SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Berjuang


__ADS_3

Desi kembali kedalam kelas dengan mata sembab, terlihat jelas jika ia habis menangis.


Dan tentu kedua temannya itu mengerti, sedangkan Yuda memilih untuk menemui Rian yang mungkin sekarang sedang kebingungan.


Yuda tahu sifat Rian, sahabat karibnya itu. Bisa dikatakan bahwa Yudalah yang mengerti kegundahan hatinya saat ini.


Ia menghela nafas kasar ketika melihat temannya sedang duduk dibangku taman sambil menunduk sedih.


Yuda memegangi pundak Rian, sedikit menepuknya. "Lo ngapain masih disini? Gak ke kelas?" tanyanya, sembari duduk disamping Rian.


Rian tersenyum pasi, masih menundukkan pandangannya. "Iya, bentar lagi ke kelas kok." sahutnya.


"Rian." panggil Yuda agar pemuda itu menetap. "Apa terjadi sesuatu antara lo sama Desi? Gue lihat barusan Desi habis nangis."


Rian hanya bisa tersenyum miris. "Bener kata lo, dia udah nyerah sama gue." sahutnya bersedih, bahkan menghela nafas yang terasa sesak didadanya.


"Lo juga suka kan sama Desi?" tebaknya tanpa basa-basi.


Rian hanya menoleh tanpa mampu menjawab, bersitatap pada temannya yang mulai serius itu.

__ADS_1


"Gue tau kalo lo sebenernya juga suka sama Desi, tapi lo masih ngerasa bersalah sama Putri." ucapnya. "Gue bener, kan?"


Mendengar perkataan yang benar itu membuat Rian mengacak rambutnya frustasi. "Gue gak pantes menyukai oranglain, rasanya ini gak adil bagi Putri yang mungkin diluar sana masih trauma dan sedih gara-gara gue." sahutnya mulai mengusap butiran bening yang mentes dimatanya. "Andai saja gue gak ngajakin dia ketemuan waktu itu, semua ini mungkin gak akan pernah terjadi."


Yuda hanya bisa menepuk punggung rapuh temannya itu, guna memberi ketenangan padanya. "Rian, gue tau lo sangat terbebani saat ini, tetapi lo harus tau kalo semua yang terjadi itu bukan gara-gara lo. Lo juga gak ingin kejadian mengerikan itu menimpa Putri, kan?"


Rian mengangguk cepat mengiyakan, sebagai jawaban.


"Semua memang sudah takdirnya, teman." sambungnya. "Putri pasti akan menemukan kebahagiaannya diluar sana, dan lo pantas kok memperjuangkan perasaan lo. Jangan sakit sendirian!"


Rian tersenyum tipis, menoleh pada temannya yang ketika itu juga membalas senyumnya. "Terimakasih udah nyadarin gue." ucapnya ketika ia mampu mengerti.


Yuda jadi tersenyum lega mendengarnya, ketika temannya mulai mengerti dan sadar bahwa dirinya pantas bahagia. "Lo tau gak si Desi itu kalau dia adalah cewek paling populer disekolah?"


Yuda mengangguk, mulai tertawa geli. "Lo aja sih gak sadar selama ini, gue tahu ini dari kelas lain dan juga kakak angkatan." sahutnya. "Desi itu anak yang cantik dan juga cewek paling pinter disekolah, banyak banget cowok-cowok yang naksir dia. Berlomba buat bisa jadi pacarnya."


Rian jadi gusar. "Lo serius? Tapi gue lihat selama ini gak ada tuh cowok yang deketin Desi."


Sontak Yuda jadi tertawa, membuat Rian jadi bingung. "Itulah hebatnya Desi, dia nempel mulu sama Lo." sahutnya cekikikan. "Ya gimana cowok mau deketin dia, panggil namanya aja sambil senyum genit udah diajak berantem sama Desi, apalagi sampek ngerayu dia. Auto ditendang dan ditonjok."

__ADS_1


Yuda tertawa terbahak ketika mengingat kejadian yang dilihat sendiri oleh matanya, dan Rian jadi ingat. "Iya gue inget, dulu Erfan bercanda manggil dia dengan sebutan sayang, terus Desi langsung nginjek kakinya." Rian jadi ikut tertawa mengingatnya.


"Ha ha, itu sih belum seberapa dibanding galaknya dia sama cowok-cowok lainnya. Dia selalu teriak kalo hanya lo yang boleh bersikap manis sama dia, hanya lo yang boleh dapet perhatiannya." ucapnya, lalu menepuk bahu temannya. "Jadi, jangan bohongi perasaan lo sendiri mulai saat ini!" harapnya.


Dan Rian jadi menunduk sedih. "Tapi Desi udah nyerah sama gue."


"Dan lo nyerah gitu aja?" tanya Yuda dengan nada penekanan. "Kalo lo emang suka, lo perjuangin tuh perasaan lo ke dia. Sekarang waktunya elo yang berjuang, dan gue yakin kalo Desi masih cinta banget sama lo."


Rian jadi tersenyum, dan mengerti harus melakukan apa. Ia mengangguk. "Iya, gue akan berjuang buat dapetin hatinya kembali." sahutnya, kali ini antusias.


"Wah, ini nih baru temen gue." merangkul bahu Rian. "Yuk, kita ke kelas. Udah bel masuk." ajaknya.


"Yuk."


****


Maap telat upload T T


hape error dan gak ada data pula.

__ADS_1


Tuhan, tolonglah ke kisminan hamba ini.


Mohon maaf lahir batin semua :*


__ADS_2