
Pagi menjelang siang di kantor.
" Zaky, Wajah mu terlihat kesal dari pagi tadi. Ada apa?" Tanya Lila.
"Tidak ada apa apa. Apa Robi sudah memberitahumu hari ini aku akan ke desa?."
"Sudah. Tapi untuk apa?"
" Aku ingin membangun sekolah di sana, aku akan melihat lokasinya, selanjutnya urusanmu dan Robi.
" Sekolah?"
"Iya, Kenapa?"
"Maksudnya di bangun untuk desa? bantuan?"
"Iya. Aku bahkan sudah mendirikan 12 sekolah di pelosok desa."
Lila tersenyum.
"Dia sangat dermawan, mengapa dia begitu sempurna.." Lila berucap dalam hati.
" Istriku, Ini idenya, Dia sangat murah hati."
Senyum itu hilang berganti wajah datar.
" Mau menemaniku?"
"Apa?"
" Menemaniku ke desa."
" Apa boleh?"
"Tidak mau ya sudah."
" Aku kan belum menjawab."
"Aku pergi dengan Robi saja."
"Aku mau ikut."
" Tidak Usah."
"Aku ikut!!!"
Zaky tersenyum.
"Yasudah, setelah makan siang kita berangkat."
Lila pun tersenyum.
---
Di cafe di depan kantor, Robi sedang makan siang dengan beberapa karyawan lainnya.
" Robi, sebenarnya yang sekretarisnya Pak Zaky itu kamu apa Lila sih. kelihatannya Pak Zaky lebih dekat dengan Lila daripada kamu." kata seorang wanita.
__ADS_1
" Hahaha.. kompor. Aku sempat libur beberapa kali, jadi tugas kantor aku serahkan padanya. Aku malah harus berterima kasih padanya."
" Ya.. hanya saja aku sempat melihat mereka makan siang bersama beberapa kali."
" Pulang bersama juga." sahut wanita lainnya.
" Bahkan Lila sangat sering berlama lama di ruangan pak Zaky."
"Hush kalian ini, bergosip tentang bos sendiri. Apa mau di pecat?"
Mereka memiringkan bibirnya.
" Kalian kan tau pak Zaky paling tidak peduli dengan wanita."
"Nah justru itu Rob, Dia sangat peduli dengan Lila. Pak Zaky tidak pernah menyapa kami. Tapi Lila bahkan di antarkan pulang."
" Sudah cukup. Pak Zaky tidak mungkin bermain api. Istrinya saja sangat Cantik dan baik."
"Iya sih, Aku pernah melihatnya sekali dalam peresmian Apartement. Memang cantik sekali dan ramah pula. Tapi kenapa tidak pernah ke kantor lagi. Aku bahkan sudah lupa wajahnya."
"Dia banyak urusan penting daripada pamer di depan kalian. Sudah bergosipnya. Makanlah."
Dalam hati Robi berpikir sendiri. Apa benar Bosnya menyeweng. Tapi mereka memang tampak dekat akhir akhir ini. Lila orang yang supel, mungkin saja pak Zaky tidak enak mengabaikannya, tapi kalau sampai makan bersama? pulang bersama? ya Tuhan! Tiba tiba Ia terbayang wajah istri bos nya yang seperti barbie itu sedang menangis.
"Robi! Lihat tuh di sana!" Karyawan wanita tadi menunjuk ke mobil di depan cafe. Zaky dan Lila masuk ke mobil bersamaan.Mobil kemudian melaju.
Robi berpikir keras. Dalam hati Ia berguman " Mau kemana mereka? Bukankah Pak Zaky akan ke desa? Apa mereka pergi bersama kesana? Itukan jauh sekali. Apa ibu tahu?" dan masih bnyak lagi pertanyaan Robi. Semua hilang di telan riuhnya para teman wanitanya yang menuntut pembenaran.
---
Zaky dan Lila tiba di sebuah lahan kosong. Mereka sudah di tunggu pak RT dan kepala desa setempat. Zaky berkeliling dengan mereka melihat lahan yang akan di bangun sekolah.Lila menunggu di kedai tepi jalan raya. Hampir setengah jam mereka berdiri mengobrol di tengah lahan itu. Cuaca memang sedikit mendung.
" Terima kasih bu, Bapak bilang ini semua keinginan ibu." Lila mengangguk tersenyum getir kemudian menoleh ke arah Zaky. Zaky datar saja. Mereka pun pergi.
Lila menghampiri Zaky, membawa botol air mineral.
" Haus? minum dulu. Lila menawarkan minuman. Zaky segera meraih botol itu dan meminum isinya. Keringat mengucur di pelipisnya. Lila dengan tanggap mengelap keringat itu sebelum mengenai mata Zaky.
"Eh maaf.." Tiba tiba Lila merasa tidak Enak. Zaky tersenyum.
" Bagus juga usahamu." kata Zaky.
"Eh Apaan si."
Zaky membuang botol kosong dan masuk ke mobil. " Ayo kita Pulang."
---
Butiran hujan membasahi kaca mobil Zaky. Hujan turun dengan deras. Zaky dan Lila berada di perbukitan minim penduduk. Langit sangat gelap. Ia hampir tidak bida melihat apa apa.
Brukk!
"Apa itu!" Zaky menghentikan mobilnya, mengambil payunh dan keluar dalam hujan. Ia melihat ke bagian depan mobilnya. Ternyata mereka menabrak sebongkah batu dan bannya pecah. Untung mobilnya tidak terjungkal pikir Zaky. Zaky melihat ke kanan dan ke kiri sama sekali tidak ada siapapun. Di puncak bukit Ia melihat cahaya lampu. Itu pasti sebuah motel pikirnya. Ia pun masuk kembali ke mobil.
" Lila bannya pecah. Di sini tidak ada siapapun. Ponselku Lowbat dan aku tidak bisa menelpon truk derek. Kita tidur di sini saja ya."
" Hah? Di sini? Di dalam mobil?"
__ADS_1
" Bukan. Maksudku kau lihat lampu yang di bukit itu? itu pasti motel. kita menginap di sana. Tapi kita harus berjalan kaki kesana."
" Tapi hujannya deras sekali. dan Aku pakai high heels. "
" Tidak ada pilihan. Lepas saja sepatumu. Ayolah."
Lila cemberut. Tapi mereka tidak punya pilihan. Zaky keluar dari mobil dan berdiri di pintu satunya sambil memegang payun. Lila akhirnya keluar.
" Astaga Dingin sekali."
" Sudahlah. Ayo jalan."
Zaky memeluk bahu Lila . Lila menenteng sepatunya. Mereka berjalan sepayung berdua. Mendaki bukit yang tidak terlalu tinggi. Lila seperti ingin menangis. Kakinya terasa sakit menginjak batu kerikil di aspal.
Cahaya semakin terang. Mereka akhirnya sampai di motel itu. Kaki keduanya basah hingga ke lutut. Zaky masuk menemui resepsionis. Lila duduk di sofa sambil memeluk tubuhnya sendiri, kedinginan. Telapak kakinya perih, jari kakinya bahkan ada yang berdarah, mungkin terluka terkena kerikil.
" Tersisa satu kamar pak, Untunglah bapak dan ibu suami istri ya.."
Zaky menoleh ke arah Lila. Lila mengangkat bahunya.
" Tapi kamarnya tersisa yang paling murah pak, tidak ada televisi, tidak ada AC."
" Ia, saya cuma perlu menginap."
Zaky membayar biaya penginapan dan Resepsionis memberikan kunci.
" Kamar nomer 11 ya pak."
" Baiklah."
Zaky menghampiri Lila.
"Ayo."
" Tidak mau."
" Kenapa? Jangan berpikir macam macam."
Zaky menggenggap tangan lila. Mereka menuju kamar nomer 11. Zaky membuka kunci kemudian masuk.
" Kamarnya jelek sekali." kata Zaky.
" Tidak ada pilihan, malam ini kita terpaksa tidur di sini." kata Zaky lagi.
Lila masih berdiri di dekat pintu.
" Apa? kamu tidak mau tidur di sini? apa aku harus mengantarmu lagi ke mobil?"
" Ti.. tidak."
"Jadi masuklah. Aku akan keluar sebentar membeli air." Lila beranjak menuju kasur. Ia duduk di sana, masih melipat tangannya kedinginan.
Zaky keluar. Ia pergi membeli air mineral di kantin motel, meminjam charger dan masuk ke kamar. Dilihatnya Lila duduk di pinggir kasur memeluk lututnya. Zaky berjongkok di depan Lila. Lila mengangkat kepalanya heran. Zaky menempelkan plaster ke jari kaki Lila yang terluka. Ia memberikan botol air mineral pada Lila. Lila pun meminumnya.
" Bukalah bajumu. "
" Apa?"
__ADS_1
" Apa nya yang apa? bajumu basah. ini pakai kemejaku." Zaky melepas jas nya dan memggangtungnya di belakang pintu. Kemudian Ia membuka kemejanya dan melemparnya ke sisi Lila. Ia melepas celana panjangnya hingga hanya tersisa celana pendek. Lila tertegun melihat pria bertelanjang dada di depannya.