
Selepas Rahma dan Sinta pamit pulang, akupun mengantarkan mereka hingga ke depan teras. mereka pulang dengan menggunakan taksi yang mereka pesan.
Sebelum aku masuk, sebuah mobil tiba-tiba masuk dan berhenti tepat di halaman.
Aku menilik penasaran. rasanya aku kenal siapa pemilik mobil itu. dan ternyata benar, pak Ivan keluar dari dalam mobil tak lama setelahnya.
"Alis,..." panggilnya.
Niat hati ingin melarikan diri, aku malah diam mematung hingga dia memanggilku.
"Pak Ivan," sahutku ragu.
"Apa kamu baru saja menerima tamu? mereka pasti Sinta dan Rahma ya?!" terkanya
"Hm," aku mengangguk pelan
"Bagaimana kondisi kaki kamu?" tanyanya terdengar khawatir.
"Kaki saya baik-baik saja,"
"Oh iya, saya kebetulan lewat sini. ada berkas yang harus saya berikan untuk Sandy. saya tidak bisa kembali ke kantor karena ada urusan!" jelasnya sembari memberikan map berwarna biru itu padaku.
"Iya,baiklah. nanti saya sampaikan!" aku mengambilnya dengan segera.
"Tak perlu bersikap dingin begitu. saya bukan orang jahat yang harus kamu waspadai" sindirnya enteng.
"Maaf,saya tak bermaksud!" gumamku.
Pak Ivan melangkah mundur, Namun kemudian merogoh salah satu saku celananya dan berbalik menghadapku.
"Oh, satu lagi. bulan depan saya akan me-launching produk baru di kedai. jika tak keberatan, saya harap kamu bisa datang," tukasnya penuh harap.
Ku tatap kertas kecil di tangannya itu yang belum sempat ku ambil.
"Aisyah juga bertanya soal kamu. dia pasti akan senang jika kamu datang nanti!" jelasnya.
Aku menatapnya ragu,haruskah aku menerimanya???
"Ambilah! Anggap saja ini permintaan Aisyah. kamu tak perlu mempedulikan saya!" tandasnya meyakinkan.
"Baiklah. tapi saya tak janji soal ini" sahutku bingung.
Pak Ivan tersenyum manis setelah aku mengambil dua lembar kertas di tangannya itu. sedetik kemudian dia kembali berjalan menuju mobilnya dan meninggalkanku begitu saja.
Ku tatap dua lembar kertas itu. haruskah aku pergi kesana? kenapa rasanya aku begitu enggan untuk menyetujui permintaannya tadi.
•••
Malam ini aku menemani Andi di kamarnya. setelah dua tidur barulah aku kembali ke kamarku. suasana rumah terasa sangat sepi karena mas Sandy belum pulang dari kantor. di tambah lagi bu Ayu yang juga belum terlihat.
"Non, mau makan malam sekarang?" tanya bi Atun yang sudah kedua kalinya memintaku untuk makan malam.
"Nanti saja bi, saya nunggu mas Sandy." tukasku.
__ADS_1
"Tapi ini sudah jam 8 non,"
"Gak apa-apa bi. nanti saya ngambil sendiri ke dapur." jelasku.
"Jangan non. nanti non panggil bibi aja. kaki non Alis juga belum sembuh betul kan?" tukasnya cemas.
"Iya bi. terima kasih." ku langkahkan kakiku menuju kamar. hari ini rasanya capek sekali. apa mungkin karena aku terlalu banyak berjalan hingga sebelah kakiku yang menjadi tumpuan mulai terasa pegal.
Aku duduk di Sofa, membaca beberapa majalah yang memang sudah ada di atas meja sejak lama.
Membaca beberapa majalah rasanya bukan ide buruk. lagipula aku belum begitu mengantuk.
Ku lihat beberapa mode pakaian yang sedang Trend terlihat memenuhi halaman awal. dengan Merk yang sangat populer tentunya.
Salah satu model tas cantik sedikit mengusik perhatianku.
"Cantiknya," aku bergumam takjub.
"Tas sekecil ini, harganya 15 juta?" desisku tak percaya.
Aku menghela nafas berat. biasanya, dulu saat hendak berangkat bekerja, aku bisa melihat berbagai macam tas cantik dengan harga sangat miring. tapi saat itu, aku tak punya waktu berbelanja. bahkan untuk sekedar melihat-lihat.
Dan sekarang,aku bisa melihat-lihat sepuasnya semua tas cantik ini. bahkan Mungkin aku bisa memiliki salah satunya jika aku mau. hanya saja, itu harga yang terlalu mahal untuk sebuah tas menurutku.
Memakainya saja, pasti akan membuat orang lain tak berhenti melihat. batinku lagi.
Perlahan Ku lirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9. kenapa mas Sandy belum juga pulang. dan anehnya, diapun tak mengirimkan pesan padaku.
"Apa terjadi sesuatu?" pikirku sekilas.
"Mas Sandy masih di kantor?" tulisku singkat.
"Atau tanya Rahma aja ya!" Ku ulangi mengirim pesan pada Rahma. dia pasti tahu apa yang terjadi di kantor.
"Maaf lis, sepulang dari rumah kamu aku pergi belanja sama Sinta. jadi gak balik lagi ke kantor. mungkin pak Sandy ada meeting dadakan makanya Gak bisa ngabarin kamu lis," jelasnya
Aku terpaku cukup lama. benarkah seperti itu?
"Kamu gak usah khawatir! pak Sandy Gak mungkin selingkuh. hihii" balasnya lagi seakan menggodaku.
Aku menghela nafas panjang. mungkin benar juga apa kata Rahma. mas Sandy pasti sangat sibuk hingga lupa mengirimkan pesan padaku.
Ku simpan kembali ponselku di atas meja. dan kembali meneruskan aktivitasku. mencoba menyibukkan diri dan tak terlalu banyak berfikir.
Beberapa halaman majalah ku buka dengan cepat. hingga mataku menangkap sebuah tulisan yang cukup membuatku terpana.
"VINA, GADIS PEMALU YANG KINI SUKSES MENJADI SUPERMODEL!!!"
Seorang wanita cantik berbalut kain sutra berwarna merah dengan rambut menutupi wajah seakan tertiup angin.
Sekilas ku lihat tanggal terbitnya majalah ini, apakah ini majalah lama atau masih baru. sudahkah mas Sandy melihatnya? batinku tiba-tiba penuh dengan pertanyaan konyol.
Ini bahkan baru kemarin diterbitkan. sepertinya mas Sandy belum sempat membacanya. atau mungkin diam-diam sudah melihatnya?
__ADS_1
Jika belum, haruskan ku sembunyikan majalah ini? pikirku sekilas.
Ya Allah, kenapa aku jadi panik begini.
Ku tatap lagi potret cantiknya yang benar-benar sangat sempurna. bahkan jika ku ulang berkali-kali, aku tak bisa menemukan kesalahan sedikitpun padanya.
"Dia sangat cantik." desahku gusar.
Ku tutup cepat majalah itu dan ku letakkan di atas meja. kenapa tiba-tiba aku menjadi gelisah?
Apa mungkin jika suatu saat mereka bertemu kembali?
Tapi, bukankah Vina ada diluar negeri? mana mungkin mereka bisa bertemu? aku mencoba menenangkan pikiranku.
Ayolah Alis! jangan berpikir macam-macam. Mas Sandy tak mungkin melakukan hal yang kamu Takutkan! batinku bergemuruh.
•••
Pagi ini ku rasakan sekujur tubuhku terasa hangat. seperti sebuah selimut tebal yang membungkus tubuhku cukup erat.
Aku mengerjapkan mataku pelan,
"Mas Sandy." gumamku sedikit kaget. tak tahu sejak kapan aku tertidur dan ada di atas ranjang bersamanya.
"Hm," jawabnya lesu dengan mata yang masih tertutup rapat.
Aku melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 5 pagi.
"Apa saya ketiduran?" terka ku.
"Semalam kamu pulas sekali teh. saya tak berani membangunkan!" gumamnya kemudian.
"Mas Sandy pulang jam berapa?!" selorohku penasaran.
"Jam 11, saya sangat sibuk. sampai lupa mengabari kamu. Maaf sudah membuat kamu menunggu!" matanya terbuka pelan dan menatapku penuh sesal.
Aku terenyuh, hal bodoh yang ku khawatirkan tentangnya semalam rasanya terlalu kasar.
Aku tersenyum tipis, seraya membenamkan wajahku didadanya.
"Kenapa tersenyum?" gumamnya heran.
"Saya kangen.." desahku manja.
"Tolong jangan menggoda saya teh! saya masih mengantuk." rengeknya seakan tak kuasa menahan hasratnya.
Aku terkekeh kecil mendengar suara beratnya yang selalu menjadi candu bagiku.
"Mas Sandy tidur aja,saya temani sebentar lagi!" desisku pelan.
"I love you..." bisikknya kemudian.
Maafkan saya yang terlalu takut kehilangan kamu mas, Maafkan saya yang dengan tak sopan berpikir bahwa kamu akan berbuat buruk di belakang saya. Maaf....
__ADS_1
• • • • • •