
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, mereka kini berada di perpus bersama. Bahkan yang tidak masuk dalam rencana pun ikut bergabung, yaitu Erfan.
"Desi, boleh tanya dong." sapa Erfan merayu, pada gadis yang tengah menopang dagu tak hentinya menatap Rian.
"Apa?" tanyanya ketus, dengan nada kesal karena Erfan sudah berani mengganggu konsentrasinya menatap pemuda yang berada didepannya.
"Nomor lima agak susah nih. Kasih rumus yang simple dong!" pintanya merayu.
"Coba gue liat!" ia menerima buku yang sodorkan Erfan. "Gampang kayak gini lo ga bisa? Yaelah Erfan, pantas aja nilai matematika lo anjlok. Gak pinter sih." ledeknya.
"Lo mau ngajari apa mau ngeledek, sih?" dengusnya.
Tanpa menjawab, Desi pun memberi rumus yang mudah agar Erfan mampu mempelajarinya. "Nih, gue kasih rumus sama contohnya! Lo usaha jawab sendiri."
"Makasih Des, baik deh." pujinya. "Kalo gini sih gue bisa ngerti."
"Huh!" Desi membuang muka, lalu kembali menopang dagunya menatap Rian.
"Des, yang ini gue gak ngerti! Bisa bantu gue buat jelasin gak?" tanya Rian meminta tolong.
"Yang mana sayang?" tanyanya dengan senang hati, membuat Erfan menyatukan alisnya.
"Yang ini." Rian memberitahu.
"Wah, yang ini ya." Lalu Desi menjelaskan pada Rian secara terperinci hingga mendapat jawaban dan ia sampai benar-benar mengerti.
"Oh iya iya, gue udah ngerti sekarang." ucap Rian ketika sudah paham.
"Aduh, Rianku pinter banget sih. Dijelasin dikit aja udah ngerti." pujinya. "Bener-bener jodoh Desi deh."
Erfan yang mendengar itu pura-pura mual. "Kupret! Gue aja minta tolong dikatain bodoh, sudah gitu cuma dikasih rumus tanpa penjelasan pula. Coba Rian, udah dijelasin Rinci banget eh mulutnya sampek diabetes pula."
Sontak semuanya jadi tertawa, dan Desi hanya menjulurkan lidahnya saja. "Masa bodoh, Erfan bodoh."
"Dih, jahat banget."
Loli menepuk bahu Erfan, masih dengan gelak tawanya. "Sabar ya, sabar."
Erfan hanya bisa memanyunkan mulutnya, dan Desi kini beralih duduk disebelah Rian.
Mereka semua saling belajar dan saling bantu, kecuali Desi yang hanya bisa menatap Rian saja karena matematika sudah berada diluar kepalanya.
"Rian, semester depan mau ikut liburan gak? Katanya anak-anak di kelas bakal ngadain liburan bersama gitu." tanyanya.
"Hm. Gak kayaknya, gue dirumah aja."
"Loh, kenapa? Kan enak rame - rame. Ada Desi juga kok he he."
__ADS_1
"Semester depan gue gak bisa kemana-mana soalnya mami udah hamil gede, semester depan perkiraan akan lahiran." sahutnya. menjelaskan.
"Mami kamu?" tanyanya terkejut, kemudian Rian mengangguk. "Mertuaku bakal lahiran, aduh bakal punya adik bayi yang imut dan lucu kayak aku dong."
Sontak Rian jadi terkekeh geli, lalu mengacak rambut Desi gemas. "Lo ada ada aja sih Des."
Desi jadi tertawa malu. "I love you Rian." ucapnya kemudian, sembari membentuk hati dengan jemari.
"Love you too." malah Erfan yang menyahut.
Desi yang mendengar itu lantas beranjak berdiri dan langsung menendang tulang kering Erfan hingga pemuda itu mengaduh kesakitan.
"Argh! Sinting lo Des." umpatnya sembari mengaduh. "Sakit banget tahu, anjirrrr."
"Lo sendiri yang cari masalah sama gue." sahutnya tak peduli, lalu menoleh lagi pada Rian. "Sayang, calon pacarmu digoda nih! Gimana dong? Cemburu dong!"
"Siapa yang godain lo maemunah?" sahut Erfan meninggi, tapi Desi tak peduli.
"Bilang cemburu dong!" desak Desi mengguncang lengan Rian.
"Iya iya." sahut Rian dengan paksa.
Sontak Desi jadi meloncat kesenangan, dan teman lainnya hanya bisa menggelengkan kepala saja melihat kelakuan temannya yang kelewat aktif itu.
"Aduh! Bisa struk gue kalo lama-lama bareng Desi." ucap Erfan heran.
****
"Kalian berdua mau langsung pulang?" tanya Loli dan Desi.
"Enggak, gue masih mau mampir beli buku." sahut Mega.
"Dan Gue yang nganter." sahut Yuda.
"Gak ada yang tanyak." ledek Desi pada Yuda. "Yaudah kalian berdua hati-hati. Kita duluan." pamitnya kemudian.
"Iya, kalian juga hati-hati." melambaikan tangan.
Yuda dan Megapun melaju pergi menuju toko buku, sesampainya disana mereka berdua sungguh sangat sial. Mereka bertemu kembali dengan Rendi dan kawan-kawannya.
"Wah! Kalian datang kesini juga rupanya." sapa Rendi menyeringai, diarea parkiran.
Seketika Yuda menarik Mega agar bersembunyi dibalik tubuhnya. "Itu bukan urusan lo." sahut Yuda menantang.
"Whoa, kayaknya nantangin nih." ucap Rendi sembari tertawa mengejek dengan teman-temannya.
"Kamu cari tempat yang aman, biar aku yang ngadepin mereka!" pinta Yuda pada Mega.
__ADS_1
"Tapi Yud, mereka banyak." sahut Mega ragu, dan Yuda pun tahu itu. Ia tidak bisa melawan mereka yang banyak karena terlihat jelas tubuh mereka sudah terlatih.
"Gak apa-apa." sahutnya mencoba tenang. "Sebaiknya kamu pergi sekarang."
Megapun mundur lalu bersembunyi dibalik mobil salah satu pengunjung.
Rendi kemudian menjentikkan jemarinya, memberi kode supaya teman-temannya langsung menghajar pemuda yang telah merebut pujaan hatinya.
Awalnya Yuda mampu menangkis pukulan mereka, tapi kemudian ia terkena tendangan dan berakhir jatuh terjerambat ketanah.
Yuda masih mencoba untuk beranjak berdiri dan melawan mereka kembali, walaupun Yuda dapat menghajar mereka satu-satu tetapi tenaganya mulai lemah karena kalah jumlah.
Hingga kemudian secara kebetulan Rian datang dan berlari menendang salah satu musuhnya.
Yuda jadi lega karena ada Rian yang dapat membantunya, mereka berdua pun beraksi dan mulai menghajar lawannya dengan berani.
Tapi siapa sangka, saat Yuda tengah melawan pemuda dihadapannya. Tiba-tiba saja Rendi datang dari belakang dengan membawa balok kayu dan hendak memukul Yuda diam-diam.
Rian yang tahu itu, sontak langsung berlari dan menghadang pukulan Rendi dengan tubuhnya sendiri. Hingga dirinya yang masih lemah langsung pingsan seketika.
"Rian." teriak Yuda begitu cemas, lalu melayangkan pukulan keras pada Rendi hingga pemuda itu jatuh terjerambat. Ia kemudian memangku Rian dan mencoba menyadarkan temannya itu. "Rian, bangun!" pintanya dengan panik.
Rendi yang terjatuh kemudian bangkit, kembali mengambil balok kayu untuk ia pukulkan pada Yuda. "Mati kau!"
"Berhenti! Atau saya tembak." teriak salah satu pihak keamanan yang tiba datang dengan Mega.
Sontak Rendi jadi kaku dan menjatuhkan balok kayunya dengan lemah, hingga kemudian para keamanan memborgolnya serta teman mereka yang lainnya. "Ampun pak, saya cuma iseng pak." mohonnya merengek.
"Sudah cepat! Bawa mereka ke kantor!" pinta salah satu pihak keamanan.
Mega kemudian juga melangkah pada Rian yang masih tak sadar. "Kita harus segera membawanya kerumah sakit." ucapnya.
"Iya, kamu benar." sahut Yuda, masih kebingungan.
Merekapun segera membawa Rian kerumah sakit dan Yuda segera mengabari orangtua Rian untuk segera datang.
"Maaf, ini semua gara-gara aku." ucap Mega menangis. "Kalau saja dulu aku gak berhubungan sama cowok berengsekk seperti dia, kejadian ini gak mungkin terjadi."
"Sudah! Bukan salahmu kok. Kita juga gak nyangka kalo dia bakal senekat ini." Yuda merangkul Mega, mengelus lengannya. "Kita harus berdoa untuk kesembuhan Rian, semoga dia gak kenapa-napa."
"Iya, dia kan baru saja sembuh."
****
Selamat berpuasa :)
Dibulan suci Ramadhan kita harus banyak bersedekah agar kita mendapat banyak pahala.
__ADS_1
Dari itu, sedekahlah POIN kalian untuk Author yang Jones ini :D
Jangan lupa VOTE POIN ya!! 10, 100 atau 1000 untuk mendukung karya ini :) Xie-Xie