
"Bawa pergi makanan kampung itu!" dengus bu Ayu.
Aku mematung kaku mendengar suaranya. ku lihat bu Atun tampak berjongkok untuk memungut dan membersihkan sup yang ku buatkan. Sebenci itu kah dia padaku?
"Lain kali, bawakan saya roti bakar atau yang lainnya." perintahnya tegas.
"Iya bu, maafkan Atun!" gumam bi Atun ketakutan.
"Dia pikir, dia bisa dengan mudah menjadi nyonya di rumah ini?" desis bu Ayu.
Mendengar kalimatnya, aku tak kuasa lagi menahan kekesalan. aku keluar dari dapur dan segera berjalan mendekati meja makan.
"Maaf bu, rasanya ibu sudah keterlaluan! kalo ibu tak suka dengan kehadiran saya, saya terima. tapi jangan sampai ibu membuang makanan seperti ini! lagipula, saya tak berniat menjadi nyonya di rumah ini!" tandasku tegas.
Bu Ayu terpaku cukup lama, dia menoleh pelan padaku lalu tersenyum remeh.
"Kamu pikir, saya akan percaya dengan ucapan kamu? setelah beberapa kejadian yang membuat citra perusahaan rusak hanya gara-gara kedatangan kamu? lalu sekarang, Sandy pun berani memutuskan kerjasama dengan relasi bisnis hanya karena membela kamu? benar-benar hebat kamu alis!" decihnya sinis.
"Bu, Selama ini saya tak berniat sedikit pun untuk merusak nama baik perusahaan. apalagi membuat mas Sandy bangkrut!"
"Tapi kamu sudah berhasil melakukannya!" desisnya.
"Saya mencintai mas Sandy tulus. dan saya harap, ibu bisa menerima kami!"
"Kamu jangan ngawur Alis. bagi saya, kalian hanya akan menjadi cerita lama. jika suatu saat Sandy menceraikan kamu!" gumamnya terdengar sangat menyakitkan.
"Ibu tak perlu khawatir! itu tak akan terjadi bu!" sahutku yakin.
BRAG!
Bu Ayu bangkit sembari menggebrak meja.
"Atun, bawakan teh ke kamar saya! kepala saya pusing" dengusnya seraya meninggalkanku yang masih berdiri mematung.
Aku mengepalkan tanganku kuat.
"Non, Gak apa-apa kan non?" tanya bi Atun cemas.
"Gak apa-apa bi," gumamku kaku.
Bodohnya aku! kenapa aku malah bersikap keras pada bu Ayu? bukankah aku ingin hubungan mas Sandy dan bu Ayu membaik. lalu kenapa sekarang Akupun ikut terseret menjadi musuhnya.
Aku menghela nafas lesu.
"Sini bi, biar saya bantu bereskan!"
"Eh, Gak usah non. bentar lagi selesai kok!"
"bi, tolong jangan kasih tau mas Sandy soal kejadian ini ya! saya gak mau mas Sandy ribut lagi sama bu ayu kaya kemarin!" pintaku.
"Baik, non." sahutnya
Mengharapkan orang lain bersikap baik pada kita, ternyata tidak mudah. padahal, saat awal aku mengenalnya dia adalah sosok yang sangat ku kagumi dan ku hormati. Bahkan aku tak pernah berpikir sedikitpun bahwa dia memiliki hati yang keras dan juga kejam.
Mungkin aku harus berusaha lebih keras lagi,aku harus lebih sabar lagi dalam menghadapi setiap perkataan kasar darinya.
•••
__ADS_1
Hari ini Andi memang masih belum di bolehkan masuk sekolah. bahkan mas Sandy sendiri yang meminta izin pada pihak sekolah.
"Ini sarapan pagi nya!" seruku seraya membawa makanan itu ke arah balkon.
"Waahh.. ini sup iga kesukaan saya teh!" selorohnya antusias.
"Hm, spesial buat kalian berdua!"
"Andi mau om papa suapin???" tanya mas Sandy kemudian mengambil mangkuk dan sendoknya.
"Iya." angguknya cepat.
Aku tersenyum lega. biarpun tadi terjadi perdebatan diruang makan. setidaknya aku masih bisa menemukan cara untuk tersenyum bahagia. yaitu melihat mereka berdua seperti ini.
Ku tatap jauh ke arah luar, mentari pagi pukul 7 begitu hangat dan sangat berkilau. Ku hirup lagi dalam-dalam udara sejuknya. aku harus bisa menghadapi masalahku dengan bu Ayu. dan aku harus bisa membuat mereka berbaikan. batinku tiba-tiba serasa berkobar penuh semangat.
"Sayang, kamu gak sarapan?" ajak mas Sandy.
Aku menoleh cepat dan segera duduk di dekat mereka. menikmati pagi ini dengan penuh cinta dan semangat. Aku tak boleh menyerah. karena aku masih punya dua orang yang sangat berharga dalam hidupku.
Selesai makan aku segera merapikan piring kotor yang ada di atas meja.
"Aaaa...!" mas Sandy terlihat membujuk Andi meminum obatnya.
"Manis kan?" tukasnya.
"Manis.." jawab Andi dengan senyum kecilnya setelah menelan obat itu.
"Kamu mau kemana teh?" tanyanya saat aku hendak pergi.
jelasku.
"Saya hari ini tak pergi ke kantor." tukasnya nampak berfikir sejenak.
"Om papa kalo mau kerja. pergi aja! Andi Gak apa-apa kok" Andi menengadah menatapnya lekat. jelas sekali anakku berbohong. matanya seakan tak menginginkan mas Sandy pergi.
Mas Sandy terlihat mengecup keningnya.
"Om papa capek! mau istirahat aja di rumah temenin Andi," jawabnya seraya tersenyum.
"Mas Sandy serius?" tanyaku tak yakin.
"Apa kamu tak suka kalau saya ada di rumah? saya jadi curiga? jangan-jangan memang benar, kamu sering menelpon pria lain selama saya kerja?" godanya dengan tatapan sinis.
"Ish.. Dasar aneh!" dengusku ketus.
"Mama baik kok om. Gak pernah telepon siapa-siapa!' Andi tampak membela ku. dia tak tahu saja jika kami berdua hanya bercanda.
"Iya sayang. om papa bercanda aja kok. om papa tahu, mama kamu kan cintanya cuma sama om papa!" tukasnya penuh percaya diri.
"Ya sudah. kalian istirahat saja disini. saya mau ke dapur." aku kabur sebelum mas Sandy memperpanjang lelucon anehnya.
Aku turun ke dapur dan tak berapa lama, ku dengar suara deru mobil keluar dari garasi.
"Apa bu Ayu pergi?" tanyaku pada bu Atun yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Iya non, baru saja! emang kenapa non?" tukasnya.
__ADS_1
"Enggak. tadinya, saya ingin minta maaf sama bu Ayu."
"Ya ampun non, kenapa malah minta maaf sih. bu Ayu kan jahat!" selorohnya tampak tak setuju.
"Jangan gitu bi. biar bagaimanapun dia itu tante nya mas Sandy. saya harus menghormati dia seperti orangtua saya sendiri."
"Orang tua non Alis pasti sangat bangga sama si non. karena non Alis punya hati yang sangat tulus!" sanjungnya.
Meski sanjungan itu terdengar bagus. tapi tetap saja tak bisa mengurangi rasa gelisahku saat ini.
"Bi, apa tanaman yang ada di halaman belakang sudah selesai di tanam semua?"
"Belum non, memangnya kenapa? non mau bantu nanam juga"
"Iya, saya bosen bi. kebetulan Andi lagi main sama mas Sandy. jadi saya bisa tenang bekerja." timpalku.
"Tapi hati-hati loh non. jangan sampe luka-luka. nanti pak Sandy marah" godanya.
"Tenang aja bi. aman kok!"
Aku segera beralih menuju halaman belakang. setidaknya untuk sedikit melupakan kepenatanku, aku harus menyibukkan diri dirumah.
"Susi... saya boleh minta bibit tanaman hiasnya?" Aku mendekati susi yang tampak serius bekerja.
"Eh, si non kok kesini sih?" selorohnya kaget.
"Saya bosen diem terus!" bisikku.
Ku ambil beberapa bibit tanaman hias seperti Aglonema, monstera Dan Lainnya ke dalam satu wadah besar. lalu ku pindahkan pada pot-pot besar yang sudah di isi dengan tanah dan humus.
"Wah, non Alis pinter berkebun juga ternyata ya" celetuk Susi.
Aku hanya tersenyum. tak tahu kah dia siapa aku? aku bahkan bisa mengerjakan pekerjaan kotor dan lebih berat dari ini. bahkan jika ku ceritakan, mungkin dia juga tak akan percaya.
"Ini terlalu mudah sus," desisku enteng.
Drrrtttt...
Drrrtttt...
Ah! siapa juga yang menelepon Disaat tanganku kotor begini. batinku.
Dengan cepat ku simpan peralatan berkebunku dan segera meraih ponselku yang ku simpan di meja.
"Rahma.." sahutku saat tahu siapa yang menelepon.
"Jangan lupa janji kita, nanti siang ya" celetuknya lalu mematikan teleponnya begitu saja.
Aku berdecak kesal. apa-apaan gadis ini? meneleponku hanya untuk bicara begitu saja. tapi kemudian aku sadar akan janji kami bertemu siang ini.
Haruskah aku pergi?
Tapi bagaimana caranya aku meminta izin pada mas Sandy. dia pasti bertanya banyak hal padaku nantinya.
Aku memijat kepalaku pusing.
• • • • •
__ADS_1