SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Menunggu


__ADS_3

Merekapun kembali kedalam kelas, dan Rian menatap gadis yang tengah duduk dibangkunya. Memantapkan hatinya bahwa dia akan berterus terang padanya.


Dan ketika bel pulang, Desi berjalan masih dengan kesedihannya untuk meninggalkan gedung sekolahannya. Tiba-tiba jemari seseorang menggapai jemarinya dari belakang dan berjalan beriringan.


"Rian." ucap Desi tak percaya bahwa itu adalah Rian.


Rian menoleh dan tersenyum. "Pulang bareng gue, yuk!" ajaknya. "Gue bawak helm dua, kali ini gak akan ditilang."


Desi langsung melepas tautan jemarinya. "Maaf, aku udah dijemput." tolaknya, lalu tiba-tiba pergi memasuki mobil begitu saja.


Rian jadi menghela nafas kasar, mengerti akan perasaan gadis itu yang selalu ia tolak selama ini. "Ya ampun, sakit banget dada gue." gumamnya.


"Hey!" Yuda menepuk bahu temannya, mengagetkannya. "Lo ngapain diem disini?"


Rian menoleh. "Ini juga gue mau ke parkiran kok." sahutnya. "Lo sendiri, ngapain? Mega mana?"


"Lo gak tau, ya? Hari ini si Desi ulang tahun, jadi Mega sama Loli lagi siapin hadiah buat dia."


Rian jadi kaget. "Lo serius?"


Yuda mengangguk. "Masa gue bohong sih." sahutnya. "Ini kesempatan buat lo dapetin perasaannya lagi."


Rian jadi tersenyum sumringah. "Makasih." ucapnya, lalu berlari ke parkiran duluan meninggalkan Yuda.


"Yaelah, gue malah ditinggal." dengusnya.


****


"Mami." sapa Rian, memeluk maminya yang tengah duduk bersantai dari belakang.


Sefia menoleh, mengelus pipi anaknya yang menempel pada sebelah pipinya bahkan mengecupnya. "Gimana ujiannya tadi, lancar?"


Rian duduk sebelah maminya. "Lancar kok mi." sahutnya dengan yakin, kemudian mengelus perut maminya yang buncit. "Mi, Rian boleh tanya-tanya gak?"

__ADS_1


"Tanya apa, sayang?"


Rian ragu. "Kira-kira, kado yang cocok buat cewek apa ya mi?" tanyanya bingung.


Sefia jadi tersenyum curiga. "Buat si Desi, ya?" tebaknya.


"Dih! Mami kok bisa tahu sih." sahutnya. "Iya mi, Desi lagi ulang tahun hari ini."


Sefia berpikir sejenak. "Rian, sebenernya perempuan itu gak melihat seberapa besar dan seberapa mahal hadiah yang pria kasih. Tetapi perempuan itu selalu melihat ketulusan pemberinya." sahutnya, memegangi pipi anaknya. "Jadi, kado yang paling berharga itu adalah ucapan selamat dari orang yang paling ia sayang. Kado apapun pasti dia terima kok."


Rian jadi tersenyum lega. "Terimakasih nasehatnya, mi." memeluk maminya.


"Iya sayang." sahut Sefia.


****


Kini Desi tengah memakai gaun tercantiknya, menyiapkan masakan kesukaan orangtuanya karena orangtuanya berjanji akan datang hari ini, di hari ulang tahunnya.


Ia menata meja makan, menghiasi dengan bunga cantik dan lilin lilin yang mulai menyala.


Kerinduan akan kebersamaan, pelukan dari kedua orangtuanya membuat Desi senang ketika hanya membayangkannya saja.


Meskipun kini hari sudah semakin petang, Desi masih duduk dengan perasaan tenang di meja makan.


"Mama sama papa kok belum pulang, ya?" gumamnya. "Ah, mungkin mereka lagi nyiapin kado buat aku." pikirnya.


Desi mengira bahwa orangtuanya tengah menyiapkan surprise untuknya, jadi ia harus bersabar menunggu orangtuanya.


Mereka sudah berjanji bahwa kali ini akan pulang, tepat dihari ulang tahunnya, jadi Desi harus menunggu mereka dengan sabar.


Tapi, sampai lilin meleleh penuh dan Desi harus menggantinya dengan yang baru, orangtuanya belum juga muncul.


Sampai-sampai dirinya menjadi tidak sabar dan akhirnya memutuskan untuk menunggu keduanya didepan rumah.

__ADS_1


Desi duduk di tangga teras, melawan kedinginan karena hanya memakai gaun yang tanpa lengan. Hingga kemudian dering ponselnya berbunyi, dimana orangtuannya menelponnya dan ia mengangkatnya.


"Hallo ma, mama dimana?" tanya Desi, tersenyum antusias.


"Maaf sayang, mama sama papa gak bisa pulang. Mama benar-benar minta maaf." ucapnya membuat Desi jadi sesak. "Tolong Desi mengerti ya!"


"Iya." sahut Desi singkat, langsung menutup panggilan telepon orangtuanya.


Seketika Desi menangis, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Mama jahat, papa jahat." ucapnya dengan penuh kecewa, merasa dirinya tak lagi disayang.


Ketika ia masih menunduk dengan tangisannya, tiba-tiba sebuah benda menutup tubuhnya dan menghangatkannya.


Desi menoleh pada seseorang yang duduk bertumpu untuk mensejajarkan dirinya dengannya yang tengah duduk. "Rian." ucapnya, tertegun.


Rian tersenyum, menggerakkan jemarinya untuk menghapus butiran bening yang ada di kedua pipi gadis itu. "Lo hilang cantiknya kalo lagi nangis." ucapnya, menggoda.


Seketika Desi menghapus kasar air matanya yang masih tersisa. "Kamu ngapain disini?" tanyanya kemudian.


Rian, langsung menyodorkan sebuah kue kecil dan terdapat sebuah lilin yang menyala kehadapan gadis itu, dan langsung bernyanyi untuknya


Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat ulang tahun. Semoga panjang umur.


Seketika Desi jadi terharu, lagi lagi ia menangis bahagia, dan Rian mulai meminta Desi untuk meniup lilinnya.


Desipun mulai menutup mata, memanjatkan doa, dan tak lama kemudian langsung meniup lilin yang telah menyala.


"Selamat Ulang tahun, Des." ucap Rian dengan tulus ketika Desi selesai meniup lilin.


Dan seketika itu pula Desi langsung memeluk Rian, memeluk erat pemuda itu dengan penuh rasa syukur.


Mungkin, jika bukan karena kehadiran Rian. Ia masih berlarut dengan kesedihannya. "Terimakasih." ucap Desi dengan haru. "Terimakasih kamu udah datang buat aku."


****

__ADS_1


Jangan lupa dukungan POINnya ya gaess.


InsyaAllah akan crazy update terus.


__ADS_2