya? apa kakak sudah mengisinya?" Aisyah menatapku penuh harap.

__ADS_1


"Saya masih menyimpannya." Tukasku ragu.


"Ayolah kak. bantu saya! saya jamin kakak tidak akan menyesal bekerja dengan kami? yah?" bujuknya.


"Maaf,Sebetulnya saya masih ragu dengan pekerjaan dikedai seperti ini. kamu tahu kebutuhan saya lebih banyak. dan saya harus mendapatkan lebih banyak uang saat bekerja!" jawabku jujur.


Wajah Aisyah tiba-tiba saja berubah kecewa. tak berapa lama dari dalam kedai keluar seorang pemuda jangkung dan sedikit kurus menghampiri kami. seperti nya dia juga seorang pelayan sama seperti Aisyah.


"Kamu malah mengobrol! ayo masuk! kalau tidak, bos akan marah dan memecat kita sebelum kita bekerja!" Selorohnya menarik tangan Aisyah.


Aisyah masih bergeming dan menatapku. Aku melihatnya bingung.


Lalu Aisyah pergi begitu saja menyisakan raut wajah kecewa yang membuatku merasa bersalah.


"Permisi kak!" pemuda itu pun hendak pergi mengikuti Aisyah.


"Tunggu!" ku tahan lengannya


Pemuda itu menatapku seakan kesal, padahal jelas kami belum pernah bertemu.


"Kamu tahu kenapa dia bersikap begitu?" tanyaku padanya.


"Maafkan sikapnya kak! sepertinya Dia tertekan karna tidak mendapat karyawan satupun kemarin. soalnya jika jumlah karyawan kedai tidak terpenuhi, maka Bos tidak akan jadi membuka kedai ini. padahal ini pekerjaan Satu-satunya harapan kami." jelas pemuda itu putus asa.


"Apa kalian baru lulus sekolah?" tanyaku menebak.


Aku menatap kedalam kedai. kulihat Aisyah tengah mondar mandir merapikan kursi dan perabotan lainnya.


Ada perasaan tak tega melihat gadis itu berjuang sendirian. walaupun aku tak punya adik perempuan,tapi mungkin jiwa keibuanku memang lebih dominan.


"Maaf kak, saya pamit dulu!" pemuda itu meninggalkan ku tanpa sempat ku tanya siapa namanya. Aku berdiri sendirian didepan kedai,dengan pikiranku yang masih menimbang-nimbang keputusan apa yang harus ku ambil.


Ku langkahkan kaki ku meski berat, selama ini bukankah aku sudah melihat dan merasakan berbagai macam kesulitan. tapi kenapa, melihat hal kecil seperti ini saja sudah membuatku bimbang dan tak tega. Bukankah lebih baik aku memikirkan nasibku saja? sebelah hatiku sedang meracau dengan Keegoisan nya.


Aku menghela nafas dalam, melupakan sejenak sekelumit masalah itu. dan berjalan cepat menuju tempatku bekerja.


Setibanya ditempat Bu Ayu ku langkahkan kakiku dengan hati-hati menuju pintu belakang. Ku ketuk pintu lalu membukanya perlahan.


"Selamat pagi bi," tukasku pelan. namun seperti biasa, tak kudengar sahutan bi Marni.


Aku menilik kamar Mandi dan halaman belakang. tapi sosoknya tak ku lihat. Bahkan sarapan mas Sandy saja masih tertata rapi didepan meja.


"Apa Mas Sandy tidak sarapan dibawah?" Gumamku berjalan mendekati pintu. ku lihat Bi Marni tengah merapikan meja makan. Aku menghela nafas lega. ku hampiri wanita yang sudah ku anggap seperti ibuku itu.


"Bi, kok tumben sarapannya belum siap? mas Sandy enggak sarapan dibawah?" tanyaku pelan.

__ADS_1


"Bibi kesiangan Lis. sarapan mas Sandy juga baru beres bibi buat." jawabnya lemas. Aku menatapnya lekat.


"Bibi sakit? ya ampun!" aku memegang tangannya dan benar saja, tubuhnya terasa panas.


"Sini duduk bi!"


"Gak usah lis,Udah jam 7. sebentar lagi Bu Ayu mau sarapan" tolaknya


"Bi! bibi gak usah mikirin itu. sekarang mending bibi istirahat dibelakang. soal sarapan biar saya yang urus!" bujukku


Karna Bi Marni sepertinya sudah tak kuat akhirnya dia pun menurut dan memilih beristirahat. Segera ku rapikan meja dan menyiapkan sarapan untuk bu Ayu. tak berapa lama bu Ayu keluar dari kamar dengan stelan kantor yang sudah rapi.


"Selamat pagi bu!" sapaku


Bu Ayu menatap heran,


"Dimana bi Marni? kenapa kamu yang siapin sarapan Lis?" tanyanya


"Bi Marni lagi gak enak badan bu. jadi saya yang bantu siapkan sarapan! semuanya sudah siap bu, ini koran ibu hari ini." ku letakkan koran itu disamping menu sarapannya.


"Saya permisi," pamitku.


"Eh, Alis tunggu sebentar!" tukasnya


Aku menoleh pelan sebelum pergi


"Ada apa bu? ibu perlu sesuatu lagi?" tanyaku


"Besok kontrak kerja kamu disini sudah selesai kan?" tanyanya seakan mengingatkan.


"Iya bu," jawabku ragu.


"Baguslah. saya harap, kamu tidak usah berhubungan lagi dengan keponakan saya. ini demi kebaikan kalian berdua!" Tukasnya dingin.


Aku termangu, dan hanya mengangguk pelan mendengar perintahnya itu.


"Ya sudah, kamu balik kerja lagi!" perintahnya.


Aku meninggalkan ruang makan dengan perasaan tak karuan. Apa sebenarnya maksud dari ucapan Bu Ayu barusan?


Seburuk itukah Aku dimatanya? sehingga kedekatan ku dengan dengan mas Sandy di anggap satu hal tabu dan terlarang.


Aku berjalan menuju dapur dan segera mengambil sarapan untuk mas Sandy. Setibanya didepan kamar, aku tak langsung mengetuk pintu. ku atur nafasku agar lebih tenang, aku bahkan mengerjap-ngerjapkan mataku cepat. semoga tak ada bekas air mata disana.


Ku ketuk pintu pelan, lalu ku buka perlahan. Seketika angin segar menyeruak dari dalam kamar. wangi parfum yang bisa membuat siapa saja nyaman dan betah menghirupnya

__ADS_1


Samar ku lihat seorang Pria gagah dengan Kemeja rapi berdiri didepan cermin.


• • • • • • •


__ADS_2