SELINGKUH

SELINGKUH
Shopping Bersama Shapira


__ADS_3

Bibi Tuti membawa Mama bertemu Saphira yang tengah memberi susu Ben kecil. Setelah mengetuk pintu yang memang terbuka, Bi Tuti dan Mama masuk ke kamar bayi. Saphira tampak agak terkejut dengan kedatangan dua wanita paruh baya itu.


" Saphira, Ini Nyonya Elsa, Ibu Nyonya muda, Neneknya Ben kecil."


Saphira berdiri menggendong Ben kecil. Mama menatap Saphira dari rambut hingga ujung kaki dengan tatapan sinis.


" Kemarikan cucuku." kata Mama. Saphira maju dan memberikan Ben pada Mama. Mama mencium lembut Ben dalam dekapannya lalu menatap cucu laki lakinya dengan sendu. Bi Tuti pamit keluar meninggalkan mereka. Tatapan Mama kembali ke Saphira.


" Jadi kau Saphira, pengasuh cucuku?"


" Iya Nyonya."


" Kau cukup cantik. Tapi aku harap kau tahu dimana tempatmu. Kau tidak sebanding dengan putriku."


" Apa maksud Nyonya?" tanya Saphira meski ia sebenarnya tahu kemana arah perkataan Nyonya besar.


" Menantuku, semua tahu betapa menawannya dia, berwajah tampan dan seorang CEO, ayah yang sempurna dan suami yang baik. Mustahil kau tidak menaruh hati padanya..." tatapan Mama semakin menusuk.


Saphira menatap Mama nanar. Hatiku begitu mudah ditebak, pikirnya. Namun ia sama sekali tidak gentar.


" Ayolah, kau lebih dari itu Saphira. Tunjukkan harga dirimu sebagai wanita, jangan seperti pagar yang makan tanaman. Bersaing dengan wanita yang terbaring koma, itu sungguh tidak adil. Jangan jadi perempuan rendahan. Tempatkan dirimu!"


Saphira menggerakkan giginya mendengar penghinaan mama tentangnya yang memang benar adanya.


" Aku tahu kau mengasuh Ben dengan baik, maka jadilah pengasuh yang baik. Kau akan menerima bayarannya yang lebih dari cukup, jangan berharap mendapatkan majikanmu! Jangan diam, jawab aku! Apa kau paham?"


Meski sangat kesal dengan perkataan Mama, Saphira terpaksa mengangguk.


" Bagus kalau kau mengerti. Aku akan membawa Ben untuk sementara waktu. Aku akan memanggilmu nanti."


" Baik Nyonya."

__ADS_1


Mama keluar dengan lega setelah memperingatkan Saphira. Ia membawa Ben bersamanya menuju kamarnya. Ingin puas bermain bersama cucu laki lakinya, suaminya juga belum bertemu Ben.


Di kamar Saphira yang kesal lalu jatuh menangis. Tangannya mengepal geram. " Wanita tua yang menyebalkan. Mendengarnya menghinaku membuatku semakin ingin mendapatkan Tuan Zaky. Aku akan mencari cara untuk bisa dekat dengannya! Kau akan menyesal karena menghinaku Nyonya tua!"


---


" Zaky, mengapa Ben tidak punya jumsuit dan jumper yang cukup? Apa dia tidak punya stoller miliknya sendiri? Mama ingin berjalan dengannya di halaman, dan sakit pinggang ini sangat merepotkan! Bagaimana mungkin Tia tidak mempersiapkannya?" Tanya mama pada Zaky yang sedang sarapan di meja makan. Mama berdiri di sampingnya sambil menggendong Ben kecil, membelainya penuh cinta. Ben kecil sedang terjaga, Ia menatap wajah grandma nya sambil sesekali mulutnya terlihat seperti menyusu. Mama merasa gemas sekali.


" Tia memang menahan diri kali ini untuk belanja perlengkapan bayi, entahlah, Ia takut kecewa jika saja Ben tidak lahir dengan selamat. Tya hanya membeli yang penting saja."


" Kita harus membelinya, lihatlah, kau bertambah besar, pipimu bulat sekali cucuku.. Pake a boo! hahaha" Mama seolah bicara pada Ben kecil.


" Biar Saphira saja yang belanja. Dia pasti tau kan perlengkapan bayi, atau mama tulis saja daftarnya. Bukankah mama sakit pinggang untuk keliling mall?"


" Hemm Baiklah, Akan mama tulis daftarnya. Saphiraaaa!!!" Mama berteriak memanggil Saphira yang sedang mengurus Nami dan Naya mandi. Bi Tuti sudah pergi ke rumah sakit sekaligus mengantar Zoya dan Dia ke sekolah bersama Pak Pandi.


Mendengar namanya dipanggil, Saphira berlari ke ruang makan menghampiri Mama Dan Zaky. " Iya Nyonya, Ada apa?"


Bersiaplah, pergi ke mall dan belikan perlengkapan bayi untuk Ben. Pakaiannya terlalu sedikit, sedangkan stoller dan bouncher nya berwarna pink, milik Nami dulu. Pergilah bersama Pak Pandi.


" Apa!" Mama tersentak mendengar Zaky dan menatap Saphira juga Zaky dengan tidak senang.


" Tidak boleh! Bukankah kau harusnya pergi ke kantor? Kau ini kan Bos, apa tidak ada yang bisa di suruh menemaninya? Kenapa harus sibuk mengantarkannya segala?" Mama menggerutu. Zaky berdiri dari kursi sambil tersenyum.


" Apa salahnya, aku tidak mungkin menggoda Saphira kan?" Zaky mengambil Ben dari tangan mama dan mendekap serta menciumnya.


" Tetap saja tidak boleh!" Mama menatap kesal ke Saphira.


" Ya sudah, aku akan menelepon Robi untuk menemaninya." kata Zaky. Wajah Mama lalu berubah lega. Sementara Saphira mengumpat dalam hati karena tidak jadi pergi berbelanja dengan pria idamannya itu.


---

__ADS_1


Dan akhirnya Saphira pergi bersama Robi. Zaky memberikan credit card dan nomer pin pada Saphira, Mama juga menitipkan daftar barang yang harus di beli. Kali ini Mama terpaksa harus mengikuti selera Saphira dalam memilih perlengkapan bayi, karena jika harus pergi sendiri Mama merasa tidak akan sanggup.


Robi awalnya agak kesal kenapa dia yang harus menemani Saphira, apa gadis itu tidak bisa pergi sendiri? Tapi Zaky menjelaskan bahwa Zaky hanya khawatir Ia tidak mampu menenteng belanjaanya nanti, karena barang yang di tulis dalam daftar mama relatif banyak dan ada yang agak besar. Bersungut sungut akhirnya Robi mengiyakan. Mood nya padahal sedang tidak bagus, di rumah, Lila istrinya menangis semalaman tidak tahu kenapa sebabnya. Robi sudah membujuknya namun Lila tetap tidak mau bicara. Pagi inipun Lila masih diam di kamarnya, saat Robi membawakan sarapan ke kamar dan berpamitanpun Lila masih diam saja duduk bersedih. Entahlah, kadang Robi kehabisan akal menghadapi istrinya Lila.


Robi dan Saphira akhirnya tiba di Mall. Sepanjang perjalanan tadi Robi hanya diam saja. Saphira juga tidak berani memulai, Ia hanya mencuri pandang pada Robi yang baginya seorang pria gentleman. Saphira merasa senang dibukakan pintu saat masuk ke mobil dan diingatkan memakai seat belt . Ia tidak sabar akan keliling Mall dengan pria tampan yang baik hati ini.


Mereka memasuki beberapa Toko bayi, Saphira memilih pakaian dan kebutuhan bayi lainnya, sedangkan untuk barang yang besar, Saphira meminta Robi yang memilihkannya. Dan akhirnya mereka bicara juga.


" Saphira, kau suka yàng ini?" tanya Robi menunjukkan sebuah bouncher bermotif bola bola. Saphira menggeleng.


" Bagaimana dengan yang ini, apa ini cocok untuk Ben?" Robi menunjuk yang lainnya, kali ini bermotif kotak bergaris warna merah dan biru. Saphira tersenyum mengangguk. Mereka juga memilih beberapa barang lainnya hingga semua yang tertulis di daftar terpenuhi.


" Kau mau beristirahat sebentar, makan cemilan?" tanya Robi. Sejujurnya Ia sendiri merasa agak lelah dan kehausan. " Iya, baiklah." kata Saphira. Mereka pun masuk ke salah satu toko kue dan dessert yang ada di Mall itu. Setelah memesan makanan, mereka mulai mengobrol tentang satu sama lain.


" Jadi Tuan sudah menikah?" tanya Sphira sedikit kecewa.


"Iya, istriku sekarang sedang hamil muda."


"Kau pasti sedang kesulitan menghaapi mood istrimu kan?"


"Jadi kau tahu? Apa semua wanita hamil begitu? Aku ingin bertanya padaa Tia, dia pasti mengerti benar tentang kehamilan."


"Ya sebagian besar hormon membuat mood menjadi labil, tapi kau tahu kan, inilah kesempatan untuk membuat papa baru kerepotan. Ibu hamil sering kali melebih lebihkan reaksi hormon ini." Saphira tersenyum miring.


"Maksudmu, mungkin saja istriku sengaja bersikap berlebihan dengan alasan hormon kehamilan?"


"Ya mungkin saja. Setidaknya itu pernah dibahas dalam masa kuliahku dulu."


Jadi, reaksi Lila yang berlebihan itu, apa dia sengaja mempermainkan aku?


Robi bersandar kesal dibangku cafe. Semudah itu ia percaya kata kata Saphira yang sebenarnya sengaja memanas manasinya karena kecewa ternyata Robi sudah memiliki istri.

__ADS_1


---


Sorry lama 😉


__ADS_2