
Tengah Asik berbincang tiba-tiba Pak Ivan keluar dari ruangan kerjanya dengan mengenakan jas kerjanya seperti terburu-buru.
Aku dan Rahma yang melihatnya dari kejauhan. Beruntunglah dia tak melihat kami yang tengah mengobrol.
"Itu pak Ivan mau kemana ya? buru-buru banget!" gumam Rahma.
"Mungkin ke kantor." jawabku enteng.
"Kalau di lihat-lihat, pak Ivan juga gak kalah tampan dari Pak Sandy ya. sayangnya dia punya julukan playboy sih. jadi citranya udah jelek duluan." tuturnya seakan menyayangkan hal itu.
"Mau dia playboy atau bukan. gak ada urusannya sama kita." aku mendelik menatap Rahma.
"Ya tapi kan, setidaknya kalau dia baik. orang akan lebih menghormatinya." timpalnya lagi.
Aku menatap jauh ke luar jendela kedai. Pak Ivan bilang, jika mas Sandy lah yang sering gonta-ganti wanita. tapi Rahma juga mengatakan hal yang sama tentang pak Ivan. apa mereka berdua ini sebenarnya adalah dua playboy yang sedang bermusuhan.
"Hufth!' aku mendesah frustasi memikirkan hal yang terlihat masih semu itu.
"Kenapa sih? kamu kayanya stres banget Lis?" selidik Rahma yang menyadari jika aku sedang tak baik-baik saja.
"Mungkin aku sedikit capek!" aku memijat tengkukku lesu.
"Kayanya Kamu terlalu banyak bekerja. Kamu harus istirahat lis, jangan sampe kamu sakit." tukasnya mengingatkan.
"Kalau aku istirahat sekarang. besok mau makan apa?" desisku sinis.
"Kamu nikah aja sama pak Sandy! dia kan kaya raya!" Rahma menatapku antusias.
"Ck!" Aku membelalak malas mendengar ide gila nya itu.
"Oh iya, gimana kabar ayah tiri kamu?" tanyaku kemudian.
Rahma menyeruput minumannya cukup lama seperti tengah berfikir.
"Untuk hari ini aku aman. kata yang punya kontrakan dia gak ada balik lagi kesana. aku juga udah ganti nomer HP ku. semoga saja dia gak mencariku lagi." tuturnya tampak masih khawatir.
Aku tahu, sebenarnya Rahma pasti masih merasa tak tenang dengan keadaannya sekarang. hanya saja dia berusaha untuk menyembunyikan ketakutannya itu.
"Terus kamu sendiri Gimana? katanya mau cerita soal pertemuan kamu dan pak Sandy?" selidiknya.
"Gimana ya. bingung juga mau cerita dari mana. yang jelas,awalnya aku gak tahu kalau dia itu bos di perusahaan kita." tuturku sedikit mengingat bagaimana awal kami bertemu.
__ADS_1
"Terus.. terus...!" desaknya penasaran.
"Kamu ingatkan aku pernah kerja di kompleks elit itu. aku kerja di rumah mas Sandy. dan aku merawat dia saat dia kecelakaan."
"Ya ampun! jadi selama kamu merawat dia. kamu Gak tahu kalo dia itu bos kita? parah banget sih kamu Lis!"
"Habisnya mau Gimana lagi. kan kamu tahu sendiri,aku gak pernah ketemu sama Mas Sandy selama di pabrik?"
Rahma tampak mengingat sesuatu.
"Waktu itu kan, pak Sandy pernah berkunjung ke pabrik. semua karyawan perempuan sampe heboh banget! bisa-bisanya kamu Gak tahu!" Rahma menatapku tak yakin.
"Sumpah! aku gak pernah tahu soal itu. aku sih fokus kerja. emang kamu pernah ajak aku buat ngeliat mas Sandy pas dia berkunjung ke pabrik? Gak pernah kan?!" tanyaku
"Iya juga sih. Lagipula pak Sandy Gak pernah berkeliling ke tempat kerja kita. dia cuma datang ke pabrik untuk rapat,setelah itu balik lagi ke kantor!" jelasnya sembari mengingat.
Obrolan kami berakhir dengan membicarakan masalah pekerjaan dan hal-hal tak penting lainnya. hingga Rahma pamit karena jam istirahatnya sudah berakhir.
•••
Semua pekerja tampak sibuk menjelang sore hari setelah istirahat berakhir. Karena pelanggan baru didominasi oleh anak-anak remaja yang baru pulang sekolah. bahkan suasana terasa lebih ramai seperti di pasar tradisional.
"Kalo tiap hari rame begini,seru banget ya!" celetuk Aisyah yang tampak masih semangat.
"Seru apanya! Aku capek,mana gerah banget!" protesnya mengelap keringat di wajahnya.
Aku hanya mengulum senyum memperhatikan kedua gadis manis ini.
"Ayo semangat! kerja..kerja..!!!" Tukasku sembari melayani pelanggan yang baru saja datang.
Bagiku semua pekerjaan ini adalah berkah yang luar biasa yang masih bisa ku dapatkan. tak ada kata lelah atau malas untuk menjalaninya.
Meskipun diluar sana banyak hal yang terasa berat untuk ku jalani. tapi setidaknya, aku masih punya pekerjaan ditengah kondisi sulit seperti ini.
Bukankah diluar sana, masih banyak orang yang mencari pekerjaan tapi masih belum mendapatkannya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Aku yang baru saja selesai membersihkan meja,hendak beranjak menuju ruang ganti.
"Maaf pak kami sudah tutup!" tukas Aisyah dari arah depan.
Aku tidak terlalu memperhatikan siapa yang datang. dan fokus melepas apron ditubuhku.
__ADS_1
"Maaf,saya mencari Alis Anjani!" Tukasnya membuatku seketika menoleh kaget saat mendengar namaku disebut.
Pria tampan itu tersenyum menatapku sembari berdiri di ambang pintu. sontak ucapannya membuat semua karyawan menoleh padaku. termasuk Aisyah yang tampak bertanya-tanya.
"Mas Sandy," gumamku terperangah.
Aku sama sekali tak pernah menyangka jika mas Sandy akan datang menjemputku hingga ke tempat kerja. dan jujur saja sikapnya itu sungguh membuatku sangat terharu.
"Tolong jangan lama-lama sayang!" celetuknya enteng sembari memilih kursi untuk duduk.
Tentu saja sikap manisnya itu membuat karyawan riuh menyoraki kami.
"Ciehhh, kak Alis! dijemput pangeran!" seloroh Metta gemas.
"Itu pacar kak Alis? serius?" Ikhsan berbisik padaku.
Aku menyeringai menatap Ikhsan yang sepertinya juga kaget dengan kedatangannya. Tanpa banyak bicara Aku bergegas menuju kamar ganti. merapikan apronku dan menyabet tas ku secepat kilat.
Aku keluar dari ruang ganti. dan entah kenapa aku merasa seperti semua orang sedang melihat ke arahku.
"Metta, Aish. kakak pamit duluan ya!" tukasku segera.
"Selamat berkencan!" bisik Aisyah coba menggodaku.
"Ditunggu ceritanya besok!" seru Metta.
"Dasar anak-anak nakal!" desisku melirik sinis pada keduanya. dan mereka hanya menanggapiku dengan kekehan geli.
Aku berjalan pelan mendekati mas Sandy. malu rasanya di lihat banyak orang di kedai. beruntunglah kedai sudah tutup. hingga tak ada satu pelangganpun yang melihat hal ini.
"Sudah selesai?" mas Sandy mengelus kepalaku lembut.
AHHH! apa itu? bahkan aku masih syok dengan kedatangannya. sekarang dia tiba-tiba bersikap manis padaku. Apa aku sedang bermimpi?
"Mas Sandy kenapa?" gumamku pelan
"Saya kangen kamu teh!" bisiknya sembari mencondongkan tubuh jangkungnya ke arahku.
"Wahhhh! tolong hargai para jomblo dong!" Teriak Aisyah
"Lebih baik kita pulang aja!" aku menarik mas Sandy keluar dari kedai.
__ADS_1
Mas Sandy mengulum senyum melihat tingkahku yang tampak sangat gugup ini. Dia memang selalu bersikap manis, dan aku mulai terbiasa. tapi jika dia melakukannya didepan orang banyak,itu lain cerita. bahkan aku tak sanggup menyembunyikan wajahku yang mulai bersemu merah karena malu.
• • • • • •