SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Terimakasih


__ADS_3

Rian kemudian menaruh kue kecil yang dipegang, lalu menggerakkan kedua jemarinya untuk menangkup kedua pipi gadis itu.


Merekapun saling tatap. "Gue yang seharusnya berterimakasih." sahutnya. "Gue makasih banget karena lo udah hadir di hidup gue. Ngasih kebahagiaan buat gue."


"Tapi Rian, aku ini cuma bisanya ngasih beban aja buat kamu."


Rian menggelengkan kepalanya. "Enggak Des, justru elo udah sering bikin gue ketawa. Ya, meskipun suka bikin kesel juga sih." ledeknya.


"Ih, Rian jahat deh." rengeknya, memukul pelan dada pemuda itu, membuat Rian jadi tertawa.


"Enggak kok, gue cuma bercanda." sahutnya tersenyum, membenarkan jaketnya untuk menutup tubuh gadis itu. "Gue gak pengen lo berubah, gue juga gak pengen lo hindarin gue. Gue gak suka Des."


"Tapi, Rian..." Rian langsung menutup bibir gadis itu dengan telunjuknya, agar berhenti memprotes.


"Gue suka sama lo." ucapnya. "Ya, meskipun hati gue masih belum sepenuhnya karena gue belum sepenuhnya memaafkan diri gue atas kejadian yang menimpa Putri. Tapi, bisa gak lo mau bersabar nunggu hati gue sepenuhnya buat elo?"


Seketika Desi tertegun, tak dapat berucap kembali.


"Bisa, kan? Elo bersabar buat gue." tanya Rian lagi, ketika ia belum mendapat jawaban.


Desi mengangguk. "Iya, aku mau." sahutnya.


Rian jadi lega, dan mereka tersenyum bahagia. Ia kemudian mengacak gemas rambut gadis itu. "Lo masuk ke dalem gih! Ini udah malem dan besok kita ada ujian." pintanya.


Desi mengangguk. "Iya, kalo gitu aku masuk duluan ya!" pamitnya.


"Iya." sahutnya dengan senyum, memandangi Desi yang telah berbalik badan untuk masuk kedalam rumahnya.


Ketika Rian berbalik ingin pergi juga, tiba-tiba Desi berlari kearahnya kembali. "Rian." panggilnya.


Seketika Rian berbalik badan dan menoleh, seketika itu pula Desi berjinjit dan langsung mengecup pipi pemuda itu. "Selamat malam." ucapnya, kemudian berlari kembali memasuki rumahnya karena malu.


Rian jadi tersenyum, memegangi pipinya bekas Desi kecup. "Dasar! gadis itu." gumamya.


****


Kini hari-hari menjadi normal kembali. Desi memasuki ruang kelas dengan suara berisiknya kembali.


"Bebeb gue udah dateng, gak?" tanyanya pada kedua temannya.

__ADS_1


"Hah?" Mega dan Loli jadi heran. "Siapa maksud elo?"


Desi memutar bola matanya jengah. "Ya si Rian lah." sahutnya dengan senang. "Bebeb gue paling tampan didunia."


"Dih, kumat." ledeknya. "Bukannya elo udah nyerah sama Rian? Ada apa sih?"


"Kalian penasaran ya?"


Mereka mengangguk antusias. "Kemarin kalian habis ketemu?"


"Iya dong." sahutnya masih tersenyum malu-malu. "Dia itu ternyata blasteran loh."


"Blasteran! Masa? Bukannya pak Dedi dan Bu Sefia orang asli sini?" tanya mereka heran.


"Iya, tapi Rian itu blasteran." sahutnya. "Blasteran Surga."


"Yaelah." mereka jadi menggelengkan kepala, tapi sekaligus lega karena temannya sudah normal kembali.


"Rian." sapa Desi dengan senang, ketika Rian memasuki kelas dengan Yuda.


Ia langsung berlari dan hendak memeluk lengan pemuda itu, tapi dengan sigap Rian langsung memegangi kepala Desi dengan satu tangannya, agar gadis itu tidak bisa menjangkaunya. "Des, kita lagi dikelas." ucapnya.


"Kalau diluar kelas berarti boleh dong." sahutnya, membuat yang mendengarnya jadi tertawa.


****


Kini bel sudah masuk, mereka semua menjalani ujian dengan serius.


Berbeda dengan Desi yang memang sudah mampu menyelesaikan ujiannya dengan mudah.


Ketika ia melihat Rian dengan serius, ia malah melemparkan secarik kertas yang sudah digulung padanya.


Rian jadi berdecak, mengambil secarik kertas itu lalu membacanya. "I love you, Bebeb."


Sontak Rian ingin tertawa, tapi harus ia tahan.


Kemudian Desi juga mendapat gumpalan kertas dari Loli, untuk meminta jawaban soal padanya.


Dengan senang hati Desi membalas dan langsung melemparkannya pada temannya itu, Loli jadi senang dan lega.

__ADS_1


Loli membuka gumpalan kertas dari Desi, dan membacanya. "Makanya belajar."


"Sialan si Desi." umpatnya. "Kalo ini sih gue juga tahu, tapi emang dasar otak gue gak mampu." rengeknya.


Dan Desi kemudian kembali menulis pada secarik kertas, lalu melemparkannya pada Rian. Tapi sialnya, Pak Alvin tengah berdiri tepat dibelakang Rian.


Pak Alvin mengambil kertas yang sudah dibuat menggumpal itu, membuat keduanya jadi tidak tenang.


"Desi, Rian. Tinggalkan kertas jawaban kalian diatas meja!" pintanya. "Dan kalian berdiri luar kelas sekarang! Lagi ujian kok malah pacaran."


Sontak yang lain jadi menahan tawa. "Iya pak." sahut mereka.


Desi dan Rian pun beranjak berdiri, segera berdiri luar kelas dengan mengangkat satu kaki dan memegangi kedua telinganya.


Tapi memang dasar si Desi, dia malah tidak berhenti menggoda Rian.


"Bebeb." panggilnya, menggoda.


Rian memilih tak menghiraukan, tapi lagi-lagi Desi memanggilnya dan menendang kecil kaki Rian, membuatnya jadi tak tahan mendiamkan gadis itu.


Rian jadi tertawa. "Dih! Dasar ya!" mencubit kedua sisi pipi gadis itu dengan gemas.


Sialnya, lagi-lagi hal itu ketahuan oleh pak Alvin karena terdengar berisik. "Kalian ini ya!" decaknya. "Lari dilapangan dua puluh kali, sekarang!" perintahnya.


"Ih, bapak. Jahat banget." ucap Desi, menebalkan bibir.


"Oh yaudah, bapak tambahin jadi tiga puluh kali keliling lapangan."


Sontak Desi jadi kesal, ingin memprotes kembali tapi segera Rian menutup mulutnya telapak tangannya. "Baik pak." sahut Rian cepat, menarik tangan Desi untuk pergi. "Udah yuk!"


Mereka berlari pelan, beriringan.


"Huh Bebeb, aku gak kuat larinya." rengek Desi, seolah terengah-engah dan gak mampu berjalan, membuat Rian jadi tak tega.


"Yaudah, gue gantiin elo lari sebagian." sahutnya.


Seketika Desi jadi berlari kencang sebanyak dua kali keliling lapangan bakset. "Aku ke kantin duluan Beb, sisanya kamu terusin." teriaknya sambil berlari meninggalkan Rian.


"Desi." teriak Rian kesal. "Ah dasar! Gue ketipu."

__ADS_1


****


Jangan lupa dukungan POIN dan Likenya :*


__ADS_2