
Zaky membuka matanya. Wajahnya tersapu cahaya matahari pagi dari jendela kaca yang besar. Aroma kopi menyambutnya. Ia melihat sekeliling. Ini bukan kamarnya.
" Dimana Aku?" bertanya sendiri.
Astaga ini kamar Lila. Apa aku tidur disini semalam. Aku belum mengabari Tia.
"Kau sudah bangun?"
"Iya, mengapa aku masih di sini?" Mencoba duduk.
" Pria yang kemarin memukul kepalamu dan kau pingsan. dokter datang bersama ambulan, setelah memeriksamu ia mengatakan kau boleh di rawat di rumah saja." Lila meletakkan kopi di meja dekat tempat tidur.
" Mana ponselku? Aku belum mengabari keluargaku. Mereka pasti khawatir..."
Lila mengambil ponsel dari laci dan memberinya pada Zaky.
Zaky membuka ponselnya. 116 missed call. Dia sampai kaget. 98 dari istrinya, beberapa dari pak pandi dan sisanya teman temannya. Zaky segera menelpon Tia. Telpon diangkat. Tersengar suara sendu dari seberang.
" Sayang kamu dimana... aku khawatir sekali. hiks."
" Maaf sayang tidak mengabarimu. Aku sekarang di rumah temanku. Aku terjatuh dari motor. bahuku cidera dan kepalaku terbentur. Aku pingsan itu sebabnya tidak bisa mengabarimu.."
" Astaga sayang, dimana sekarang, Aku akan menjemputmu. Akudi kantor polisi sekarang."
" Apa ?! di kantor polisi? untuk apa kesana?"
" Tentu saja melaporkan kehilangan mu... tapi mereka malah meminta aku menunggu sampai besok. peraturan macam apa itu! Aku kesal sekali!"
Zaki tersenyum.
"Sudahlah lekas pulang, suruh pak pandi menjemputku. Akan aku kirimkan lokasinya."
" Baik sayang."
Zaky menutup telponnya. Lila masih berdiri di samping tempat tidur.
Zaky berdiri memegang bahunya.
" Aku harus pulang, mana bajuku?."
" Aku mencucinya. Terkena darah."
" Lalu aku pakai apa? Astaga.."
Zaky pun menelpon pak pandi minta di bawakan pakaian ganti. Ia segera mandi meskipun bahunya masih perih.
---
Pak pandi dalam perjalanan menuju apartement. Lokasinya sudah di kirimkan. Alamatnya tempat mereka menurunkan lila beberapa waktu lalu.
Apa firasatku benar? Apa Tuan bersama wanita itu? Mengapa minta di bawakan baju ganti? Tuan.. Kenapa seperti ini.
Tiba di depan pintu pak pandi menekan bel. Berharap orang lain yang membuka pintu, karena ada banyak sekali orang tinggal di sini. Lila membuka pintu. Pak pandi membatin.
Sudah ku duga.
__ADS_1
Pak pandi menitipkan baju pada Lila, Lalu menunggu di mobil. Ia merasa sedih sekali. Ia menganggap suami istri itu anaknya sendiri.
Zaky selesai mandi. Ia melihat ponselnya.
" Pak pandi lama sekali."
" Dia sudah datang, itu bajumu diatas kasur."
" Astaga! Kamu mengambilnya? Ia berjumpa denganmu?"
" Kenapa memangnya? dulu dia juga melihatku di motel."
" Apa??"
Zaky cepat cepat memakai bajunya. Pamit pada Lila dan turun ke parkiran.
Mereka berdua dalam perjalanan sekarang. Mereka pulang dengan truk double cabin Zaky. Sementara sedan yang biasa di bawa pak pandi di tinggalkan di sana.
Zaky melihat punggung pak pandi.
"Pak pandi.."
" Tuan, Nyonya sangat khawatir." Pak pandi memotong.
" Hentikan semua ini Tuan, Tuan tidak pulang saja tanpa kabar Nyonya nyaris seperti orang gila. Dia menyetir sendiri ke kantor polisi padahal sudah lama sekali tidak pernah menyetir.
" Kenapa kalian membiarkannya?!."
" Kami tidak bisa apa apa. Dia bahkan tidak mau menunggu saya keluar dari kamar mandi. Dia juga memarahi semua polisi di sana."
" Beberapa polisi sempat menggodanya karena nyonya hanya pakai piyama. Saya menjemputnya dengan taksi.."
Sayang maafkan aku.
" Lalu bagaimana jika Ia tahu anda berselingkuh? berhentilah tuan. Saya akan menjaga rahasia ini sampai mati."
Zaky hanya terdiam. Pak pandi juga diam. Ia merasa sudah terlalu banyak bicara.
Aku tidak bisa berhenti pak. Menghabiskan waktu dengannya membuat ku candu.
---
Akhirnya mereka tiba di rumah. Tia dan anak anak menyambut Zaky dengan sendu.
" Kan sudah Zoya bilang papa jangan loncat lagi."
Zaky hanya menganggukkan kepala. Ia beranjak ke kamar Ingin merebahkan diri. Tia membawakan sarapan untuk Zaky sementara anak anak bermain bersama bi tuti. Zaky duduk meluruskan kaki dan bersandar di kepala tempat tidur. Tia duduk di pinggir kasur.
" Sayang, Arya menelepon ke telepon rumah semalam. Aku sangat shock saat Ia bilang tidak pergi bersamamu. Apa kau pergi lagi dengan Arya yang waktu itu?"
Deg!
"Ia sayang, di.. dia punya hobi yang sama denganku."
Aku bohong lagi.
__ADS_1
"Arya sangat ingin menemuimu. Jika ada waktu temui dia.
" Iya sayang, aku akan menghubunginya."
" Aku ingin lihat lukanya.. dimana? apa masih sakit? mengapa bisa sampai terjatuh?"
" Kurasa aku kelelahan.. ini."
Zaky membuka kemejanya. Terlihat luka hantaman di bahunya. Tia memperhatikan dengan serius. Dia sedih sekali. Selama ini Zaky tidak pernah jatuh sampai terluka. Ia menatap suaminya.
" Dimana lagi? Apa kepala tidak terbentur? " Tia menggosok rambut bagian belakang Zaky dengan kedua tangannya, seperti memeluk.
" Iya, terbentur, Aku pingsan makanya tidak bisa pulang."
" Astaga." Tia berdiri dan membungkuk di depan Zaky. Melihat dan meraba kepalanya mencari apa ada luka di sana. Wajah Zaky tepat di depan dada istrinya. Tergantung Liontin dengan huruf Z kecil di sana.
" Sayang apa kau sedang menggodaku?" Katanya sambil memasukkan tangan ke piyama Tia, meraba punggungnya yang halus.
" Apa si, Aku hanya melihat kepalamu."
Zaky menarik tubuh istrinya hingga duduk di pahanya.
" Jangan keluar dengan piyama seperti ini lagi ya, apalagi ke kantor polisi. Kau ini! Mereka sedang bertugas, mengapa tebar pesona di sana hah? menyetir sendiri lagi, aku kan sudah bilang, kalau keluar rumah harus dengan ku atau pak pandi!"
Memeluk erat pinggang istrinya sambil mendongak ke atas menatap wajah Tia. Hampir tak ada jarak diantara wajah mereka.
"Iya baiklah." berusaha melepaskan diri.
Zaky malah mempererat pelukannya. Zaki merebahkan tubuhnya hingga akhirnya tya berlutut di atas perutnya. Zaki meraba bagian depan. Tia terkesiap berusaha menahan tangan Zaky.
Siapa sih yang sebenarnya menggoda.
" Sayang makanlah sarapanmu, aku sudah membawakannya.."
" Aku mau memakanmu saja!"
"Eh.."
Zaki meraih wajah istrinya dengan kedua tangannya dan mulai mencium.Tia memegang kedua tangan Zaki di pipinya dan membiarkan bibirnya di cium dengan rakus.
Kenapa si. Apa sakitnya sudah hilang. Ganas sekali.
---
Satu jam berlalu. Tia tidur menyamping. Selimut hanya menutupi setengah tubuhnya yang polos. Di sampingnya Zaki memandangnya.
Maaf sayang membuatmu khawatir.
Sikap Zaki yang mesra pada Tia seakan menutupi rasa bersalahnya.
Di tempat lain, anak anak sedang mandi di kolam karet. Si kecil nami yang sudah 6 bulan sedang tengkurap di atas matras di temani pak pandi. Mereka bersantai di halaman belakang. Bi tuti pamit hendak mencuci pakaian Zaki saat keluar kota kemarin. Ia mengambil baju balap zaki dan memperhatikan dengan seksama.
Kata nyonya bahu tuan terluka, tapi tidak ada bekas apapun di baju ini.
---
__ADS_1