PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•97--


__ADS_3

"Jadi pria yang meninggal itu suaminya? apa mereka juga memiliki anak?" tanyaku pada pak Ilham setelah dirinya menjelaskan tentang sosok Alis padaku.


Sejujurnya aku tahu, Alis pastilah memiliki seorang anak. hanya saja aku ingin memastikan jika dia adalah wanita yang sama dengan wanita yang ku tolong Waktu itu.


"Iya,pak. Anaknya laki-laki mungkin berusia 9 tahunan. Oh iya, yang saya dengar Alis ini. sering mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya." jelasnya yakin


"Pak Ilham sepertinya yakin sekali? tahu darimana semua informasi itu?"


"Kebetulan staf kita pak Yanto, adalah tetangganya. yang menganjurkan Alis untuk bekerja disini juga beliau."


Aku manggut saja mendengar penjelasannya. pantas sekali pak Ilham ini tahu banyak tentang Alis.


"Maaf pak, kalau boleh saya tahu. kenapa pak Sandy sangat penasaran dengan Alis ini?!" wajah pak Ilham nampak menaruh curiga padaku. pasalnya aku tak pernah bertanya sedetail ini tentang para pekerja dipabrik.


"Saya hanya penasaran." ujarku singkat.


"Lalu bagaimana soal ganti rugi dan lainnya pak?" tanyanya lagi.


"Kita urus semua. termasuk untuk biaya sekolah putranya. hingga lulus sekolah dasar. bila perlu sampai SMP!" jawabku yakin. Pak Ilham menatapku seakan tak percaya.


"Ba-baik pak!" sahutnya.


Setelah perbincangan serius kami berdua berakhir. aku segera memantau bagian produksi,melihat beberapa barang yang bisa diselamatkan setelah kecelakaan semalam.


Jujur kerugian kali ini lumayan sangat membuatku kaget. barang-barang produksi kami ini memang di impor langsung dari jepang. sehingga harganya pun tak main-main. butuh waktu beberapa bulan untuk memesan barang ini kembali.


Memang seharusnya aku marah dan tak perlu memberi ganti rugi pada pihak korban. cukup dari pihak jasamarga saja yang memberikan ganti rugi. tapi entah mengapa, hatiku benar-benar serius ingin membantu Alis. ada perasaan iba yang sulit ku jelaskan.


"Pak Ilham , Bisakah kita pergi ke rumah korban siang ini?" tanyaku


Pak Ilham lagi-lagi menatapku aneh.


"Tapi pak, dari pihak pabrik sudah ada perwakilan kesana." sahutnya.


"Kalau begitu,tolong kirimkan alamat rumahnya ke ponsel saya!" perintahku tanpa basa-basi.


•••

__ADS_1


Aku masih mengingat dengan jelas luka lebam yang ada di tangannya ketika di rumah sakit malam itu. dan lagi setelah mendengar penjelasan pak Ilham tentang suaminya yang sering bersikap kasar. aku jadi yakin, jika itu pasti luka lebam karena perlakuannya.


Aku tiba di sebuah gang yang tidak terlalu sempit,hanya muat untuk satu mobil saja. Ku parkirkan mobilku di bahu jalan sebelum masuk semakin dalam. Ku lepaskan jas kantorku lalu ku pakai jaket hoodie hitam beserta topi hitam yang selalu ada didalam mobilku. setidaknya penampilanku ini tak akan terlalu mencolok jika aku ada di antara keramaian warga disana.


Aku berjalan pelan, menurut alamat yang diberikan pak Ilham rumahnya tak jauh dari gang ini. hanya beberapa langkah lagi, seharusnya aku sudah sampai.


Saat tengah fokus melihat ponsel. dua orang wanita memakai kerudung serba hitam tampak berjalan berlainan arah denganku. pastilah mereka sudah pulang melayat. pikirku.


Dan akhirnya aku tiba di depan rumah itu. aku bersembunyi disisi tembok yang tak jauh dari halaman rumahnya. beruntunglah penampilanku sama sekali tak menarik perhatian para warga, karena mereka sedang sibuk dengan jenazah yang baru akan di makamkan itu. ku lihat sosok perempuan itu keluar bersama putranya. anak yang sangat manis menurutku.


Wajahnya sembab oleh air mata. seorang wanita paruh baya yang berdiri disampingnya tampak mencoba menenangkannya dengan sesekali berbisik ditelinganya.


Aku sering sekali melihat wanita diluar sana menangis. aku juga pernah melihat Vina menangis, tapi entah mengapa..


saat melihatnya menangis, aku seakan ikut merasakan sakit yang dia rasakan.


padahal, aku tak pernah begini sebelumnya.


AH! seandainya aku bisa dengan mudah menghampiri dan memeluknya untuk sekedar menenangkan hatinya. pastilah aku tak akan menjadi gusar seperti sekarang ini.


Alis terlihat mengusap lembut pipi putranya. mencium pucuk kepalanya berkali-kali. dia pasti akan sangat terpukul setelah kepergian suaminya itu.


"Iya yah. kasihan si Alis. mana harus kerja juga. sekarang ngurus anak sendirian!"


Aku mendengarkan dengan seksama obrolan mengerikan itu. dan hal itu malah membuatku semakin merasa tak tega padanya.


Alis, seandainya aku bisa mengutarakan kata maaf padamu. sekarang!


Seharusnya aku tak memaksa pihak distributor untuk mengantarkan barang-barang produksi pada kami malam itu. tentu semua ini tak akan pernah terjadi dan menimpamu.


Maafkan aku...


•••


Hari ini menjadi hari yang paling tak menyenangkan dalam hidupku. selain hari dimana kedua orangtuaku meninggal. aku benar-benar merasa bersalah padanya. Entahlah....


"Kamu ngelamunin apa, sampai aku ketuk pintu pun gak denger?" suara Vina dari balik pintu mengagetkanku.

__ADS_1


Aku terhenyak.


Sejak kapan dia ada di kantorku? kenapa Nita tak memberitahu jika dia akan datang sekarang.


"Kamu kenapa kelihatan kaget? harusnya aku masih marah loh. tapi aku Gak bisa! aku kangen sama kamu!" Vina mendekat dan mendekapku dari belakang. Aku masih terdiam sebelum akhirnya bertanya,


"Kamu disini sejak kapan?"


"Barusan kok. aku sengaja minta Nita buat Gak kasih tahu kamu, kalo aku datang. biar kamu kaget. kalo aku juga bisa nyamperin kamu ke kantor Disela-sela kesibukan kita." jawabnya terdengar sedikit menyindir.


"Aku benar-benar kaget!" sahutku kaku.


"Kamu nyebelin banget sih! udah gak nepatin janji. Gak ada minta maaf atau telepon aku sekalipun." gerutunya.


"Maaf. akhir-akhir ini, aku sedikit sibuk."


Vina mendekat dan menatap mataku lekat. sungguh aku sebenarnya sudah bisa dengan mudah melupakannya. tapi jika melihatnya bersikap manis lagi padaku seperti ini, justru malah semakin membuatku mengingat kembali penghianatan Dia dan Ivan dibelakangku.


"Sibuk, atau Pura-pura sibuk? atau menyibukkan diri biar lupa sama aku! Hm?!!!" desaknya sedikit menggoda.


"Aku benar-benar sibuk. kamu Gak liat berita di koran pagi ini?" tanyaku beralasan.


Vina melepaskan pelukannya lalu kemudian duduk di atas meja kerjaku. pakaiannya yang sedikit terbuka itu membuatku sedikit tak fokus.


"Iya. aku juga udah liat kok. aku kesini juga mau tahu yang sebenarnya. kata tante Ayu, perusahaan rugi besar. terus gimana? kamu kasih ganti rugi sama korban? mending Gak usah deh!" selorohnya seperti sudah termakan omongan tanteku.


Aku tentu paham, bagaimana tante Ayu mempengaruhi Vina dalam masalah ini. Membiarkanku mengikuti saran Vina tentunya.


"Aku akan tetap bertanggung jawab penuh pada korban." jawabku santai.


Vina menatapku penuh tanya.


"But Why? it's Just traffic accident Biasa sayang. kamu gak perlu berlebihan?" tuturnya beralasan.


Aku balik menatap Vina tak paham. dimana sisi kemanusiaannya yang dulu ku kenal sangat tinggi. semudah itu kah pergaulan diluar sana merubah jati dirinya? kebaikan hatinya??? bahkan aku sebagai kekasihnya, seakan tak mengenalnya lagi sekarang.


• • • • •

__ADS_1


.


__ADS_2