SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Begitu Lega


__ADS_3

Sefia kini kembali pulang, dan Dedi telah kembali dan langsung menyambut istrinya senang.


"Papi." sapa Sefia.


Dedi langsung memeluk serta mengecup kening dan bibirnya. "Apa mami sudah ketemu sama Putri?" tanyanya sembari memegangi kedua sisi pipi istrinya.


Sefia tersenyum dan mangangguk. "Mami seneng banget, akhirnya semuanya sudah terungkap. Mami lega."


"Iya, papi juga begitu lega." sahutnya.


Sefia heran. "Mami kan belum cerita semuanya."


"Kita masuk kedalam dulu aj deh! Papi juga mau cerita sesuatu."


Mereka saling berpeluk, dan melangkah masuk kedalam rumahnya. Memasuki kamar utama utama untuk mengistirahatkan dirinya.


Dedi yang selesai mengenakan piyama terlebih dahulu berbaring diatas tempat tidur, menumpu kepalanya dengan menekuk siku lengannya.


"Kemari!" pintanya, menepuk tempat kosong didepannya.


Sefia tersenyum, kemudian mengiyakan permintaan suaminya. merebahkan tubuhnya dan merapatkan diri ketika Dedi mulai memeluk pinggangnya.


"Apa papi akan cerita sekarang?" tanya Sefia penasaran.


Dedi mengangguk. "Iya, karena mami juga perlu tahu." sahutnya. "Tapi papi mau cium yang kecil dulu."


Dedi bergerak mensejajarkan wajahnya dengan perut Sefia yang masih belum menonjol dengan jelas. Ia mengecup berkali-kali perut Sefia dengan sayang. "Papi sayang kamu." ucapnya.


Sefia hanya bisa tersenyum serta mengelus rambut rambut suaminya. "Jadi mau cerita, tidak?"


"Hm begini, tadi papi kan rencana mau nyusul mami tapi gak jadi soalnya Erfan nelfon dan bilang kalo ada saksi yg membela anak kita." sahutnya menjelaskan.

__ADS_1


"Saksi? Siapa, pi?"


"Yuda." sahutnya. "Dia datang ke kantor polisi ditemani papanya, dan juga dia meminta maaf karena selama ini sudah salah duga pada mami."


Seketika Sefia jadi menghela nafas lega. "Mami benar-benar lega sekarang, sangat lega!" mengelus dadanya penuh haru.


"Jadi.." Dedi kembali pada posisi semula. "Kita tinggal berdoa semoga Rian segera sadar, ya!" mengelus rambut istrinya.


Sefia mengangguk. "Iya."


"Mami pasti capek, sebaiknya kita tidur saja! Besok kita langsung kerumah sakit." Sefia mengangguk. "Selamat tidur istriku." mengecup kening.


"Selamat tidur suamiku."


****


Kini pagi hari tiba, dan pandangan semakin berbeda tak seperti hari biasanya yang selalu tampak suram luar biasa.


Sefia dan Dedi tak melepas tautan jemari mereka, memberikan kehangatan pada keduanya. Seakan hilang seluruh beban dan kebahagiaan akan segera menyambut mereka berdua.


Kini mereka berdua berjalan bersama memasuki rumah sakit dan menghentikan langkahnya ketika mereka melihat punggung pemuda sedang duduk tengah membacakan sebuah buku untuk anaknya, melalui celah kaca yang membentang dipintu kamar.


Mereka berdua saling bersitatap. "Apa itu Yuda?" tebak Sefia, dan Dedi meyakininya.


Mereka kemudian memutuskan untuk masuk kamar ketika Yuda selesai membacakan halaman bukunya.


"Yuda." sapa Sefia.


Seketika Yuda membelalak kaget, langsung beranjak berdiri dan menunduk. "Maaf Tante, Om, saya tidak bermaksud untuk mengganggu istirahat Rian. Saya hanya sekedar membacakan buku yang saya sukai untuk Rian dengarkan juga."


Sefia tersenyum, menepuk bahu Yuda. "Kita malah berterimakasih karena kamu sudah mau menemani Rian."

__ADS_1


Dedi juga ikut menepuk bahu Yuda. "Sudah, jangan canggung begitu!" pintanya.


Yuda jadi tersenyum begitu lega.


"Oh, Rian." ucap Sefia ketika tak sengaja melihat anaknya itu berusaha membuka kedua bola matanya.


Seketika Yuda dan Dedi menoleh, berdiri disamping Rian. Mereka menunggu dengan sabar bagaimana Rian secara perlahan membuka matanya.


Merekapun terharu, betapa bahagianya ketika melihat Rian sudah berhasil membuka kedua bola matanya.


"Rian sayang." sapa Sefia, dan Rian menoleh pada maminya.


"M-ma..mi..." ucapnya lemah, masih merasa kelu lidahnya, mendengar itu Sefia langsung menumpahkan airmata kebahagiaannya.


"Rian, ini papi Nak." sapa Dedi, dan Rian menoleh pada papinya dan tersenyum.


"Pa...pi..." ucapnya, membuat kedua orangtuanya haru dan penuh syukur.


Sedangkan Yuda memundurkan langkahnya, ingin melangkah pergi karena masih merasa sangat malu pada temannya itu.


Tapi seketika langkah Yuda terhenti ketika suara Rian memanggilnya.


"Yud!" ucapnya seraya memanggil, dengan suara lemahnya.


Yuda kembali balik lalu langsung memeluk temannya masih berbaring itu. "Maafin gue, gue banyak salah sama lo. Gue nyesel. Maafin gue." ucapnya terisak, sebelum ia melepas pelukannya.


Rian hanya bisa membalas senyuman dan anggukan pada temannya itu.


Dan segela kisah dan harapan baru akan segera mereka mulai kembali.


****

__ADS_1


Kamsamida :*


__ADS_2