PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•30


__ADS_3

Ketika kamu mulai meragukan satu hal. Percayalah, Itu adalah bentuk kewaspadaan dirimu terhadap sebuah ancaman!


Tapi bagaimana dengan keraguan soal Hati? soal cinta? Apakah itu juga sebuah ancaman?


Pahamilah, dalam cinta tak pernah ada ancaman sedikitpun.


Langit malam ini begitu bersih setelah sore tadi hujan lebat. Aku menutup pintu dan jendela. Ku dekati Andi yang tengah mengerjakan PR nya.


"Udah beres PR nya nak?" tanyaku memeriksa hasil kerjanya.


"Belum ma! tinggal satu lagi!" sahutnya dengan pandangan fokus pada bukunya.


Aku mengusap kepalanya lembut, sembari ku perhatikan tugas yang dikerjakan nya.


Drrtttt... Drrrttt...


Alarm ponselku bergetar,Aku segera menyabet ponsel itu. aku memang sengaja memasang Alarm pukul 8 malam.


Ku tulis sebuah pesan singkat,


#Selamat malam mas,


maaf mengganggu. saya cuma mau ingetin kalo ini waktunya mas Sandy minum obat!"


Ku kirimkan segera pesan itu, lalu kembali fokus menemani Andi.


"Mama ngirim pesan buat siapa ma?" tanya Andi yang sepertinya tahu apa yang barusan ku kerjakan.


"Mama kirim pesan buat majikan mama, yang lagi sakit." jelasku


"Majikan mama yang kasih Andi sepatu yah ma?"


"Iya sayang,"


"Ma, tolong dong bilang sama om nya, cepet sembuh! biar om nya bisa liat Andi pake sepatu itu!" pintanya.


"Nanti mama sampaikan ya sayang!" Sahutku ragu.


Aku menoleh pelan saat ku dengar ponselku bergetar lagi diselingi dengan pesan masuk dari 'nya'.


#Saya susah tidur teh! Gara-gara fisioterapi tadi pagi,sebelah kaki saya sakit!"


Aku menatap pesan itu agak lama. benarkah dia sakit? atau itu hanya akal-akalan nya saja? tapi,jika ku ingat kata-kata dokter Hasan kemarin. mungkin ini salah satu dampak kecelakaan yang dialami mas Sandy apalagi dia tak punya orangtua. mudah merengek dan kesal,tentu saja dia sangat butuh dukungan. pikirku.


#Ada obat pereda nyeri di nampan yang sudah saya siapkan! mas Sandy tinggal minum saja! jangan lupa di minum obatnya mas!"


#Oh iya, satu lagi. ada pesan dari Andi, katanya mas Sandy harus segera sembuh biar bisa liat dia pake sepatu pemberian mas Sandy waktu itu. SEMANGAT MAS!!!"

__ADS_1


Ku akhiri pesan ku dengan Emoji senyum yang tulus. semoga saja dengan itu mas Sandy jadi bersemangat untuk sembuh.


PING!


#Sampaikan terima kasih saya pada Andi, karna sudah menyemangati saya teh!"


#Saya minum obat sekarang!"


(diiringi sebuah foto berisi telapak tangan yang tengah memegangi beberapa jenis obat).


Aku tersenyum. mudah sekali ternyata membujuk mas Sandy. batinku.


•••


Pagi ini Entah kenapa terjadi kemacetan yang lumayan parah. bahkan hampir 15 menitan angkutan umum yang ku tumpangi tak dapat bergerak. beberapa penumpang bahkan memilih turun dan berjalan kaki. Aku mengawasi jam ditanganku.


"Masih lama ya mang?" tanyaku pada supir didepan.


"Wah kurang tahu neng, tapi kata teman saya ada kecelakaan dipertigaan. makanya macet!" jelasnya.


Aku dan penumpang lain nampak kebingungan. Haruskah aku jalan kaki, tapi dari jalan ini menuju rumah mas Sandy lumayan jauh. Atau aku tunggu saja hingga macetnya berkurang? pikirku gamang.


"Mang saya turun aja yah! kesiangan nih sekolahnya!" gerutu salah seorang penumpang yang berseragam sekolah SMA itu.


"Mang maaf! saya juga turun ya!" Aku memberikan dua lembar uang kertas dua ribuan.


Aku turun dari mobil dan berjalan cepat menyusuri trotoar. dan benar saja, kemacetan mengular hingga beberapa ratus meter kedepan.


Mendekati pertigaan,ku lihat sebuah motor tergeletak dengan kerusakan cukup parah. sementara seorang korban tengah dibawa menuju ambulan oleh beberapa orang polisi dan warga.


Tatapanku berpendar memperhatikan orang-orang disekitar tempat kejadian. Namun ada satu pemandangan yang tiba-tiba mengusikku.


Tubuh yang tergeletak bersimbah darah, jaket kulit berwarna hitam,serta sepatu yang jelas sangat ku kenal. Aku memincingkan mata dan mendekat ragu. Ingin sekali ku dekati tubuh itu, untuk memastikan benarkah apa yang ku lihat.


Seorang polisi mendekati jenazahnya, lalu membalikan posisi tubuh yang sejak tadi menyamping itu.


"Mas Rizal!" Jeritku kaget.


Seketika tubuhku bergetar hebat dan kemudian terasa lemas,penglihatanku menghitam dan gelap......


•••


Tak banyak hal yang ku ingat selama bersamanya. yang ada hanyalah sisa-sisa air mata dan pertengkaran.


Aku benci dirinya, aku benci caranya memperlakukan ku dengan buruk, Aku benci cara dia bicara padaku dengan kasar, aku benci tatapan matanya yang menatapku seperti budak ******.


Tapi aku juga iba padanya, saat tubuhnya berlumuran darah segar, saat matanya sayu menatapku, saat mulutnya menganga memanggil namaku dengan tersengal. ingin ku maafkan semua kesalahannya padaku ingin ku sudahi kebencian ini, dan seandainya aku bisa memilih,...

__ADS_1


aku ikhlas menerima semua rasa sakitku asalkan dia hidup kembali.


Bahkan dalam waktu yang begitu tipis dengan kematian, aku tetap memanjatkan do'a, agar dia bisa berubah dan tak menyakiti kami lagi.


Sebuah keraguan dan penyesalan,


Dua hal besar yang kini mengganjal dibenakku.


kemana harus ku sembuhkan luka batinku?


Sampai kapan lukaku akan terus terasa berdenyut saat ku ingat tentang dirinya dan semua kenangan pahitnya?


Aku mengerjapkan mata perlahan, sayup-sayup ku dengar beberapa orang tengah mengobrol tapi entah siapa.


Aku menoleh ke arah samping, ku lihat Bu Dewi tengah memijat-mijat tanganku dengan minyak angin. aromanya mampu menusuk indra penciumanku.


"Alis, alhamdulilah kamu sudah bangun! ya allah, kamu kenapa Lis?!" tanyanya Cemas.


Aku menatap Bu Dewi Bingung,


"Kata orang-orang kamu berteriak manggil nama Mas Rizal? Istigfar lis, dia sudah tenang disana!" jelasnya yang akhirnya mengingatkan ku akan kejadian tadi pagi dijalan.


"Astagfirullah hal adzim..!" Gumamku pelan.


"Minum dulu Lis!" Suara Teh Ani terdengar jelas sembari memberiku air.


"Kok saya bisa ada disini bu?" tanyaku kemudian.


"Tadi teh Ani pulang dari pasar,dia kaget pas liat orang ngumpul-ngumpul dan bawa kamu ke pinggir. dia kira kamu korban kecelakaan!" jelasnya cemas.


"Iya lis, untung saya turun dari motor! dan tahu kalo itu kamu, karna saya liat baju yang sering kamu pakai!" Timpalnya lagi.


"Terima kasih banyak teh!" tukasku lega.


"Jam berapa sekarang bu?" Aku terkesiap, seharusnya aku ditempat kerja sekarang.


"Udah! kamu gak usah masuk kerja dulu! kamu istirahat! tadi ibu sudah telepon Bi Marni. ibu bilang kamu pingsan dijalan! jadi dibawa pulang ke rumah!" jelasnya


Aku termangu. bagaimana dengan terapi mas Sandy? Pasti sekarang dia sedang menungguku? Aku menoleh sekeliling ku.


"Ini..! kamu nyari HP kamu lis? dari tadi bunyi terus! coba dilihat siapa tahu penting." Bu dewi menyerahkan ponselku.


#Teh...?"


#Teh Alis dimana?"


#Jangan bilang kalo jalanan nya macet lagi?"

__ADS_1


15 Missed called......


• • • • • • •


__ADS_2