
Malam hari Zaky baru saja menyikat giginya. Istri dan anak anaknya sudah tertidur. Ia ke dapur untuk mengambil air putih. Ia meminum segelas penuh. Entah kenapa tiba tiba wajah lila terbesit di pikirannya. Saat Ia begitu antusias mengungkapkan opininya tentang pencapaian perusahaan Zaky. Apalagi dia merupakan kaki tangan benny, bos perusahaan pesaingnya. Bagi Zaky dia punya modal bagus untuk jadi karyawannya. Entahlah, besok Zaky akan menanyakan pada sekretarisnya apakah ada lowongan untuk lila. Zaky pun ke kamar dan pergi tidur.
---
"Apa ada lowongan yang kosong di bagian pemasaran?"
"Tidak ada pak." sahut Robi sekretaris Zaky.
" Bagian penjualan? Kepegawaian? Resepsionis?"
"Kita kan baru saja merekrut karyawan magang pak."
" Lalu harus di tempatkan dimana?"
"Siapa?"
"Ah sudahlah!"
"Agen pak? SPG di pusat promosi."
"Cih! Enak saja. Dia punya kompetensi!"
"Siapa pak? Bu Tia?"
"Masa istri saya? Tunggu, Kamu sudah punya asisten? kamu pasti kelelahan mengurus ini itu."
" Wah bapak baik sekali mau memberikan saya asisten."
" Bagaimana kalau dia jadi asistenmu saja."
"Siapa pak? pria atau wanita?"
"Wanita."
" Hahaha Saya jadi malu. Apa bapak mau menjodohkan saya karena saya belum menikah?"
Zaky geleng geleng kepala. Sudah keluarlah. Saya akan menyuruhnya untuk datang besok.
" Baik pak. Dan terima kasih juga pak. Hahaha"
Robi menunduk dan keluar dari ruangan.
__ADS_1
Zaky merogoh ponselnya, membuka laci dan mengisi nomor lila di ponselnya. Ia menelepon lila. Bukan untuk mengabarinya, melainkan mengajak bertemu untuk mengabarinya tentang lowongan itu. Entah kenapa Zaky ingin sekali mengobrol dengannya.
Bip! Panggilan tersambung. Terdengar suara di seberang sana.
"Halo selamat siang."
" Siang."
"Maaf ini siapa?"
"Saya Zaky."
"Zaky siapa ya?"
"Atasannya dira di ZAK Company"
"Astaga maaf pak maaf. Saya tidak tahu nama bapak. Ada apa ya pak?"
"Bisa kita bertemu siang nanti?"
"Untuk apa ya pak?"
Zaky menutup telponnya membuat yang di ujung sana kebingungan.
Jam 2 siang Zaky sudah standby di Antarkopi. 15 menit kemudian sebuah taksi berhenti di sana. Lila turun dan membayar taksinya. Ia terlihat cantik hari ini. mengenakan dress broken white V -nect sepanjang betis dan rambut yang di kucir tinggi berayun ketika ia berjalan.
Zaky menatap Lila dari kejauhan. Ia jadi teringat pada istrinya. Dulu Tia persis seperti itu, Cantik dan Fashionable, Zaky hampir tidak percaya diri berdiri di sampingnya, maklum usia mereka terpaut 9 tahun. Namun sekarang, Jika bukan piyama, maka dasterlah yang selalu di kenakannya. Dress mahal dan lainnya hanya di pakai di hari sabtu atau minggu. Begitu juga sepatu dan tas. Belum lagi rambutnya selalu di kucir dan di gulung ke atas. Kalau riasan jangan di tanya, seperti apa Ia bangun tidur maka sampai tidur pun tetap seperti itu.
" Pak.. Pak.." Lila mengayun ngayunkan telapak tangannya ke depan wajah Zaky, membuyarkan lamunannya.
"Ohh iya silahkan duduk."
" Ada apa hingga bapak mengajak saya bertemu."
"Pesan saja dulu makanannya."
Pramusaji menhampiri mereka. Lila menunjuk beberapa menu kemudian pramusaji itu berlalu.
"Ini bapak yang bayarkan?" Tanya Lila berbisik bisik.
Zaky tidak menjawab, Ia hanya tersenyum lalu meneguk kopinya yang sudah di pesan lebih dulu.
__ADS_1
"Sudah selesai tagihanmu?"
" Belum pak."
"Kenapa?"
"Saya belum mendapatkan pinjaman, Dira sedang memerlukan dana untuk pernikahannya. Saya tidak tahu harus pinjam ke siapa."
"Dira akan menikah?"
"Iya."
"Kenapa tidak minta tolong orangtuamu?".
" Saya tidak ingin membebani mereka, mereka juga belum tahu kalau saya di pecat. Mereka di Desa pak."
"Ohhh.. "
Zaky merogoh sakunya dan mengambil kartu kredit di dompetnya.
"Ini, Lunaskan dengan ini, dan bayar dengan gajimu." Zaky meletakkan kartu kredit nya di meja.
Dari warnanya Lila tahu itu kartu kredit tanpa limit. Dia mendorong lagi kartu itu ke arah Zaky.
" Saya juga belum mendapatkan pekerjaan, nanti saya malah tidak tahu bagaimana membayarnya."
"Mulai besok bekerjalah di kantorku. Ada lowongan untukmu."
" Apa bapak serius?"
"Iya, tapi bukan manager pemasaran."
"Tidak apa apa pak, yang terpenting saya dapat pekerjaan."
"Ambillah kartu ini dan bayar tunggakanmu. Anggap saja pinjaman."
"Ba.. baik pak. Terimakasih banyak."
Lila mengambil kartu itu dan menyimpannya. Zaky memberikan passwordnya. Pramusaji datang dan mereka makan sambil mengobrol. Beberapa hal pribadi juga tentang bisnis properti. Dan akhirnya Zaky menemukan orang yang tepat yang bisa menjadi tempat berbagi tentang track recordnya di bisnis properti. Tatapan kagum lila membuat Zaky semakin menyukai gadis itu. Ia tidak sabar melihat lila besok di kantornya.
---
__ADS_1