
Bibi Tuti duduk di kamarnya. Malam sudah larut namun Ia tetap tidak bisa memejamkan matanya. Ia duduk di pinggir jendela menatap halaman belakang.
Apa kurangnya Tia. Ia selalu menurut. Saat Tuan ingin punya anak lagi, saat Tuan menyuruhnya untuk diam dirumah karena Tuan cemburu. Ia cantik, berpendidikan, dan punya karir yang bagus. Semua Ia tinggalkan demi pernikahannya, suaminya, anak anaknya. Bahkan aku sendiri kalah pintar memasak dengannya. Ada apa tuan.. apabyang dimiliki wanita itu tapi tidak dimiliki Tia ku? Apa mungkin... Tia tidak dapat menemanimu karena sibuk dengan anak anak? Jika itu masalahmu, Aku akan memberinya waktu luang denganmu... Aku akan mengambil alih semua pekerjaannya ketika kau tiba di rumah. Ya... hanya itu satu satunya yang bisa aku lakukan, untuk menyelamatkan pernikahan ini...
Kedua mata Bi tuti berkaca kaca. Ia kini merebahkan dirinya dan mencoba untuk tidur.
---
Pagi hari yang sibuk. Tya sedang mandi pagi bersama si bayi. Zaky sedang sarapan bersama anak anak. Bi tuti menemui Pak Pandi. Mereka berbincang di dekat pintu gerbang.
" Pokoknya kalau mobil Tuan sudah kelihatan dari jauh, kabari Aku ya Pak Pandi!"
" Baik bi, Saya juga tidak mau mereka berpisah. Kita sudah seperti keluarga sendiri."
" Baiklah, Aku masuk dulu. Tuan mau pergi ke kantor. Aku akan mengajak si kecil bermain."
" Iya bi."
---
Zaky tiba di kantor, beberapa karyawati berbisik bisik. Mereka Iri sekali karena Lila punya mobil baru. Pasti dari Pak Zaki kata mereka.
Kalau jadi simpanan dari dulu aku juga bisa menggodanya. Aku pikir dulunya dia bukan tipe pria seperti itu.
Iya, Dia sempurna sekali. Tapi karna dia sangat kaku aku pikir dia mungkin tidak akan tergoda.
Begitulah omongan mereka di belakang bosnya.
Zaky masuk ke ruangan Sekretaris. Hanya ada Lila di sana.
" Kau sudah datang? Jangan ganggu aku ya, Aku sedang sibuk mempersipkan pertemuan penting untukmu. Robi izin, bimbingan pra nikah katanya."
" Cih, sombong sekali kau ini." Katanya sambil mengacak rambut Lila.
" Hey, butuh waktu lama mengaturnya agar rapi begini tau?"
" Yasudah. Temui aku saat jam makan siang."
" Baik."
---
" Tia..."
" Iya bibiku sayang, akhirnya kau memanggil namaku."
" Bolehkah aku mengatakan sesuatu?"
" Katakan saja bi."
"Maukah kau berjanji, mulai hari ini, setiap suamimu pulang kau akan menyambutnya, dan menemaninya makan. "
" Bibi, kami sudah fleksibel tentang itu. jika ada waktu aku akan melakukannya. setidaknya aku selalu mempersiapkan pakaian dan makanannya, aku juga menemaninya tidur kan? hahaha..."
" Tidak. Jika kau menganggapku seperti Ibumu, maka patuhilah permintaanku ini."
" Bibi kenapa si? Iya baiklah, Aku akan mematuhinya."
Ada apa bibi tumben sekali, Lagi pula aku kan sudah berusaha.
---
Menjelang makan siang, Zaky bersiap siap akan makan di luar bersama Lila. Tiba tiba pintunya terbuka. Arya datang mengunjunginya.
" Hey! Kau datang kesini?"
" Astaga, Apa kau sesibuk itu? sampai lupa menghubungiku? Aku sampai harus mengatur ulang jadwalku untuk bertemu denganmu."
__ADS_1
" Hahaha.. maafkan Aku, duduklah."
Arya lalu duduk di sofa dalam Ruangan kerja Zaky. Zaky duduk di sofa berhadapan dengan Arya.
" Aku bangga sekali pak walikota mengunjungiku, hahaha" Ujar Zaky.
" Kalau begitu kau harus mentraktirku makan siang."
" Baik baik baik."
Tetdengar ketukan pintu. Lila masuk. Ekspresi wajah Zaky segera berubah.
" Ohh hemm.. Nona Lila ini jam makan siang. Jika ada keperluan, kau bisa menemuiku setelah makan siang."
Lila yang baru menyadari ada orang lain di sana segera mundur beberapa langkah.
" Ohh iya Pak, baik. Permisi."
Lila pun keluar. Zaky terdiam sebentar. Arya menatap Zaky sambil tersenyum.
" Kau ini!" Kata Arya
" Apa?"
" Aku atau kau yang mengatakannya?"
" Apa? Aku tidak mengerti maksudmu!" Zaky mengubah posisi duduknya. bersandar dan melipat lengannya di dada.
" Lihatlah, Kau merasa tegang sekarang! hahaha."
" Tidak, Aku biasa saja."
"Hey! Tidak mau mengaku, kau selingkuh kan?"
" Apa maksudmu? Kau ini!"
"Hey!"
" Wanita yang tadi kan? Dia selingkuhanmu kan?"
Zaky tidak menjawab. Hanya memiringkan bibirnya sambil menatap Arya. Seperti tertangkap basah.
" Hahaha.. dugaanku benar.."
" Sudahlah.. "
" Apanya yang sudah? Saat aku kerumahmu dan istrimu bilang kau pergi bermain futsal dengan Arya, Aku sudah curiga. Dan saat Aku menelponmu dan Ia bilang kau keluar kota bersama Arya Lainnya, Aku semakin yakin kau berselingkuh. Apa kau tidak punya nama lain untuk berbohong?"
Zaky tertawa mentah.
" Hey? Apa yang kurang dari istrimu itu hah?"
Arya meremas kertas dan melemparnya ke bahu temannya itu.
" Mengapa melemparku?" Zaky melempar kembali remasan kertas itu ke kepala Arya meleset.
" Apa yang kau cari hah? Kenikmatan sesaat?"
" Hey! Apa aku pria seperti itu?!"
" Justru itu, Apalagi yang kau inginkan?"
" Entahlah..." Zaky menggenggam kedua tangannya. Tubuhnya membungkuk, sikunya bertumpu pada lututnya.
" Jawab!" Arya mecondongkan tubuhnya kedepan.
" Aku.. aku tidak punya teman bicara.." Zaky melirik Arya sekali, lalu menunduk lagi. Arya diam saja. Menunggu.
__ADS_1
" Istriku.. dia sibuk mengurus anak anak."
" Mengurus anak siapa?"
" Anakku! kau ini!"
" Jadi apa?"
"Apanya?"
" Apa kau tidak mencermati kata katamu?"
Zaky diam sejenak, berpikir, tapi tidak tahu apa yang di maksud Arya.
"Dia tidak bisa menemani mu karena anak anakmu, dan kau berselingkuh, lihatla betap egoisnya dirimu!"
Deg!
" Apa kau sedang bersaing dengan anak anakmu? Apa kau masih anak anak sehingga berharap istrimu lebih memperhatikanmu? Kau ini penuntut sekali rupanya."
Zaky tersentak.
" Anakmu itu empat, dan kau cuma punya 1 asisten, Lihatnya betap lelahnya Ia mengurus mereka, belum lagi mengurus makanmu, pakaianmu, bahkan mengurus hasratmu, kadang dia lelah, tapi tidak tahu kemana harus bercerita. Bercerita padamu kau anggap keluhan. Kalau dia masih waras percayalah, itu Anugrah untukmu!"
Tiba tiba dada Zaky menjadi ngilu. Ia menarik napas yang dalam.
" Dan kau? Kau bukannya menjadi pendengar malah ingin di dengar? Lihat betapa Egoisnya dirimu. Dan apa? Sekarang kau malah berselingkuh! Apa kau paham kesalahanmu?"
Zaky tidak bisa menjawab apa apa. Karena Apa yang Arya katakan benar adanya.
"Hey! Kau ini kepala keluarga. Tugasmu itu memberi banyak, bukan menerima saja. Lagi pula dia tidak pernah mengabaikanmu dalam hal hal pokok kan? Dia bahkan memasak sendiri makanan untukmu. bersyukurlah!"
" Aku.. aku memang egois."
" Kerena itu berhentilah! Sebelum istrimu tahu dan meninggalkanmu.
Apa? Aku tidak mau dia meninggalkanku.
" Hey.. mengapa doamu jelek sekali."
" Kau pikir dia tidak akan meninggalkanmu jika Ia tahu?"
" Aku tidak mau dia sampai tahu..."
" Jadi hentikan ini! Tidak semua wanita seperti istriku."
" Apa maksudmu?"
Arya tersenyum. Zaky berpikir keras. Lalu menydari sesuatu.
" Hey! Apa kau selingkuh! dasar!"
" Iya. Aku berselingkuh. Tapi dulu. Kau pikir bagaimana aku menghadapi wanita wanita itu, yang selalu bicara dengan kata kata menggoda. dan.. aku bersyukur istriku memaafkanku. Tapi Zaky, tidak semua wanita seperti istriku."
" Apa kau menyesal?"
" Tentu saja. Aku sangat membenci diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku memperlakukan istriku begitu setelah semua yang Ia berikan padaku."
" Kau benar."
Lama Zaky terdiam. Berpikir sudah sejauh mana Ia bermain main. Arya meminum air mineral meski belum di tawarkan.
" Yasudah, Ayo makan siang, Aku akan menculikmu dari selingkuhanmu itu."
Mereka tertawa bersamaan dan pergi makan siang.
Aku sudah kelewatan.
__ADS_1
---