SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Gadis Galak


__ADS_3

perjalanan antar kota membuat Desi lelah, sehingga ketika ia naik bus bersama dengan Rian. Dia tidak dapat menahan kantuknya yang mendera.


Ia tertidur lelap dan kepalanya yang lemah kali ini akan membawanya terjatuh, kalau saja Rian tidak segera menangkap kepalanya lalu membawa kepala gadis itu bersandar pada bahunya. Mungkin saja Desi sudah mengaduh kesakitan bahkan menangis karena malu.


Rian hanya bisa menahan senyum serta gejolak didadanya ketika melihat wajah lelah gadis itu dari dekat, berada dibahunya yang kini kokoh.


Telah lama Desi tertidur, akhirnya bus pun berhenti dihalte dekat rumah Desi.


"Des! Bangun!" ucap Rian sembari menepuk pelan pipi gadis itu.


Desi segera mengerjapkan matanya, mengusap kedua matanya. "Ah, udah sampek ya."


"Iya." sahutnya.


Kemudian Desi dan Rian segera beranjak berdiri lalu mereka keluar, mereka masih berjalan berdampingan sampai Rian memastikan Desi masuk kedalam rumah dengan selamat.


"Hm. Maaf ya? Bahumu pasti sakit gara-gara aku tadi." ucapnya.


"Ah, gak apa-apa kok." sahut Rian tenang. "Yaudah lo masuk gih! Lo kayaknya butuh istirahat."


Desi mengangguk lemah, masih terlihat jelas kantuk dimatanya yang merah. "Sampai ketemu besok ya calon pacar." ucapnya lemah sebelum pergi berbalik.


Rian jadi tertawa. "Dasar! Masih aja ngomong seperti itu."


Rian memandangi punggung Desi yang berjalan, memastikan gadis itu masuk kerumah dalam keadaan baik. Ketika Desi sudah menutup pintu rumahnya dengan rapat, membuat Rian tersenyum lega dan jadi begitu senang.


Ia sendiri memilih segera pulang dan mengabari papinya tentang kejadian tadi.


"Papi bakal marah gak, ya?" gumamnya resah. "Ah, sial banget sih."


****


Kini Rian sudah di rumahnya, bertemu dengan sang papi yang sedang asik menonton bola seorang diri karena Sefia sudah tertidur dan beristirahat didalam kamarnya.


"Pi." sapanya, duduk disebelah papinya.


"Hm, apa?" sahutnya tanpa menoleh.


"Motor Rian kena tilang dan disita pi." sahutnya.


"Oh." sahutnya tanpa sadar. "Apa!" ucapnya lagi kaget, menoleh pada anaknya.


"Maaf pi." ucapnya menyesal.


"Aduh! Gimana bisa kamu sampai ditilang dan motormu di sita?" tanyanya heran.


"Rian lupa gak bawak surat-surat kendaraan."

__ADS_1


Dedi menghela nafas berat. "Baru hari pertama bawak motor udah ditilang aja." dengusnya. "Yaudah itu berarti kamu gak boleh bawak motor, pake mobil aja. Ada supir yang bisa anterin kamu kemana-mana."


"Tapi pi." rengeknya.


"Gak ada tapi tapi!" sahutnya tak dapat dibantah, fokus kembali pada tontonannya.


"Ah, baiklah." Rian jadi menundukkan kepalanya, lalu beranjak berdiri kembali memasuki kamarnya.


Ia kemudian membanting badannya diatas kasur lalu mengacak rambutnya frustasi. "Argh! Sial Sial!" teriaknya.


****


"Hai calon pacar masa depan." sapa Desi pada Rian yang sudah sampai disekolah lebih awal. "Kenapa mukanya ditekuk gitu? Lagi ada masalah kah? Atau karena gak sabar pengen ketemu Desi, ya?" tanyanya cekikikan sendiri.


"Gak ada kok." sahutnya.


"Oh syukurlah kalau begitu." Ia kemudian mengambil kotak makanan didalam tasnya, kemudian ia sodorkan kehadapan Rian. "Aku sengaja bikin ini buat kamu."


"Hah, makanan?"


Desi mengangguk dengan senyum. "Itu Desi khusus bikin buat Rian dengan susah payah loh. Cobain deh!"


Karena Rian masih terdiam, segera Desi membukakan kotak makanan itu lalu mengambil sesendok kemudian ia suapkan pada Rian yang enggan.


Rian sangat ingat betul ketika acara bazar, makanan yang dibuat Desi begitu tidak enak dilidahnya, dan kini pun rasanya tak ada bedanya.


"Emang waktu lo masak ini, lo gak cobain dulu?" tanya Rian heran.


"Ya enggaklah sayang." sahutnya. "Kan kamu yang harus jadi orang pertama yang cobain masakanku."


"Pantas aja." gumamnya, menelan makanan itu susah payah.


"Makan lagi dong! Aaaaa." Desi ingin menyuapi Rian kembali, tapi segera pemuda itu menggelengkan kepalanya.


"Sorry Des! Tapi gue udah kenyang, tadi udah sarapan yang banyak. Takutnya ntar pas pelajaran guenya sakit perut karena kekenyangan." ucapnya beralasan.


Desi menelaah. "Ah iya, Kamu bener juga." sahutnya. "Semangat belajarnya ya calon pacar! Makanannya terusin nanti pas jam istirahat ya." pintanya.


Rian mengangguk dengan berat. "Iya, pasti nanti gue makan." sahutnya berbohong.


Desi kemudian langsung beranjak berdiri untuk kembali duduk dibangkunya sendiri. Tapi ketika ia berbalik, ia langsung tak sengaja hampir bertabrakan dengan teman sekelasnya juga, Erfan.


"Hai sayang." sapa Erfan melambaikan tangan.


Seketika dengan kesal Desi langsung menginjak kakinya dengan kasar, hingga pemuda itu mengaduh kesakitan.


"Aduh! Gila lo ya? Sakit banget tahu." umpatnya, memegangi telapak kakinya yang sakit.

__ADS_1


"Makanya, siapa suruh lo manggil gue dengan sebutan terlarang begitu, hah?" bentaknya. "Cuma bebeb Rian calon pacar masa depan yang boleh panggil gue sayang."


"Dih! Galak banget sih lo Des, tegaan bener. Pantas aja Rian gak mau sama lo, galak bener sih jadi cewek."


"Wah, ngajak berantem nih orang! Mau gue injek lagi, hah?" ancamnya.


Seketika Erfan jadi ciut. "Sorry! Sorry! Gue kan cuma bercanda aja he he." sahutnya. "Desi kan cantik, pinter, imut dan baik hati. Rian nanti bakal jatuh hati." pujinya dengan paksa.


"Ah, lo bisa aja." Desi tersenyum malu- malu. "Makasih Erfan, i love you Rian."


Mendengar itu seketika Erfan jadi melongo, menoleh pada Rian yang hanya menahan tawanya sedari tadi.


Sedangkan Desi melangkah duduk dibangkunya sendiri.


"Loli sama Mega kok belum dateng sih." gumamnya heran.


Tak lama kemudian Mega pun muncul dengan Yuda, sedangkan Loli datang seorang diri.


"Hai Desi." sapa Mega dengan senyuman yang lebar.


"Dih yang lagi pacaran, mukanya udah mirip bunga Marigold aja. Berbau-bau ria." ledek Desi pada Mega dan Yuda.


"Anjirrr! Bisa aja lo Des." sahut Mega memanyunkan bibirnya, kemudian duduk dibangkunya. Kebetulan mereka bertiga itu memang memilih bangku yang berdekatan.


"Oh ya, nanti jadi gak kita belajar diperpus bareng?" tanya Loli.


Desi menoleh. "Jadi dong." sahutnya. "Kita ajak Rian sama Yuda sekalian."


"Oke." sahutnya. "Minggu depan lo kan ulang tahun nih, mau dirayain gak?"


"Gak perlu." sahutnya tegas. "Mama sama papa gue janji bakal dateng, jadi gue spesial hari itu bakal nungguin mereka pulang. Karena kedatangan mereka aja itu udah jadi hadiah terbesar bagi gue."


Loli dan Mega saling bersitatap kemudian beranjak lalu memeluk temannya itu. "Ah, gue jadi seneng juga dengernya." ucapnya dengan haru.


"Selamat ulang tahun ya Des! Walaupun ulang tahun lo masih lama, tapi kita pengen jadi orang pertama yang ngucapin selamat ulang tahun buat lo." ucap Loli, masih saling memeluk erat temannya itu.


"Terimakasih, terimakasih banyak. Kalian memang temen-temen gue yang paling baik." ucapnya begitu bersyukur. "Gue bersyukur bisa kenal kalian berdua."


"Kita juga sama." sahutnya penuh haru, bahkan hampir meneteskan airmata. "Kita juga gak nyangka ketemu temen yang se-cerewet dan segalak elo."


"Ah. sialan kalian!"


Merekapun jadi tertawa bersama.


****


Semoga puasanya lancar ya :) dan Novel ini bakal selalu asyik dan Singkat kok.

__ADS_1


Tahap demi tahap agar alurnya pas.


__ADS_2