SELINGKUH

SELINGKUH
Baikan


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, polisi telah datang dan langsung membekuk Tedy dan pria tua itu.


Dan tentu Sefia memberikan mantelnya untuk menutupi tubuh Anggi yang sudah compang-camping tak karuan.


Setelah Sefia menemani Anggi ke kantor polisi dan juga dirinya bersedia menjadi saksi, ia juga bersedia mengantarkan Anggi yang masih syok untuk pulang ke apartemennya.


"Ini, minumlah! Agar kamu lebih tenang." ucap Sefia, menyodorkan minuman dingin pada Anggi yang tengah menunduk sedih, tak berani mendongakkan kepalanya menatap Sefia.


Dengan gemetar, Anggi mengambil minuman itu lalu meneguknya hingga habis tak tersisa.


Sepanjang jalan pulang, Anggi hanya menunduk sedih dan Sefia tidak berani bertanya soal apapun walau ia sendiri penasaran siapa pemuda itu sebenarnya, karena sungguh Sefia sangat tahu bahwa Anggi saat ini masih tertekan, dan juga Sefia sadar diri bahwa dirinya bukanlah seorang teman untuknya.


Kini Sefia sudah sampai didepan gedung apartemen milik sekretaris suaminya itu, Sefia mengantarkan Anggi sampai kedepan pintu apartemennya, untuk memastikan ia aman sampai rumahnya.


"Sudah sampai, aku pulang ya!" pamit Sefia pada Anggi yang masih menunduk, ia pun berbalik untuk pergi.


"Tunggu!" ucap Anggi kemudian, membuat Sefia menghentikan langkahnya memasuki lift.


Sefia menoleh. "Ada apa?"


"Terimakasih." ucapnya parau, lalu dengan cepat masuk kedalam rumahnya karena malu.


Sefia yang mendengar itu jadi tersenyum, ia tahu bahwa Anggi tak seburuk yang ia pikirkan.


****


Setelah membantu Anggi, Sefia segera datang kerumah sakit untuk menjenguk anaknya.


Tapi sayang, saat ia masuk ke ruang dimana anaknya dirawat inap. Ia tidak menemukan siap pun disana.


"Sus, pasien atas nama Rian Atmadja diruang PICU kemana, ya?" tanya Sefia pada resepsionis.


"Pasien atas nama Rian Atmadja baru saja pulang Bu, bersamaan dengan Ayahnya."


"Ah, iya baiklah. Terimakasih."


Sefiapun berbalik, dan segera kembali ke mobil untuk pulang.


"Ya Tuhan, Dedi pasti akan tambah marah padaku karena gak becus jadi seorang ibu." gumamnya menunduk, takut suaminya akan salah paham lagi padanya.


Dengan perasaan gelisah, Sefia meminta laju kendaraannya lebih cepat agar ia dapat segera sampai dirumahnya.


Sefia langsung masuk kedalam rumah, dan langsung disambut oleh pelayannya yang kebetulan sedang menyedot debu dilantai menggunakan alat.


"Bapak sudah dirumah?" tanya Sefia memastikan sebelum ia melangkah lagi.


"Iya Nyonya, Bapak berada dikamar utama, dan Den Rian dikamarnya dengan mbak Ratih."


"Oh iya Bik, Terimakasih."

__ADS_1


Dengan cepat Sefia masuk terlebih dahulu untuk melihat anaknya yang sedang tertidur lelap diranjang khususnya.


"Rat, kamu gak pulang?" tanya Sefia.


"Tadi saya pulang sebentar, tapi saat saya mendengar Den Rian sudah kembali, saya buru-buru kembali kesini." sahutnya.


Sefia mengelus rambut anaknya yang lebat lalu menciumnya. "Syukurlah anakku sembuh dengan cepat." ucapnya, kemudian menoleh lagi pada Ratih. "Apa Bapak mengatakan sesuatu?"


"Tidak Nyonya, tapi sepertinya bapak tidak sedang baik."


"Ah."


Seperti yang Sefia duga, Dedi pasti sedang marah padanya. Jika sudah seperti ini, akan sulit baginya untuk berbaikan dengan suaminya itu.


Dengan ragu, Sefia melangkah memasuki kamar utama dan ia langsung disuguhkan oleh suaminya yang sedang duduk bersandar di papan ranjang, sembari menyilangkan kakinya dan membaca buku.


Pelan-pelan Sefia masuk kedalam kamar lalu duduk disamping suaminya, walaupun Dedi tak sekalipun menoleh padanya.


"Sayang." panggilnya lirih, dengan nada kelembutan.


Dedi tetap membaca buku yang dipegangnya, tak menghiraukan sapaan Sefia.


"Kamu masih marah, ya? Maafin aku ya? Aku tahu aku salah sudah meragukanmu, aku punya alasan untuk itu."


Dengan kesal, Dedi menutup buku yang ia baca lalu menoleh pada istrinya itu. "Alasan apa yang ingin kamu berikan?"


"Dia.. maksudku Anggi, dia mengangkat telfon dariku dan mengatakan sesuatu yang membuatku khawatir."


"Maaf." sahut Sefia menunduk seketika.


Dedi memutar bola matanya jengah, bersindakap dan memilih memandang lurus ke depan. "Kamu pikir aku semudah itu melirik perempuan lain, aku kecewa padamu."


"Tapi sayang, aku hanya takut." memegang lengan suaminya dan sedikit mengguncangnya. "Sungguh aku mencintaimu."


"Lalu, kenapa masih meragukanku?" tanyanya telak, membuat Sefia tak mampu menjawab.


Dedi menghembuskan nafasnya kasar, lalu berguling ingin meranjak dari tempat tidur tetapi dengan sigap Sefia langsung memeluknya dari belakang, begitu eratnya.


"Maaf." rengeknya. "Jangan bersikap seperti ini! Aku gak bisa kalo kamu marah dan diemin aku kayak gini, aku gak sanggup." ucapnya sembari menghapus air matanya yang menetes, tak tahan jika suami yang selama ini selalu bersikap hangat lalu berubah dingin kepadanya. "Tolong maafin aku ya sayang? Aku mohon padamu."


"Fia, lepas!" pintanya.


Sefia menggelengkan kepalanya cepat, mengeratkan pelukannya. "Gak mau, maafin aku dulu." rengeknya.


Dedi lebih memilih pasrah, ia pun kembali duduk disebalah istrinya.


Tanpa permisi, Sefia langsung mengecup pipi suaminya itu lalu memeluknya. "Aku sayang kamu." rayunya.


"Dih, udah pinter ngerayu ya sekarang." ledeknya.

__ADS_1


"Kan kamu yang ngajarin." sahutnya terkikik geli, membuat Dedi tak tahan untuk mengulas senyum.


"Dasar." Dedi menjitak kepala Sefia hingga ia mengaduh kesakitan.


"Jadi, udah gak marah nih?" tanyanya seraya bercanda.


"Gak." memalingkan muka. "Aku masih marah tahu."


"Yaudah kalo marah, terserah kamu deh. Seharusnya yang marah itu aku karena kayanya kamu biasa aja tuh saat aku bilang kalo Anggi lancang angkat telfon dariku dan mengatakan hal yang melukaiku." sahut Sefia pura-pura tak peduli dan ingin beranjak pergi, tapi kali ini Dedi menahannya.


"Iya deh aku maafin, sini peluk." pintanya, tapi Sefia enggan memeluknya hingga Dedi menarik Sefia agar berada dipelukannya.


Sefia mendongak. "Kamu belum jawab! Kenapa ponselmu bisa ada di Anggi?"


"Aku gak sengaja menjatuhkannya, dan aku juga gak heran soal itu."


"Maksudmu?" Sefia mengerut kening, bingung.


"Aku tahu dia itu siapa, aku bukan orang yang sebodoh itu untuk mengangkat seseorang menjadi sekretaris pribadiku."


Seketika Sefia kaget. "Jadi kamu udah tahu kalo dia adik Sherly?"


Dedi mengangguk. "Iya, aku hanya penasaran tujuan Sherly mengirim dia kepadaku untuk apa. Dan seperti yang kamu tahu, dia ingin membuat rumah tangga kita berantakan tapi kamu malah membuatnya menjadi kenyataan. Kamu termakan kata-katanya dan meragukanku." sahutnya kecewa.


"Maaf sayang, kamu sih gak bilang dari awal sama aku."


"Aku juga pengen nguji kamu sih sebenarnya, tapi ya... kenyataan juga. Siapa sih yang gak marah kalo pasangan kita gak percaya sama kita, bahkan meragukan kesetiaannya. Lebih lagi, kamu ninggalin Rian yang lagi sakit waktu itu."


Sefia memeluk Dedi erat. "Maaf sayang, maaf." mencium pipinya, sebelum kembali lagi mengeratkan pelukannya.


"Jadi.." Dedi melepaskan pelukan istrinya, lalu memegangi kedua sisi pipinya. "Mulai sekarang, kita harus saling percaya, ya? Juga harus saling terbuka." pinta Dedi pada istrinya itu.


Sefia mengangguk. "Iya." sahutnya tersenyum.


Lalu Dedi ingat sesuatu, dan memeriksa tubuh Sefia.


"Ada apa?" tanya Sefia keheranan.


"Kamu gak diapa-apain sama penjahat itu, kan?" tanyanya khawatir.


"Enggak kok." sahutnya, lalu berpikir. "Kamu tahu darimana soal itu?"


"Kamu pikir suamimu ini siapa sampai hal seperti ini saja tidak tahu." sahutnya enteng.


Seketika Sefia mulai kesal dan memukul dada bidang suaminya. "Telat tahu khawatirnya." teriaknya kesal.


"He he maaf."


****

__ADS_1


TOLONG VOTE POIN, LIKE DAN KOMEN.


Yang belum tahu caranya vote bisa klik VOTE disebelah nama Author, lalu Klik jumlah poin yang ingin kamu berikan 10,100,1000.


__ADS_2