SELINGKUH

SELINGKUH
Sandiwara Lila


__ADS_3

Zaky menyetir dengan lambat. Melihat Tia menangis tadi pagi seakan dunianya hancur. Semua ini karena kecerobohannya. Andai saja malam itu dia tidak pergi dengan Lila. Andai saja malam itu dia tidak mabuk. Andai saja.


Zaky kembali ke apartemannya. Bi tuti berjanji akan mengabari kondisi Tia nanti. Ia berharap tidak ada hal buruk yang terjadi, padahal hal paling buruk sudah menunggunya di balik pintu.


Zaky membuka pintunya Lalu beranjak ke kamar. Langkahnya terhenti ketika melihat Lila duduk di kaki tempat tidur, memeluk lututnya sambil menangis. Rambutnya tergerai.


" Lila..."


Tidak ada jawaban. hanya terdengar isak tangis.


Zaky berjongkok. Memegang bahu lila.


" Kau kenapa?"


Zaky belum menyadari situasi hari ini karena terjadi begitu cepat. Lila mengangkat kepalanya memandang Zaky. Wajahnya sembab, penuh air mata. Air mata palsu.


" Kau tidak ingat? bagaimana bisa kau tidak ingat?"


" Apa? apa yang terjadi Lila? Aku benar benar mabuk semalam."


Lila menangis semakin kencang. Zaky bertambah bingung.


Lila pulanglah, aku sedang ada masalah.


" Kau meniduriku Zaky..."


" Apa?!"


" Kau meniduriku.. huhuhu..."


Lutut Zaky lemas. Ia terduduk di lantai.


" Tidak mungkin..."


" Bisa bisanya kau mengatakan itu, Kau memaksaku..huhuhu.."


Zaky tertegun. Pikirannya benar benar kacau. Bagaimana bisa keadaan ini bertambah rumit. Tia saja sudah menguras seluruh pikirannya, bagaimana bisa harus di tambah dengan masalah Lila lagi.


Apa aku memperkosanya?


" Aku tahu kau tidak akan percaya Zaky, tapi setidaknya lihatlah itu.." Lila menunjuk noda darah dibatas seprei.


Zaky melihatnya.


Apa itu...Oh tidak. Aku benar benar memperkosanya saat mabuk.


Zaky menggelengkan kepala. Ia meremas rambutnya kasar. Lalu dengan cepat ia meraih tubuh Lila dan memeluknya. Zaky benar benar merasa bersalah.


" Lila maafkan aku, aku tidak tahu harus berkata apa..."


Ada bibir yang tersenyum di balik punggung Zaky.


"Aku takut sekali semalam.. tapi aku tidak ingin mempermalukanmu dengan berteriak.."


" Maakan aku Lila. Aku tidak tahu harus bagaimana..."


Lila melepas pelukan Zaky.


"Zaky, aku akan pulang sekarang, aku tidak ingin istrimu datang dan salah paham dengan kita..."


" Dia sudah datang tadi, saat kau tidur.." wajah Zaky memelas. Ia bersandar di kasur, duduk disamping lila.


Sudah ya? Aku tahu. Aku kan melihat semua nya tadi.


"Apa?! Oh tidak. Dia pasti sangat kecewa. Dia akan mengira kau memilihku. Dia pasti terluka..."


" Ia, dia sangat terluka."

__ADS_1


"Aku akan menjelaskan padanya ,Zaky. Aku akan bilang padanya bahwa kau mabuk."


" Tidak, Ia butuh waktu sendiri.."


" Katakan padanya aku akan pergi.."


" Lila.."


" Ya, aku akan menjauh dari kehidupan kalian.."


" Setelah yang aku lakukan tadi malam?"


" Ya Zaky, ini salahku. Kau selalu memperimgatkan aku bahwa kau sudah menikah. Aku tetap saja mengejarmu. Aku akan pergi sekarang." Lila bangkit.


" Lila maafkan aku.."


" Ijinkan aku ke kantor besok untuk mengambil barang barangku, dan pamit pada Robi."


Zaky tidak menjawab.


" Aku pergi ya." Pamit Lila.


" Apa kau yakin? kau baik baik sajaa?"


" Iya."


Lila mengambil tas nya Lalu pergi. Meninggalkan Zaky yang masih terpaku di lantai.


Ksihan sekali kau Lila. Setelah yang aku lakukan, kau bahkan masih memikirkan aku.


---


Tia tiba di rumah bersama pak pandi. Tidak Ada lagi tangisan. Bi tuti menunggunya di depan. Ia memeluk Bi tuti dengan wajah dingin.


" Kau baik baik saja?"


" Hemm masih."


"Kalau begitu bereskan bajumu, kita beragkat ke Autralia besok. Aku akan mandi dan ke kantor Imigrasi, mengurus passport anak anak.


" Ap- apa?.. Ada apa ini Tia?"


" Tidak apa apa. Aku ingin berkunjung ke tempat mama. Juga ingin menenangkan diri bi.


" Apa kau yakin?"


" Iya." Tia berlalu ke kamar.


Bi tuti menatap pak pandi.


" Ada apa? Apa kacau sekali?"


" Sepertinya. Aku tidak tahu, aku menunggu di parkiran."


" Mereka harus bicara sebelum kami berangkat.."


" Entahlah.."


"Hey, kenapa kau begitu?"


" Entahlah bi, Tuan tidak jera, apa dia tidak susah melihat istrinya menangis?"


" Tadi dia datang kesini."


" Biarlah, Biar di mendapatkan hukumannya. Aku mau tidur."


" Siang siang begini?"

__ADS_1


Pak pandi mengangguk lalu berlalu. Bi tuti geleng geleng kepala.


Tia menghampiri anak anaknya untuk menyusui Nami dan memberitahu soal keberangkatan mereka.


" Kak, Mama mau ke Australia besok. Ke tempat Oma.. ikut?"


" Whoaa.. ikut dong. Naik pesawat kan ma?"


" Ifa juga ikut ya ma. Mau naik pesawat juga.


" Semua ikut kok. Papa yang tidak. Lagi banyak kerjaan.


" Yahhhh..." seru mereka serentak.


" Mungkin nanti papa menyusul."


" Okhay."


Mungkin. Mungkin saja tidak, nak.


---


Zaky berdiri bersandar di pagar balkon apartemennya. Ia mengisap dalam rokoknya. Setelah sekian tahun, ini adalah rokok pertamanya. Dia berhenti merokok karena tia. Dan sekarang kembali merokok karena memikirkan Tia. Asap mengepul di depan wajahnya. Pikirannya melayang entah kemana.


Malam ini adalah malam yang berat bagi Zaky. Ia ingin sekali datang kesana dan menjelaskan semua. Tapi Tia pasti masih rapuh. Selama menikah, mereka jarang sekali bertengkar. Dan Zaky juga jarang sekali melihat Tia menangis. Ia ingat, ketika akan melahirkan saja Tia cuma merengek padanya, minta di peluk, minta di pangku. Ini pasti sangat menyakitkan baginya.


Aku jahat sekali. Karena keegoisanku, aku menyakitinya. Bahkan Lila juga tersakiti, Aku benar benar buntu.Maafkan aku sayang. Aku mohon. Aku tidak ingin kehilanganmu.


---


Tia menatap langit langit kamar. Ia tidur bersama anak anak malam ini. Ia tidak ingin sendiri dan terbawa perasaan.


Ia tidak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi dalam pernikahannya. Selama ini Ia merasa Zaky sangat mencintainya, Bahkan sedikit berlebihan. Zaky sangat pencemburu, bahkan Ia tidak punya media sosial karena takut Zaky cemburu. Ia juga jarang keluar bahkan jarang ikut dalam acara penting di yayasan maupun perusahaan. Semua demi Zaky. Ia juga sepenuh hati mengurus keluarga. Ia mengalah ketika ada konflik konflik kecil untuk menghindari pertengkaran. Dan setelah itu semua, hari ini Ia melihat dengan nyata Zaky berpelukan dengan wanita lain di tempat tidur, tanpa busana. Perasaannya hancur berkeping keping. Dan potret itu terus saja muncul di pikirannya sepanjang hari ini. Terlebih suara Zaky yang mengatakan cinta pada Lila, terngiang ngiajg di telinganya, membuat lukanya demkin perih saja.


Apa yang ada pada dirinya dan tidak ada padaku? Aku merasa tidak berharga. Aku merasa tertipu. Apa kau bosan denganku?


Dan ada banyak pertanyaan lainnya muncul di benaknya malam itu.


---


Berbeda dengan Mereka berdua, Lila sangat bahagia malam ini, Ia senang sekali berhasil mengelabui Zaky dan membuat Tia patah hati.


Sudah aku bilang jangan bermain main denganku. Takdir selalu berpihak padaku. Aku akan menunggu sampai minggu depan untuk mengabari Zaky bahwa aku hamil. Dan dia tidak bisa lari lagi dariku.


---


Pagi ini pukul 10 Mereka akan berangkat. Tia sedang di kamar mengisi kopernya. Bi tuti menemani anak anak makan. Bi tuti menelepon Zaky mengabari bahwa mereka akan berangkat. Ia merasa Zaky dan Tia perlu bicara. Tak berapa lama Zaky tiba di rumah. Bi tuti menghampirinya.


" Tuan, tolong jangan ribut ribut. Kasihan anak anak."


"Iya bi. dimana dia?"


" Di kamar."


Zaky berlari menaiki tangga, bergegas menemui Tia.


Ia tiba di depan pintu kamar. Jantungnya berdebar debar. Ragu. Entah bagaimana respon Tia nanti. Ia melangkah maju.


" Sayang...."


Tia berbalik, mengangkat wajah. tatapannya datar. Zaky bergidik.


" Untuk apa kesini?"


---


Show your Love ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2