
"Apa saya terlambat?" aku menatap ketiga orang itu.
"Belum kok kak. pembukaan kedainya setengah jam lagi. kakak bisa siap-siap dulu!" jelasnya padaku.
"Syukurlah!" aku menghela nafas lega.
"Oh iya,kak. kenalkan ini Metta dan Ikhsan. mereka teman seperjuangan saya!" Tukasnya memperkenalkan kedua temannya. jika dengan Ikhsan aku sudah pernah bertemu waktu itu. untuk metta aku baru pertama melihat gadis berkacamata ini.
"Salam kenal." Aku mengulurkan tangan ramah. baru kali ini aku bekerja bersama anak-anak muda yang usianya jauh dibawahku.
"Ayo kak, saya antar kakak ganti pakaian. sebentar lagi bos kami datang!" ajaknya bergegas.
Aku masuk ke dalam kedai yang memang sudah ditata sangat rapi. beberapa orang pekerja lain tampak sibuk mempersiapkan diri.
"Wah! tempatnya memang sesuai dengan Style anak muda Yah!" aku memperhatikan seisi ruangan.
"Iya kak, konsep kedainya memang begini, Karna mangsa pasarnya adalah anak-anak muda."
"Saya jadi merasa paling tua!" aku menyeringai malu menatap Aisyah.
"Kakak sama sekali gak keliatan tua kok. justru kakak akan jadi kakak angkat kami dikedai ini deh." jelasnya antusias.
Aku tersenyum ringan meski Alasan Aisyah terdengar aneh dan terlalu polos.
•••
Setengah jam sudah kami menunggu. Aku bahkan tidak menyadari bahwa semudah ini bekerja menjadi pelayan kedai. tak ada Interview atau semacamnya. bahkan aku tak tahu siapa orang yang merekrut anak-anak muda ini.
Sesekali ku bantu mereka merapikan perabotan yang masih terlihat berantakan. tentu saja untuk hal seperti itu aku sudah terbiasa.
15 menit menjelang pembukaan, pintu kedai kemudian di buka. beberapa orang yang sudah datang segera merangsak masuk memenuhi kursi yang sudah kami sediakan. dan situasi yang cukup ramai membuatku sedikit merasa gugup. Metta dan salah seorang gadis lainnya menyiapkan pita panjang didepan pintu kedai untuk acara gunting pita.
"Sebentar lagi, Bosnya datang kak!" bisik Aisyah padaku.
Dan benar saja,tak lama dua mobil mewah datang beriringan lalu terparkir pinggir jalan. Beberapa orang yang di dominasi anak muda tampak antusias dan penasaran. Begitupun dengan diriku.
Ikhsan tampak segera membuka pintu,
Aku memperhatikan dengan seksama seperti apa bos kami ini.
"Pak Ivan!" aku bergumam kaget. saat melihat pria berpostur jangkung itu adalah orang yang ku kenal.
"Kak Alis kenal?" Aisyah menoleh padaku. Aku menggeleng pelan. tentu saja aku tak mau semua orang tahu jika aku mengenal pria flamboyan itu.
Pak Ivan berjalan dengan rombongannya dan berdiri didepan pintu setelah sebelumnya Ikhsan berpidato sebagai pembuka.
Para gadis dan pengunjung lainnya berbisik-bisik tentang sosok Bos yang menurut mereka tampan itu.
__ADS_1
Sepanjang Acara aku hanya menatap nanar pada pria itu. bagaimana bisa dari sekian banyak tempat, aku harus bertemu disini sebagai bos dan karyawan. benar-benar sangat memalukan. Pak Ivan terlihat menyambangi meja kami,setelah sebelumnya berfoto bersama pengunjung yang beruntung sebagai pelanggan pertama dikedai kami.
"Selamat atas pembukaan kedainya pak!" seru beberapa pekerja sembari bergantian menyalaminya.
"Selamat pak!" tukas Aisyah.
Pa Ivan tersenyum penuh makna seraya berjalan ke arahku. Aku menatapnya Kaku. haruskah aku berpura-pura tak mengenalnya. atau aku jujur saja? batinku.
"Selamat bekerja!" Pak Ivan mengulurkan tangannya santai seakan baru mengenalku. Aku segera membalas jabatan tangannya singkat.
"Terima kasih pak!" sahutku ragu.
"Silahkan Pak! kami harap bapak mau menyampaikan sedikit ucapan untuk para pengunjung baru kita!" Ikhsan memberinya mikrofon padanya.
"Perhatian semuanya! sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih untuk kalian yang sudah bersedia hadir dipembukaan kedai kita yang merupakan cabang ke lima di kota besar ini. Dan untuk para pekerjaku, kalian sudah menyiapkan yang terbaik. saya sangat suka kerja keras kalian semua atas konsep kedai ini. terlihat sangat Modern dan indah. saya harap kalian semua menikmati jamuan kami" Tukasnya yang kemudian disambut riuh oleh tepuk tangan dari para pengunjung kedai.
Setelah berpidato Pak Ivan terlihat masuk ke ruangan barunya.
"Pak Ivan hebat Yah kak! masih muda, kaya juga sangat tampan." bisik Aisyah.
Aku hanya mengangguk tanpa menanggapi pujian Aisyah itu.
"Kak! kakak dipanggil pak Bos!" Ikhsan menghampiriku.
Aku menatap keduanya bingung.
"Kemana?" tanyaku tak paham.
Aku cukup lama terdiam sebelum akhirnya ku putuskan untuk menemuinya. ku tinggalkan Ikhsan dan Aisyah dengan tatapan penuh tanya.
Aku mengetuk pintu pelan.
"Masuk! sahutnya dari dalam.
Aku melangkahkan kakiku ragu. ku tatap pak Ivan yang tampak serius membuka berkas-berkas yang ada dimejanya.
"Duduklah!" perintahnya lagi.
"Baik,Pak!"
"Alis Anjani. nama yang sangat bagus" pak Ivan menatapku seakan dia telah menemukan mangsa buruannya.
"Saya tak tahu jika kedai ini adalah milik pak Ivan," selorohku gugup.
"Saya sengaja menyembunyikan identitas saya, untuk menangkap mangsa besar!" Tukasnya tajam
Dan aku benar-benar menyesali kata-kata yang keluar dari mulutku barusan itu.
__ADS_1
"Ada apa bapak memanggil saya?" tanyaku memberanikan diri. aku tak boleh terlihat lemah didepan pria hidung belang seperti dia. bisa-bisa dia akan dengan mudah memperdayaku.
"Saya hanya ingin melihat kamu saja. saya pikir saya salah orang. ternyata tidak. Oh iya,apa majikan kamu sudah sembuh? dia tidak marah kamu bekerja disini? bersama saya?" selidiknya.
"Saya rasa, ini bukan saatnya membahas masalah itu. saya kemari untuk bekerja!" sahutku sinis.
Pak Ivan tampak mengurai senyuman.
"Ya ampun! pantas saja Sandy mengejar kamu mati-matian. ternyata memang semenyenangkan ini" jelasnya terkekeh.
Aku menilik raut wajahnya tajam. apa maksud dari perkataannya barusan itu.
"Maksud pak Ivan apa? apanya yang menyenangkan?" desakku tak suka dengan kalimat-kalimat yang di Lontarkannya terhadapku.
"Kamu tak usah khawatir. saya tidak ada maksud apapun. lagipula sekarang, kamu sudah menjadi karyawan saya. bagi saya itu sudah cukup. sangat cukup!" Pak Ivan memainkan sebelah alisnya.
Aku bangkit dari tempat dudukku.
ku tatap sengit dirinya.
"Jika tak ada hal lain. saya Permisi pak!" pamitku ketus. ku tinggalkan pak Ivan tanpa menoleh lagi. muak rasanya melihat orang yang terus menerus tertawa pada hal yang sama sekali tak kupahami. dia sedang mengejekku atau mengejek mas Sandy? sepertinya pak Ivan memang memiliki masalah pribadi dengan mas Sandy. lalu kenapa? kenapa dia seolah menjadikan ku alat untuk menyerangnya? Aku menghela nafas menahan kesal didadaku.
"Kak,gimana? apa pak Ivan memberikan bonus langsung pada kakak?" tanya Aisyah dengan polosnya.
Aku menatap gadis itu bingung.
"Enggak. dia cuma tanya soal pengalaman kerja kakak aja kok!" tukasku berbohong.
"Oh, aku pikir pak Ivan memberikan bonus secara langsung!" desahnya lesu
"Kita belum kerja. mana bisa minta bonus! Ayo,sekarang waktunya kerja!!!" aku mendorong Aisyah menuju pentri.
Ku abaikan sejenak soal pak Ivan itu. tugasku sekarang adalah bekerja dengan tekun agar tak mengecewakan para pelanggan kami yang sudah menunggu untuk dilayani.
Kedai yang baru dibuka ini mengusung tema komik dan anime. beberapa poster karakter di dinding bahkan terlihat lucu dan manis. benar-benar sangat jauh dengan karakterku.
Ruangan yang didominasi warna biru dan pink ini memang sangat disukai oleh anak muda sekarang. terutama para gadis. bahkan kedai kami sengaja menyediakan Spot untuk berfoto.
Makanan yang kami hidangkan pun tak jauh dari makanan-makanan yang sedang digemari anak muda.
•••
Sudah satu jam aku berkeliling mengantarkan makanan pada setiap meja pelanggan. pekerjaan yang cukup menguras tenaga. bahkan sepertinya ini tak akan segera berakhir. Karna semakin siang, pelanggan yang datang semakin banyak.
Aku duduk dipojok dapur untuk sekedar melepas dahaga.
Ku rogoh ponselku yang ku simpan dibalik apron merah yang ku kenakan. sekedar melihat apa hari ini mas Sandy mengabariku? atau mungkin bertanya tentang Andi.
__ADS_1
Aku menatap lesu ponsel ditanganku. tak ada pesan apapun darinya. betapa bodohnya aku yang mengharap dia menghubungiku setelah ku buat dia kecewa karna aku tak pernah bisa menjawab pernyataan cinta darinya.
• • • • • •