SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Menahan


__ADS_3

"Desi sudah tiba disini, pagi tadi. Dia kembali." ucap Yuda memberitahu.


Mendengar itu, sontak membuat Rian membelalakkan matanya yang semula terpejam.


Namun ia kemudian bersindakap kembali dan mencoba seolah tak peduli. "Bukan urusanku. Aku sudah tak mengenalnya lagi."


Yuda hanya bisa menghela nafas, kemudian melangkah kembali untuk duduk disofa tamu. "Bukankah sudah cukup terlambat untuk tidak peduli?"


Rian mengernyitkan dahinya, tak mengerti. "Apa maksudmu?"


"Tanyakan sendiri pada hatimu! Kamu perlu membenarkan hatimu yang sudah patah atau tidak." sahuthya menekan.


"Cih! Membenarkan hati patah?" ulangnya. "Sungguh menggelikan." Rian tertawa sarkas mendengarnya, namun ia sendiri tak memungkiri bahwa hatinya begitu luka ketika mendengar namanya.


"Terserah padamu, menemuinya atau tidak untuk menuntaskan rasa sakit dan kecewa yang kamu miliki." tegas Yuda kembali. "Jangan menanggung beban agar hatimu bisa terbuka untuk orang lain memasukinya!"


Sejenak Rian jadi mengusap kasar wajahnya kembali, ia juga tidak bisa memungkiri meski sudah bertahun-tahun namun ia masih menelan kekecewaan yang membuat hatinya terasa beku.


Mungkin satu-satunya jalan terbaik adalah mencari jawaban atas segala gundah yang ia rasakan.


"Dia dimana sekarang?" tanya Rian ketika selesai mengambil keputusan.


****

__ADS_1


Untukmu, semua hati yang pernah mencintai dan dicintai. Yang pernah di khianati sampai tak ingin hidup lagi. Baca kisah ini dengan hati hati.


****


Kini terlihat seorang gadis berambut panjang terurai, dengan busana yang dikenakannya begitu elegant, serta memakai high heels untuk menunjang tubuhnya yang ramping dan jenjang.


Desi memasuki rumah yang tak asing baginya, mengedarkan pandangan penuh dengan senyum gembira namun terlihat jelas kesedihan tampak di sudut matanya yang memerah.


"Rumah ini tidak banyak berubah, masih seperti yag dulu." ucapnya penuh kagum, dengan matanya yang nanar.


Saat mendiang papanya sakit dan membutuhkan banyak biaya, mamanya terpaksa menjual rumah penuh kenangan ini demi memenuhi kebutuhannya.


Tapi kini Desi telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang terbilang sukses. Baginya saat ini tujuan utama yang ingin dikembalikannya adalah rumah. Rumahnya yang penuh dengan kenangan semasa kecilnya.


"Terimakasih Bik." sahutnya membungkukkan dengan sikap hormat , lalu ia pun duduk di kursi panjang ruang tamu.


"Non, mau minum apa biar Bibik buatkan?" tawarnya.


"Tidak perlu repot-repot Bik, saya datang kemari hanya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini saja." sahut Desi dengan senyumnya yang ramah.


Pelayanan itu jadi tersenyum penuh kagum. Sudah cantik, sopan pula, pikirnya.


"Tidak merepotkan kok Non, ini adalah tugas bibik sebagai pelayan rumah ini. Apalagi Non adalah tamu perempuan pertama yang datang." ucapnya membujuk. "Jadi Non mau minum apa? Jus buah atau —"

__ADS_1


"Coklat hangat saja Bik." sahutnya kemudian.


"Baiklah kalau begitu, akan saya buatkan ya Non. Silahkan ditunggu!"


"Baik Bik, terimakasih."


Sementara menunggu, Desi kembali beranjak dari duduknya lalu kembali mengedarkan penglihatannya.


Semula dia melihat dan meraba lukisan yang terpajang didinding ruang tamu, tapi kini ia beralih menoleh pada sesosok pemuda tinggi pun tampan yang tengah berjalan memasuki ruangan.


Pemuda itu berjalan mendekati dengan sorot mata tajam, bahkan tanpa seulas senyum sedikitpun yang tergambar.


Desi sendiri terkesima pun juga tertegun dengan kehadirannya, jantungnya seketika berdetak kencang dan matanya mulai nanar.


Seketika itu pula Desi memalingkan wajahnya sejenak dan menghela nafas untuk menenangkan diri. Sekuat tenaga ia harus mampu bersikap tenang.


"Apa kabar?" sapa Desi mendongak, pada pemuda yang telah berdiri tegap didepannya itu.


****


OTW NGETIK, MAU CRAZY UP.


WAITTT INI LANJUT NGETIK... JAN MARAH HEHE

__ADS_1


__ADS_2