SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Jangan Pergi


__ADS_3

Rian begitu tidak tenang, bahkan ia hampir tidak tidur semalaman.


Ia yakin betul bahwa Desi tidak serius mengatakan hal kejam seperti itu, tapi mengapa?


Sehingga ketika pagi menyapa, Rian buru-buru datang ke sekolah lebih pagi agar bertemu dengan Desi lebih awal.


Ia menuggunya didepan gerbang sekolah begitu lama, tetapi belum juga melihat Desi datang.


Ketika Loli dan Mega datang, Rian langsung bertanya.


"Desi sekolah gak hari ini?" tanya Rian dengan cemas.


Mega dan Loli hanya menunduk sedih, terlihat dengan jelas mata mereka berdua sembab tapi mereka tahan. "Gue gak tau." sahut Loli dengan marah, dan berlalu pergi begitu saja.


Mega pun pergi mengejar sahabatnya itu tanpa menjawab, membuat Rian semakin bertanya-tanya.


Kenapa mereka aneh sekali, pikirnya.


"Apa mungkin Desi bener-bener sakit ya? Sampek dia gak masuk begini." gumamnya.


"Elo ngapain?" tanya Yuda kemudian, menghampiri temannya itu. "Udah bel masuk, ayo ke kelas." ajaknya.


"Iya." sahutnya lemah, akhirnya melangkah masuk kelas bersama dengan Yuda yang berjalan sambil merangkulnya.


Disisi lain, Loli tak tahan menahan kesedihannya. Ia terisak kembali ketika mengingat temannya itu tiba-tiba berkunjung dan berpamitan untuk pergi.


"Udah jangan nangis!" pinta Mega. "Kita harus merahasiakan kepergiannya, karena ini permintaannya yang terpenting."

__ADS_1


"Tapi elo juga nangis Meg."


Mega menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir begitu saja. "Gue gak tahan."


"Gue juga gak tahan." sahutnya, lalu mereka berdua saling berpelukan dan terisak bersama.


Mereka berdua tak menyadari bahwa Rian sudah datang dan mendengar percakapan mereka sebagian. "Maksud kalian apa? Siapa yang pergi?"


Seketika Mega dan Loli kaget. "Eh, Rian." menyeka airmata mereka dan berpura-pura untuk tenang tapi juga tak bisa.


"Jawab! Maksud kalian apa?" desaknya.


"Desi." sahutnya gugup.


"Iya, kenapa?" Rian jadi geram.


"Desi akan ninggalin kita." sahutnya dengan tangis, membuat Rian jadi tertegun bahkan memundurkan langkahnya yang hendak lunglai.


Langsung saja Rian berbalik dan berlari untuk meninggalkan gedung sekolah, bahkan melompati pagar sekolah agar bisa pergi. Tanpa peduli Yuda yang tengah berteriak memanggil namanya berulang kali.


****


Kini Desi tengah bersiap diri, memasukkan semua barang-barang berharganya ke dalam koper besar miliknya.


Ketika ia mengambil buku hariannya, ia tergerak untuk membukanya kembali setelah beberapa lama tidak pernah menghiasinya.


Membuka halaman demi halaman, membuatnya tertawa sendiri. Teringat bagaimana gilanya dia mencitai seorang pemuda dengan begitu hebat.

__ADS_1


Namun, ketika memandangi fotonya yang sengaja ia tempel membuat seketika hatinya berkecamuk berat. Kesedihan tak terbendung menyapanya kembali.


Ia harus menerima kenyataan bahwa ia harus pergi, menelan cintanya yang tumbuh berulang kali.


Tok Tok Tok


"Non, apa sudah siap? Kita harus segera sampai dibandara." ucap sang supir mengingatkan, membuat Desi tersadar kembali dan menghapus segera air matanya.


Desi mengangguk. "Sudah pak." sahutnya.


Sang Supirpun membantu membawa koper khusus, dimana terisi barang-barang berharga milik Desi.


Ketika semua sudah siap, dan barangpun sudah tersimpan didalam bagasi mobil.


Tiba-tiba suara langkah kaki menghampirinya dengan cepat. "Jangan pergi!" teriaknya.


Seketika Desi menoleh, membelalak kaget. "Rian." gumamnya.


Pemuda itu sekarang sedang mengatur nafasnya yang tak beraturan akibat kelelahan karena berlari, sebelum kemudian ia menatap Desi yang tengah tertegun heran karena ia tak seharusnya datang.


"Aku akan ikut bersamamu." pintanya.


****


Like Oyy! Like!!


Komen gpp meskipun cuma sekedar bilang "UP" wkwkwk

__ADS_1


Biar Novel ini banyak yang baca he he


Dukung terus ya Zeyengku :*


__ADS_2