
Angga melajukan kendaraannya jauh dari pusat perkotaan, lalu berhenti pada sebuah rumah sederhana.
Disana terlihat seorang wanita yang tak asing baginya sedang berdiri di halaman rumahnya sedang menjemur pakaiannya.
"Kita sudah sampai." ucap Angga pada Yuda, yang sedari tadi hanya duduk diam karena semua tak dapat diterima dengan akal pikirannya karena terlalu mendadak untuknya.
Anggapun turun dari dalam mobil, begitu pun Yuda yang akhirnya menyusul.
Lia yang mendengar seseorang menutup pintu mobil, lantas dia menoleh. "Mas Angga." gumamnya.
Lalu ia menoleh pada pemuda yang berjalan pelan disampingnya, Lia tertegun serta membelalak kaget. "Apakah itu Yuda, anakku?"
"Lia." sapa Angga mendekati, kemudian menoleh pada Yuda yang berada disebelahnya. "Yud, ini adalah Lia. Mamamu, orang yang sudah melahirkanmu."
Mendengar itu, Lia jadi tersenyum. "Anakku." sapanya ingin memegang pipi Yuda.
Tapi Yuda malah menepisnya. "Jangan sentuh aku!" bentaknya dengan mata nanar.
Tanpa diduga, Yuda langsung berbalik dan berlari pergi, tidak menghiraukan papanya yang berteriak memanggilnya untuk kembali.
"Maaf ya Lia? Aku tidak tahu Yuda akan bersikap seperti ini."
"Tidak apa-apa mas, dia pasti masih syok dan kecewa kepadaku. Tapi apa yang menyebabkan mas datang kemari dan menceritakan semuanya pada anakku?"
Angga menghela nafas berat. "Mamaku sudah membuat cerita yang mengada-ngada pada Yuda, membuatnya salah paham dan membenci Sefia serta anaknya." memegang kedua lengan Lia. "Ku mohon, ceritakan semuanya pada Yuda agar dia mengerti. Sekalipun dia tidak akan lagi menganggapku sebagai papanya lagi."
Lia tersenyum ketir. "Tidak perlu khawatir mas, aku akan menyusul Yuda." sahutnya tenang, kemudian segera melangkah cepat mengejar Yuda.
Ia tahu bahwa Yuda tak kan pergi jauh karena ini adalah daerah asing untuknya.
__ADS_1
****
Terlihat Yuda sedang duduk disebuah bangku panjang, ia menunduk sedih sembari mengepalkan tangannya penuh emosi.
Kemarahan dan kesedihan terkumpul menjadi satu, ia begitu bingung dengan segala apa yang terjadi. Jika memang benar itu adalah ibu kandungnya, lantas mengapa dia meninggalkan Yuda?
Lia menghela nafas lega ketika menemukan Yuda, ia kemudian melangkah menghampiri anaknya itu. "Yuda." sapanya, memegang bahu Yuda dan duduk disebelahnya.
Yuda menundukkan kepalanya, tapi kemudian ia beranikan diri untuk menatap perempuan itu. "Katakan pada saya bahwa papa saya berbohong tentang Anda! Mama saya sudah meninggal, kan?" tanyanya penuh ironi.
"Nak, aku ini memang mamamu. Perempuan yang sudah mengandung serta melahirkanmu." sahutnya pilu.
"Aku tidak percaya itu!" tegasnya. "Mamaku tidak akan tega meninggalkanku!"
Lia memegang kedua sisi wajah Yuda, agar lebih menatapnya. "Maafkan mama, Nak! Mama terpaksa melakukan itu demi kebaikanmu." ucapnya terisak.
Yuda kembali menepis tangan Lia. "Tidak! Kamu hanya berbohong, mamaku sudah lama meninggal."
"Kebaikan apanya, hah?" bentaknya. "Aku merindukanmu, merindukan sosok seorang ibu sejak kecil. Aku kesepian, aku sendirian. Tapi apa yang telah kamu lakukan? Kamu dengan seenaknya mengatakan semua demi kebaikanku. Itu omong kosong!"
"Yuda, dengarkan mama!" memegang dadanya. "Mama lebih menderita dibandingkan denganmu, mama tersiksa setiap hari merindukanmu tapi mama tahan karena itu semua demi kebaikanmu. Tiada ibu yang tega pada anaknya, Nak."
"Demi kebaikan apa yang Anda maksud? Dengan membiarkan anaknya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu? Itukan yang Anda maksud demi kebaikan saya?" tanyanya menyeringai, tertawa frustasi.
"Mama telah melakukan banyak dosa." sahutnya. "Mamamu ini terlalu banyak salah dan tidak pantas disebut sebagai mamamu."
"Hah! Alasan apa itu? Siapa didunia ini yang dapat menghakimi seseorang seperti itu." sahutnya remeh, beranjak berdiri ingin pergi.
"Papamu, dia bukan orangtua kandungmu." seketika langkah Yuda terhenti.
__ADS_1
Yuda berbalik, menoleh. "Apa yang baru saja Anda katakan?"
"Dia bukan orangtua kandungmu." sahut Lia lagi dengan tegas.
Yuda mencengkeram kedua sisi lengan mamanya lalu mengguncangnya. "Lagi-lagi Anda hanya berbohong, kan?" teriaknya, terisak.
"Itulah kenyataannya Nak, maafkan mama."
Seketika Yuda mengacak rambutnya frustasi, mengerang sudah tak mampu mencerna lagi.
"Mama mengandungmu lalu menikah dengan papamu, mama telah menipu papamu dengan mengatakan bahwa dia telah menghamili mama dan membuat keluarga papamu yang sudah dia bina jadi hancur karena mama." ucap Lia menjelaskan dengan tenang agar Yuda mampu menelaah kata-katanya. "Tapi kebohongan mama itu tidak bertahan lama, tetapi karena kebaikan papamu, dia masih mau menerima dan merawat mama sampai kamu lahir di dunia tapi mama sungguh sangat malu, ingin mati saja rasanya."
"Maka dari itu mama tidak tega jika kamu harus diurus oleh perempuan berdosa ini." menepuk dadanya sendiri. "Mama terlalu hina untuk kamu anggap sebagai orangtuamu. Maaf. Maaf." sambungnya semakin terisak, menutup wajahnya dan menangisi segala penyesalannya.
Melihat orangtuanya menangis, membuat hati Yuda teriris sakit. Ia kemudian memeluk mamanya itu. "Yuda sudah mengerti. Terimakasih sudah melahirkanku ke dunia ini, terimakasih sudah membuatku bertemu dengan papa Angga yang sangat menyayangiku." ucapnya sama terisaknya.
Dan Lia membalas pelukan anaknya itu. "Terimaksih juga sudah mau mengerti keadaan mama, mama menyayangimu."
****
Jangan Kendor POINNYA :*
Dengan Kalian menyumbangkan POIN KALIAN, Maka Kalian sudah mendukung Author dengan Penuh.
Author sangat bersyukur dan berterimakasih untuk itu.
Yang Belum tahu caranya, Tinggal ke BERANDA dan Klik PUSAT MISI.
Bagi Noveltoon, Langsung Klik POINKU diberanda.
__ADS_1
10,100,1000 terserah yang penting Ikhlas Lahir Batin.