
Pembuktian Cinta memang bisa melalui berbagai macam cara. Dan cara yang ku tempuh untuk menunjukkan keseriusanku terhadap Alis sedikit agak lain.
Tentu saja, Aku dihadapkan pada sosok kecil bernama Andi.
bocah yang ku pikir memiliki kehidupan yang sama denganku. dia tak memiliki ayah, Begitupun juga denganku.
Aku sama sekali tak menyangka jika aku bisa semudah ini menjalin hubungan dengannya. banyak anak akan bersikap acuh dan lebih menjaga jarak dengan orang baru, terlebih lagi jika orang itu bermaksud mendekati ibunya. tentu mereka akan menjadi benteng pertama untuk melindungi ibu mereka.
Tapi Andi sangat berbeda, anak itu seakan menunjukan sinyal jika dia menginginkan sesuatu dariku. sikapnya yang lebih terbuka padaku, membuatku semakin menyukainya.
Terkadang sikap polosnya membuatku merasa kasihan padanya. betapa dia haus akan kasih sayang seorang ayah. dan ku rasa,peran ayah yang memang sangat penting untuknya sama sekali tak dia dapatkan. Selama ini Alis pasti sangat terbebani dengan kondisi ini.
•••
Malam ini aku senang sekali, akhirnya aku bisa membawa serta Alis dan Andi ke apartemenku. bahkan Andi tampak sangat antusias saat pertama kali menginjakkan kakinya di rumahku.
Apartemen itu adalah hasil kerja kerasku selama bekerja diperusahaan. tak ada satupun dari orang terdekatku yang tahu jika aku membeli apartemen ini. Ya,Aku sengaja merahasiakannya. karena aku tak ingin ada orang yang mengganggu waktuku saat aku sedang ingin menyendiri.
Hanya saja, aku sedikit kaget saat Hana bilang jika Vina dulu pernah kemari? mungkinkah dia mencariku? tapi,tahu dari mana dia, jika aku punya tempat tinggal disini.
Bagaimana mungkin dia bisa tahu begitu saja?!
Aku menghela nafas panjang, malam ini aku tidur di Sofa. ku biarkan Alis dan Andi tidur di tempat tidurku. senang rasanya melihat mereka begitu lelap dan nyaman melewati malam.
"Om," suara Andi mengagetkanku.
Aku yang tengah berdiri di samping jendela meletakkan cangkir kopiku. menatap kaget padanya.
"Andi sudah bangun?" tanyaku mendekat,
"Andi mau pipis!" gumamnya sembari mengucek malas matanya. dia pasti masih sangat mengantuk.
"Di dalam kan ada toilet, kenapa Andi pergi keluar!" tanyaku lembut.
"Andi takut ngotorin toiletnya. Andi mau pipis disana aja!" bocah kecil itu menunjuk kamar mandi di dekat dapur.
Aku tersenyum,
"Baiklah. sini om, antar ya!" ku ajak dia untuk segera menuju kamar mandi.
__ADS_1
Aku duduk di meja makan menunggunya hingga selesai dari kamar mandi.
Tak berapa lama Andi keluar. Anak kecil itu mengedarkan pandangannya hingga tepat menatap ke arahku. dia berjalan pelan dan mendekat.
"Om Gak tidur?" tanyanya
"Om, udah bangun dari tadi."
"Kenapa? om gak bisa tidur ya?" selidiknya
"Om banyak kerjaan, jadi tadi pagi bangun buat beresin kerjaan kantor." jelasku sembari mengusap lembut kepalanya.
"Kamu sendiri Gimana? nyenyak Gak tidurnya?" tanyaku lagi
"Nyenyak om. kasur punya om wangi dan lembut. Andi sampe mimpi terbang" celotehnya antusias.
"Serius? kalau begitu Andi bisa sering-sering menginap disini" Aku tersenyum seraya mencubit gemas hidungnya.
"Boleh om? sama mama juga?"
"Tentu saja sayang. kamu boleh menginap sesukamu. kalau kamu mau sendiri juga boleh!" jelasku.
"Andi kenapa?"
"Andi seneng om. om baik banget!" lirihnya lembut.
Suaranya terdengar berat dan tulus. mungkinkah dia menahan tangis?
Ku urai pelukannya,ku angkat wajahnya. matanya berkaca-kaca wajah polosnya terlihat sangat lugu dan menggemaskan
"Andi sayang sama om, om jangan pergi ya!" pintanya lagi.
Ku usap lembut pipinya, bocah polos ini benar-benar membuatku tak bisa bersikap acuh padanya.
Aku kembali memeluknya erat, membiarkannya bergelayutan didalam pelukanku.
"Gimana kalau kita bikin sarapan buat mama! Mumpung mama kamu belum bangun?" ajakku.
"Om bisa masak?!" sorot matanya menatapku ragu.
__ADS_1
"Kita bikin pancake" bisikku.
"Boleh om." Andi mengangguk penuh semangat.
Kami berdua bekerja sama membuat sarapan,layaknya sebuah tim yang saling bahu membahu menuntaskan sebuah tantangan.
•••
"Alis itu siapa? dia bukan dari kalangan kita. Usianya bahkan lebih tua dari kamu. terlebih lagi--dia janda-- san, janda! Buka mata kamu! apa kata relasi bisnis jika mereka tahu, kamu menikahi wanita yang tak jelas asal usulnya!" Tante Ayu menatap sengit padaku.
Aku yang tengah duduk di salah satu sofa di ruang tengah, hanya membalas tatapannya dengan malas. bagiku tak ada seorang pun yang bisa menghalangi keinginanku untuk menikahi Alis. termasuk tante Ayu.
"Apa menurut tante asal usul itu penting? bagi Sandy, semua itu tak penting. Sandy mencintainya. itu sudah lebih dari cukup!" jawabku singkat.
Aku bangkit dan hendak menuju kamarku. tante Ayu yang berdiri di ambang pintu mendekat.
"Tante mohon! kamu jangan gegabah! jangan salah memilih seperti ayahmu." wajahnya nampak sedikit ragu.
"Papa Gak salah pilih. mama adalah wanita terbaik yang papa nikahi." desisku yakin.
"San, bagaimana dengan reputasi perusahaan? kamu akan menghancurkan semuanya?" Mata wanita itu menyalak.
Rasanya semua pertanyaan bodoh itu tak penting bagiku. Bahkan jika duniaku runtuh esok. aku akan tetap menikahi Alis.
"Tante keterlaluan!" aku berjalan meninggalkannya menuju kamar. Tante Ayu menatapku dengan sangat kecewa.
Entah mengapa, dia begitu tak menyukai Alis. padahal selama ini, dia yang membawa Alis ke rumah. dia yang meminta Alis untuk merawatku.
Sesungguhnya,aku sengaja mengutarakan niatku pada tante Ayu untuk melihat reaksinya. dan benar terkaanku. dia tak akan mudah menerima orang baru di rumah, terlebih lagi dia calon istriku.
Ada sedikit kekhawatiran terhadap hal itu, aku takut Alis takkan nyaman nantinya. bagaimana jika dia tak menerima pinanganku saat tahu tante Ayu tak merestui kami?
Aku sangat tahu bagaimana Alis, dia pasti akan merasa kecewa dan tak nyaman dengan sebuah penolakan apalagi oleh tante Ayu.
Ku lemparkan Jas ku di atas tempat tidur. lalu ku baringkan tubuhku di atasnya. ku pegang lutut kiriku,ada rasa sakit yang menjalar yang ku rasakan didalamnya.
Haruskah ku temui lagi dokter Hasan? atau ku suruh saja dia kemari? sekaligus untuk membicarakan niatku menikahi Alis? dia pasti akan bisa sedikit membantu.
• • • • •
__ADS_1