
Setelah sekian lama Dedi menatap layar laptop di depannya, ia sendiri mulai merasa pening karena beberapa jam lagi matahari akan naik ke permukaan.
Dedi lalu merebahkan tubuhnya, menarik pinggang istrinya untuk mendekat lalu ia peluk untuk dijadikan kehangatan.
Ia menatap lamat-lamat wajah istrinya itu, merasa kasihan padanya. "Mami yang sabar ya! Semua akan segera baik-baik saja." bisiknya lalu mengecup kening istrinya.
Karena sentuhan itu, membuat Sefia terbangun dari tidurnya. Ia menggeliat dan mencoba membuka matanya yang masih berat. "Papi belum tidur?" tanya Sefia serak.
"Ini papi mau tidur, sayang." sahutnya sembari mengelus punggung istrinya.
Sefia menggerakkan jemarinya, mengelus wajah suaminya yang mulai tampak lingkar hitam di sekitar matanya.
Ia mengelus kedua mata suaminya itu sebelum mengecupnya penuh sayang serta rasa penuh syukur.
"Papi pasti sangat lelah! Besok juga harus menghadapi media." ucapnya merasa iba pula pada suaminya.
Dedi tersenyum menanggapinya. "Bukanlah masalah besar sayang, aku bukan apa-apa dibandingkan dirimu yang begitu hebat ini." mengecup pipi istrinya dan berbicara dengan nada kelembutan.
"Ah, papi juga hebat kok." sahutnya, kemudian mendongak kembali. "Bagaimana hasil CCTVnya?"
"Papi belum menemukan apapun, karena sepertinya mereka menggunakan jalan kecil untuk pejalan kaki. Papi juga sudah menyuruh Erfan untuk menyelidiki lebih lanjut. Kita sabar untuk menunggu hasilnya besok, ya?" pintanya pada istrinya yang tak sabaran.
"Baiklah." sahut Sefia pasrah karena tahu suaminya sudah kelelahan. "Sebaiknya kita istirahat dulu."
"Iya." sahut Dedi, membenarkan posisinya kemudian tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
****
Kini ketika pagi hari menjelang, Yuda seperti biasa selalu menjenguk Rian di rumah sakit untuk membacakan buku yang ia suka dan membaginya untuk Rian dengarkan.
"Besok lagi ya!" ucap Yuda ketika selesai membacakan satu bab bukunya.
Ia kemudian beranjak, menatap temannya yang tengah lemah itu. "Gue pamit pulang! Papa bakal marah kalo aku bolos sekolah." pamitnya seraya bercanda. "Lekas sembuh!" doanya sebelum berbalik pergi.
__ADS_1
****
Disisi lain, Sefia yang sudah bangun tengah menyiapkan sarapan untuk suaminya. Menata menu makanan yang dimasaknya bersamaan dengan pelayan dirumahnya.
Dan Dedi keluar menuruni anak tangga dengan buru-buru, lalu duduk di meja makan untuk menyantap sarapan terlebih dahulu.
Ia mengecup pipi istrinya sebelum duduk di meja makan. "Mi, aku akan ke kantor hari ini." ucapnya memberitahu.
"Oh, iya gak apa-apa pi. Mami akan kerumah sakit bareng Ratih, kebetulan dia mau ikut jengukin Rian." sahut Sefia tenang.
"Ratih?" Sefia mengangguk. "Apa kabarnya dia sekarang?"
"Dia baru saja kembali dari luar kota setelah lama ikut suaminya, dan dia tahu lewat media kalau Rian kecelakaan, makanya dia hubungin mami dan mau ikut jengukin Rian." sahutnya menjelaskan.
Dedi mengangguk, menelaah. "Oh begitu, syukurlah."
Sefia ikut duduk untuk sarapan bersama. "Papi udah dapat kabar dari Erfan belum?"
Mendengar penjelasan itu membuat Sefia menghela nafas berat, menjadi tak nafsu lagi untuk makan. Ia kemudian beranjak berdiri meninggalkan suaminya sarapan sendiri. "Mami mau berangkat kerumah sakit." pamitnya dengan nada kemarahan.
Dedi tahu itu, emosi istrinya jadi tak terkontrol, lalu memegangi tangan istrinya untuk menghentikan langkahnya. "Mami yang tenang ya! Kita pasti akan mendapat jawabannya segera."
Sefia mengangguk, kemudian memeluk suaminya dan menenggelamkan wajahnya yang mulai sedih disana. "Mami akan kerumah sakit." pamitnya lagi lalu pergi begitu saja.
Dedi jadi mengusap wajahnya penuh frustasi, kemudian memilih berangkat segera ke kantornya dan tidak meneruskan menghabiskan sarapannya.
Sepanjang jalan Dedi menekan pelipisnya, merasa penting dikepalanya.
"Akibat isu yang terjadi, membuat saham perusahaan jadi turun dratis dan juga saya mendapat laporan bahwa pak Aldy akan menjual saham yang pernah bapak berikan kepada saingan bisnis kita, pak Andre." ucap Erfan memberitahu.
Dedi mengehela nafas berat. "Balik arah!" pintanya. "Kita temui Aldy sekarang."
"Tapi sebentar lagi bapak harus menghadiri konferensi pers dengan sejumlah media."
__ADS_1
"Aku hanya perlu berbicara dengannya sebentar." tegasnya.
"Baik pak."
Erfanpun berbalik arah dan segera melajukan mobilnya pada anak perusahaan milik Dedi yang dimana Aldy ikut mengelola di dalamnya.
Tanpa ijin atau janji temu, Dedi langsung menembus lorong jalan dan langsung masuk ke ruangan Aldy dengan Erfan yang memimpin jalan.
Aldy tidak kaget dengan kedatangan Dedi yang secara tiba-tiba, karena ia tahu bahwa Dedi pasti sudah mendengar kabar kalau dirinya akan menjual saham yang pernah diberikannya.
"Aku ingin berbicara denganmu!" ucap Dedi dengan dingin, dan langsung duduk disofa tamu sambil menyilangkan kakinya.
"Baiklah." Aldy beranjak berdiri dan duduk didepan temannya itu dengan tatapan bermusuhan. "Kamu ingin membicarakan apa denganku?"
"Apa benar kamu ingin menjual saham yang pernah kuberikan pada Andre?" tanya Dedi tanpa basa basi.
"Ya, kamu benar." sahutnya tanpa menyanggah. "Apa kamu keberatan?"
"Cih!" Dedi jadi terkekeh geli. "Saham sekecil itu tidak akan mampu menghancurkan perusahaanku tapi sebaliknya dirimu, kamu dalam sekejab akan kehilangan segala hal."
"Apa kamu baru saja mengancamku?" menaikkan alisnya.
"Tidak! Aku hanya memperingatimu yang bahkan tidak tahu rasanya berterimakasih dan tidak tahu diri ini."
Aldy jadi tertawa sarkas. "Bahkan seorang Dedi sudah mampu berbicara kasar padaku." ejeknya. "Tidakkah kamu berpikir bahwa aku sedang melihat jijik padamu? Sama halnya dengan Putramu yang brengsekk itu." umpatnya.
Seketika Dedi beranjak dan langsung mencengkram kerah Aldy dan melayangkan pukulan padanya. "Jaga ucapanmu!" geramnya.
*****
Kamsamida :* Author kangen Kiko dan Dion T_T ada yg kenal gak?
__ADS_1