
" Sayang apa kau yakin mau makan di sini?" Mereka berhenti di depan restoran fastfood.
" Kenapa? Tidak boleh?"
" Maksudku, kau kan anti makanan fastfood, setiap hari mengingatkanku untuk makan makanan rumah."
" Aku sudah berubah. sekarang aku mau makan apapun yang aku mau." kata Tia turun dari mobil.
Zaky sedikit kebingungan dengan sikap Tia malam ini, Tapi yasudah mau bilang apa, ini juga salahnya. Hanya saja makanan seperti ini Tia jarang sekali memakannya, Pizza saja baru akhir akhir ini dia mau memakannya, biasanya Ia rela lelah demi membuat pizza sendiri .
Mereka masuk ke dalam dan duduk di salah satu meja. Zaky menatap istrinya yang sedang melihat daftar menu.
" Heii.."
" Apa!" Jawan Tia ketus.
" Pahamu itu, apa tidak kedinginan? belahan gaunmu mengapa panjang sekali hah?"
" Tidak." melihat lagi paket ayam goreng di menu.
" Apa tidak ada gaun yang lebih tertutup? pahamu, punggungmu itu kan milikku? kau memperlihatkannya pada orang lain, aku kesal sekali!"
" Aku sengaja memang ingin memperlihatkannya, kau malah mengajakku pulang, mungkin aku bisa menggoda dua atau tiga pria tadi di sana." Melihat ke Zaky, selesai memilih menu.
" Apa!! berani nya kau!"
" Heh! Kau pikir kau saja yang marah! Dadamu itu! perutmu itu kan juga milikku! kau memperlihatkannya pada simpananmu! Dasar!"
Glek!
Tidak ada gunanya bagi Zaky mengungkapkan kekesalannya melihat istrinyabkeluar dengan terlalu sempurna begini, Mood nya sedang tidak bagus, pikirnya. Dia diam saja untu sementara waktu.
Ayam goreng yang di pesan datang. Zaky terbelalak. Tya memesan satu buket Paha ayam goreng. Dan dua Mocca float.
" Hah? Mengapa memesan sebanyak ini? siapa yang akan menghabiskannya?"
" Aku!" Tia menggigit paha ayam pertamanya.
Zaky menatapnya ambil bergeleng. Ia menyeruput mocca float.
Lihatlah bibirnya itu, Lipstiknya bahkan tidak hilang meski mengunyah ayam. Apa tebal sekali, Mengapa dia sungguh sungguh berdandan malam ini dan pergi ke keramaian. aku tidak bisa melupakan bagaimana orang orang melihatnya. Ahh frustasi sekali!
Tia Mengunyah ayamnya yang kedua. Zaky masih memperhatikannya. Ia kemdian tersenyum.
" Ini seperti mimpi..." kata Zaky.
" Apanya?"
" Melihatmu di luar seperti tadi. Kau.. kau berani sekali... "
" Ohh memergokimu?"
Mulai lagi.
Zaky membatin.
" Tadinya aku ingin melabrakmu dan marahvmarah seperti artis ditelevisi, uang memergoki selingkuhannya itu, tapi aku yakin aku tidak bisa seperti itu."
Tadi saja kau sudah keren sekali. Tapi moment nya salah, aku baru akan mengakhirinya tahu?
Tia dengan lahap mengunyah ayamnya, ketiga , keempat. Zaky hanya geleng geleng kepala. Beberapa pelanggan lainnya memperhatikan mereka. Makan di restoran cepat saji dengan pakaian itu, ya, gaun mewah dan tuksedo.
0
-
Mereka selesai di restoran, dan segera pulang. Mobil memasuki pintu gerbang, Pak pandi membukakan pintu. Jelas sekalibdari raut wajahnya ia khawatir tentang apa yang akan terjadi pada Tuan da Nyonya nya malam ini.
Zaky dan Tia turun dari mobil. Mereka masuk ke dalam rumah. Zaky melihat dua buah koper kecil di ruang tengah.
" Ini koper siapa?"
" Kopermu."
"Koperku?"
Ahh ternyata kau memang sudah berniat mengusirku ya, berkata pura pura akan pindah bersama anak anak. cih!
__ADS_1
" Iya, bukankah kau bilang tadi bahwa kau saja yang menginap di apartemen? Ya.. aku menyuruh bi tuti mempersiapkan barang barangmu. " kata Tia sambil tersemyum puas.
"Kau ini. Sepertinya senang sekali. Yasudahlah!"
Zaky mengalah, tidak mau berdebat lagi. Ia pun menarik koper itu keluar dan memasukkannya koper ke mobil. Dia masuk ke mobil dan membanting pintu mobil dengan kencang. Mobil pun menyala dan keluar ke jalanan. Meninggalkan pak Pandi yang tersenyum sambil menutup pagar.
Syukurlah mereka tidak berpisah seperti yang aku bayangkan, dan nyonya juga tidak berlarut larut dalam kesedihan. Ia sepertinya punya cara sendiri untuk menghukum Tuan. Ini pasti akan sangat lucu.
--
Tia sudah selesai membersihkan tubuhnya. Ia merebahkan diri di kasur. Ia mengusap usap bantal Zaky.
Salahmu sendiri menghianati aku. Aku harus menghukummu kan? Tapi kau tidak ada di Sini, kenapa aku jadi merasa sepi...
---
Pagi yang cerah. Tia terbangun dari tidurnya. Ia mengusap usap lagi bantal Zaky. Lalu menepuknya dengan kencang, entah apa maksudnya. Ia bergegas untuk mandi pagi, Ingin bertemu anak anak.
Tia masuk ke kamar mandi dan Menyalakan Jacuzzi. Nyaman sekali berendam air hangat setelah 2 hari yang penuh emosi, pikirnya. Hampir setengah jam Ia berhenti. Memakai body wash dan shampo lalu membilasnya di shower. Ia membungkus rambutnya juga tubuh rampingnya. Ia keluar dari kamar mandi dengan segar.
" Aaaaaaa!!!" Tia berteriak ketika melihat Zaky di kamar.
" Telingaku bisa pecah. " Kata Zaky yang sibuk membuka laci.
" Heh! Aku kan sudah bilang kau tidak boleh mendekatiku. keluar! aku mau pakai baju!"
Tia menyilangkan kedua tangannya ke bahu ketika Zaky melihatnya.
Zaky tertawa sambil menegadahkan kepalanya ke atas. tangannya berkacak pinggang.
" Kau ini menutupi tubuhmu, seolah olah aku tidak tahu isi di balik handuk itu, aku sudah memegang semua, bahkan sudah merasakan semua." Katanya sambil menunjuk nunjuk tubuh Tia.
" Ihh vulgar sekali kata katamu. Mau apa kau kesini."
" Mengambil Laptopku. Kau mengisi barangku asal asalan, banyak sekali yang tertinggal. "
" Yasudah, aku pakai baju di kamar mandi saja!"
" Tidak usah. Aku selesai. Aku mau sarapan dulu."
" Heh, aku kan sudah bilang jangan makan makanan ku!"
Zaky berlalu, tidak kuat lagi berdebat. Ia turu ke bawah dan sarapan dengan anak anak, setelah bermai sebentar Ia pergi ke kantor.
Tia selesai berpakaian, hari ini Ia tampil casual dengan dandanan yang natural. Ia akan pergi ke Yayasan anak anak penderita kanker yang Ia dirikan bersama Zaky 6 Tahun yang lalu.
Selama ini ia menyerahkan tanggung jawab mengelola yayasan kepada Bibi sania dan Eddy. Ia biasa mengontrol perkembangan yayasan dengan daring. Sesekali di akhir pekan juga berkunjung kesana. Hari ini Tia khusus menyempatkan diri datang kesana untuk melihat secara langsung perkembangan yayasan. Ada banyak donasi yang di kirimkan teman teman juga beberapa perusahaan. Tia berharap yayasannya bisa menolong lebih banyak anak anak.
" Mama mau kemana hari ini?"
Tanya Zoya pada mamanya yang sedang menyusui sambil sarapan.
" Mama mau ke yayasan, Lusa nanti mama akan ajak kalian ke ruah saki ketemu kakak kakak yang hebat, tapi hari ini mama pergi sendiri ya?"
"Iya ma, Berarti kita jalan jalannya ga tunggu papa lagi ya di hari sabtu minggu."
" Engga, kita keluar kapanpun kita perlu."
Karena papa pergi 5 hari dengan selingkuhannya, buat apa kita menunggunya. Cih!
Zoya mengangguk mengerti. Tia menoleh ke Ifa yang dari tadi minum susu sambil menatapnya.
"Kenapa Kak Ifa?"
" Mama cantik. Pipinya merah." Ifa memeluk Tia. Tia membalas pelukannya erat.
Iya donk, mama mesti dandan biar tidak kalah sama selingkuhan papa di kantor.
-
Zaky tiba di kantornya. Lila sudah menunggu di depan pintu ruangan Zaky. Di tersenyum saat melihat Zaky. Zaky tahu dia tidak bisa mengelak. Robi cuti selama seminggu karena berbulan madu dan Lila satu satunya orang yang akan mengurus segala keperluannya di kantor selama beberapa hari kedepan.
Zaky membuka pintu, masuk Lalu duduk. Lila duduk di hadapan Zaky membawa beberapa berkas. Ia menyodorkan berkas itu ke Zaky, Zaky mulai membalik satu per satu sambil membacanya.
" Hey, bagaimana semalam?" Tanya Lila.
" Apanya?"
__ADS_1
" Kau dengan istrimu?"
Zaky berhenti melihat berkas lalu mengalihkan pandangan ke Lila.
" Lila, sebenarnya sejak semalam aku ingin bicara padamu, Aku ingin mengakhiri semua ini."
Deg!
"Aku rasa aku sudah melewati batasku, tidak seharusnya aku dekat denganmu, apapun alasannya. Aku telah menyakiti istriku, aku tidak mau ini menjadi lebih rumit."
Lila tersenyum.
" Apa dia mengancammu?"
" Tidak."
" Lalu mengapa kau takut sekali."
"Karena aku mencintainya dan akutidak mau kehilangan dia."
" Tapi dia menyuruhku menggodamu dan memberimu waktu untuk memutuskan."
" Ini tidak akan berjalan dengan baik Lila."
" Aku akan mecoba."
" Lila.. hiduplah dengan baik sekarang, maaf aku telah menyeretmu dlm keegoisanku. aku terlalu menuntut banyak hal darinya dan berharap padamu. Sekarang carilah pria yang kau cintai. pikirkan masa depanmu."
" Tapi aku mencintaimu!"
" Dan aku tidak!" Membentak. Tidak tahan lagi.
Lila bangkit dan berlari keluar ruangan. Zaky menghela napas dan melihat berkas lagi.
Kenapa dia tidak mau berhenti...
---
Tia tiba di yayasan dan di sambut para pengurus yayasan. Bibi sania memeluknya lama sekali. Tapi Eddy tidak nampak di sana. Tia duduk sebentar bertegur sapa, ada beberap orang baru yang di pekerjakan bibi sania. Setelah itu Ia membuka Laptop yayasan untuk melihat Laporan penyaluran dana.
Tia menopang kepalanya dengan tangan kiri.
Mengapa sedikit sekali kegiatan dan penyaluran dana. Padahal aku mendapat banyak sekali notifikasi dana debit dan kredit. Mungkin aku harus ke bank untuk mengeprin rekening koran.
Tia duduk berdua dengan bibi sania di dalam ruang kepala yayasan.
" Bibi Katakan apa yang terjadi? mengapa sedikit sekali kegiatan dan penyaluran dana untuk anak anak itu?" Tia menggenggam tangan bibi sania.
Lama bibi sania terdiam. Matanya berkaca kaca.
" Eddy.."
" Eddy? Dimana dia? Apa dia mengambil cuti. Katakan padaku bi."
Ponsel Tia berdering. Bibi sania ingin Tia menjawabnya. Tia keluar sebentar dan menjawab panggilan. Dari Zaky.
" Sayang.."
" Apa? Kau ini mengganggu saja, Aku sesang di yayasan."
" Kau pergi keluar? Mengapa? Ada masalah dengan yayasan?"
" Aku baru mencari tahu kau sudah menelepon. Ada apa?"
" Karena kau di luar, kita makan siang bersama ya. kan tidak ada peraturan tentang itu. "
" Hmm baiklah.. tapi aku akan ke bank sebentar."
" Baik. Dimana makannya?"
" Di depan kantormu saja, aku akan kesana."
"Baiklah sayang."
Zaky menutup telponnya lalu bicara sendiri.
" Hati hati di jalan, aku mencintaimu, Aku merindukanmu."
__ADS_1
Dia tersenyum sendiri.
--