SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Menyerah


__ADS_3

"Rian berangkat sekolah dulu ya mi, pi." pamitnya pada kedua orangtuanya.


"Beneran Rian udah sehat?" tanya Sefia penuh ragu.


Rian mengangguk cepat. "Sehat kok mi, besok lukanya bakal sembuh kok."


"Iya, tapi.."


"Sudahlah mi." seka Dedi, merangkul istrinya. "Sebentar lagi Rian kan ujian, dia mungkin gak mau ketinggalan mata pelajaran."


"Iya mi, males kalo harus belajar dirumah." sahut Rian membenarkan. "Rian janji akan jaga diri baik-baik dan gak akan bikin mami khawatir lagi."


Sefia menghela, tak bisa mencegah keinginan anaknya. "Baiklah, jaga diri baik-baik."


"Oke mi, pi, aku berangkat dulu." pamitnya, mencium kedua pipi orangtuanya.


"Iya hati-hati."


Rianpun segera berangkat ke sekolahnya bersama dengan supir yang siap mengantarnya.


"Yuk kedalam mi!" ajaknya.


"Iya." sahutnya, dan merekapun kembali duduk di sofa ruang tengah.


"Papi bantu elus pinggangnya ya? Kayaknya mami kesakitan."


"Makasih sayang, mami cuma sedikit kaku saja kok." sahutnya, tapi Dedi tetap mengelus dan sedikit menekan untuk mengurangi rasa sakit istrinya.


"Mami ga penasaran sama jenis kelamin anak kita?" tanyanya kemudian.


Sefia tersenyum. "Penasaran sih, cuma biar jadi kejutan aja. Yang terpenting anak kita lahir dengan sehat nanti." sahutnya, sembari mengelus perutnya yang membesar. "Bukannya papi dulu berpikiran hal yang sama?"


"Iya, tapi sekarang papi pengen lebih mempersiapkannya. Kalau misal perempuan, papi akan menyiapkan segala keperluan untuk bayi perempuan kita."


Sefia kemudian berbalik, menatap suaminya. "Baiklah, jika papi memaksa."


"Nanti malam kita ke rumah sakit, ya!" pintanya dengan antusias.


Dan Sefia mengangguk untuk mengiyakannya, seketika Dedi jadi senang dan mengecup bibir istrinya. "Terimakasih sayang." ucapnya dengan senang.


"Iya." sahut Sefia, dan Dedi memeluknya.


****


Kini Desi sudah didepan gedung sekolahannya, tentu kedua temannya menyambutnya ketika mereka sampai lebih dahulu.


"Meg, tumben lo udah dateng aja? Mana si Yuda?" tanya Desi ketika temannya itu seorang diri.


"Iya nih si Mega, mana pacar lo tuh?" sambung Loli.


"katanya sih dia ada perlu gitu sama papanya, jadi gak bisa jemput gue deh." sahutnya. "Lagian dia kan pacar gue, bukan supir."


Sontak kedua temannya tertawa, lalu menoleh pada pemuda yang baru saja keluar dari sebuah mobil hitam dan mewah.


"Des, Rian dateng tuh!" ucap Loli memberitahu. "Gue sama Mega ke kelas duluan."

__ADS_1


"Gak usah deh, gue bareng kalian aja ke kelas." sahutnya tak disangka.


Tanpa mendapat jawaban dari kedua temannya, Desi melangkah masuk mendahului dan tak menoleh pada pemuda yang selalu disambutnya dengan bahagia.


"Lah, dia kenapa? Katanya bareng tapi kok malah duluan sih." gumam Mega dan Loli bingung.


"Hai." sapa Rian mendekati.


Mega dan Loli menoleh. "Hai." sapa balik mereka.


"Desi mana?" tanyanya.


"Dia udah ke kelas duluan." sahut Mega.


"Oh, ya udah gue nyusul dia." sahut Rian, buru-buru menyusul Desi ke kelas.


Membuat Mega dan Loli saling tatap heran. "Ada apa sih mereka berdua, serba ke balik gini ya? Seharusnya kan Desi yang nyariin Rian dan Rian yang ngehindar."


"Gak tau tuh, aneh."


Segera Rian menyusul Desi kedalam kelas, dan ia menemukan gadis itu tengah duduk sambil mengeluarkan bukunya didalam tas.


Rian sedikit canggung ketika harus memulai menyapa duluan gadis yang selalu mengganggunya itu.


"Ekhem." Rian mendehem, berdiri disamping Desi.


Desi menoleh. "Pagi." sapanya dengan senyum hangat.


"Iya, pagi." sahut Rian, dan Desi kembali tak peduli lalu membaca buku yang baru saja dikeluarkannya.


Seharusnya Desi heboh ketika melihat dirinya datang, apalagi mendekatinya dengan sengaja terlebih dahulu. Anehnya, Desi bersikap biasa-biasa saja, bahkan tak peduli padanya.


"Apa aku ngelakuin salah, ya?" gumannya bingung sendiri.


Sepanjang pelajaran, Rian memperhatikan Desi yang bahkan sekalipun tak menoleh padanya. Ia memilih menyibukkan dirinya sendiri dan tak berisik seperti hari biasanya.


Melihat itu, Rian semakin bingung dan merasa ada sesuatu yang kurang dari hidupnya.


Bukankah ketenangan adalah pengharapannya? Tapi kenapa saat Desi tak lagi mengganggunya, ia malah merasa ada hal yang tak mengenakan hatinya.


****


"Des, gue liat hari ini lo aneh banget deh?" tanya Mega dengan tatapan heran.


Desi terkekeh geli. "Aneh apanya sih?"


"Ya aneh aja gitu, kan biasanya lo selalu gangguin Rian meskipun cowok menyebalkan itu gak suka sama lo "


"Iya bener." sambung loli. "Apa ada masalah?"


Desi menundukkan kepalanya lalu menggeleng dengan pilu. "Gak ada masalah, cuma gue lagi berpikir aja buat nyerah."


"Loh, kok gitu sih?" Loli heran. "Mana semangat Desi yang dulu? Bukannya lo yakin kalo Rian bakal naksir lo balik, tepi kenapa lo sekarang udah mau nyerah aja?"


"Karena gue tahu, seberapa keras gue usaha, Rian tetep gak akan pernah hapus Putri dari hatinya." sahutnya pilu. "Lagian, deket aja gini gue udah seneng kok."

__ADS_1


Mendengar jawaban itu, membuat Mega dan Lili jadi bersedih lalu tiba-tiba memeluk temannya itu.


"Hey! Kalian apa-apaan sih?" tanya Desi ketika dua temannya memeluknya erat.


"Yang sabar ya, Des."


"Apaan sih! Lepasin gue! Sesek banget tahu." pintanya seraya bercanda.


"Gak akan kita lepasin." sahut Mega, membuat Desi jadi tersenyum karenanya.


Sedangkan disisi lain, Rian kini tengah mengaduk minuman dengan sedotan sambil melamun.


"Woy!" ucap Yuda mengagetkan.


"Astaga!" Rian mengelus dada. "Bikin jantungan aja." dengusnya.


"Ha ha, sorry. Lagian lo dari tadi ngapain bengong?" tanyanya heran.


"Ya, lagi mikirin sesuatu." sahutnya pendek.


"Mikirin apa? Siapa? Desi ya?" tebaknya beruntun.


Rian menoleh. "Dari mana lo tahu anjirrr?"


"Ha ha, udah ketebak kali." sahutnya. "Emang si Desi kenapa?"


"Desi sih gak apa-apa, cuma guenya aja yang lagi kenapa-kenapa."


Yuda mengerut kening, bingung. "Maksud lo?"


"Desi hari ini cuekin gue, gak kayak biasanya yang selalu rame." sahutnya lemah.


"Ya, bagus dong. Dia mungkin udah nyerah sama lo." ucap Yuda, sontak membuat Rian kaget.


"Nyerah?" tanyanya mengulang.


Yuda mengangguk. "Iya, mungkin dia udah menyerah buat suka sama lo. Dia tahu kalo perasaan itu gak bisa dipaksa."


Rian pias seketika. "Argh! Kenapa gue gak berpikiran kesini sih." ucapnya frustasi, pada diri sendiri.


Mendengar ucapan Rian itu, Yuda semakin bingung. "Kalo menurut gue sih ini bagus, lo gak perlu kasarin dia buat jauh sama lo." ucapnya sembari meneguk minuman yang baru saja ia pesan.


"Masalahnya itu gue.." Rian tersekat, frustasi. "Gue suka sama dia."


Sontak Yuda jadi tersedak, dan Rian memukul pelan punggungnya agar memberi kelegaan.


"Apa! Lo serius suka sama Desi?" tanyanya kemudian.


"Gak tau, gue masih bingung." sahutnya, beranjak kemudian meninggalkan temannya itu.


"Astaga! Mereka yang saling suka, tapi kenapa gue yang pusing ya." gumam Yuda, ikut frustasi.


****


Terimakasih :*

__ADS_1


Yang tanyain Putri, sabar ya! Ada waktunya :)


__ADS_2