SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Kebohongan


__ADS_3

Rian buru-buru keluar rumah, menemui gadis itu yang tengah berdiri di taman depan rumahnya.


"Desi." sapanya, dan tersenyum.


Desi lalu menoleh pada pemuda yang memanggilnya itu, dan Rian pun langsung memeluknya dengan senang.


"Aku pikir kamu akan marah sama aku." ucapnya penuh syukur, karena Rian mengira bahwa Desi tak lagi marah padanya.


Desipun melepas pelukan itu, menatap pemuda itu dengan setenang mungkin. "Rian, aku ingin berbicara denganmu." ucapnya serius.


Rian yang melihat keseriusan itu jadi merasa tidak tenang, ia mengelus wajah cantik didepannya. "Kamu ingin berbicara apa? Sepertinya serius sekali." tanyanya sembari tertawa canggung, untuk memecah susana yang tak biasa ia rasakan.


"Mari kita putus."


Sontak Rian jadi pias seketika. "Hey! Maksudmu apa? Kamu bercanda, ya? Gak lucu Des." Rian jadi tertawa. "Udah yuk masuk kedalam! Diluar dingin." pintanya kemudian menarik tangan gadis itu.


Desi menahan nafas yang sesak, mengikuti langkah pemuda yang tengah menarik tangannya. "Aku serius." ucapnya kemudian, membuat Rian menghentikan langkahnya.


Ia melepas tangan Desi lalu menoleh padanya, pada gadis yang kini menunduk sedih dihadapannya.


"Bagaimana kamu bisa berkata semudah itu padaku?" tanya Rian keheranan, bahkan mengusap wajahnya penuh frustasi. "Memangnya aku sudah melakukan kesalahan apa padamu?"

__ADS_1


Desi memejamkan matanya sejenak, menetralkan pikirannya yang akan hilang kendali. Yang harus ia lakukan saat ini adalah pergi, tanpa beban.


Putus dengan Rian adalah satu-satunya jalan agar ia bisa tenang menjalani kehidupannya nanti. Sehari saja merindu sudah begitu berat, apalagi ia harus menahan kerinduan seumur hidupnya.


"Apa kamu lupa kejadian tadi, kamu masih menganggapku orang yang kasar karena aku pernah berlaku jahat seperti itu pada Putri. Aku tahu kamu masih mencintainya dan gak bisa lupain dia."


Rian memegang kedua pundak Desi, sedikit mengguncangnya. "Kamu tahu betul maksudku gak seperti itu, dan semua ini gak ada hubungannya dengan Putri."


Desi kemudian menepis tangan Rian dengan kasar. "Aku hanya tidak ingin jatuh cinta sendirian, aku tidak ingin sakit sendirian, Rian."


"Desi." tekannya. "Aku ini mencintaimu, begitu mencintaimu. Tolong jangan memberikanku alasan konyol seperti ini!"


"Alasan konyol katamu? Baiklah aku akan jujur padamu." Desi menghela nafas berat, ia harus bisa. "Aku sudah bosan denganmu."


"Aku bosan denganmu." menekan dada Rian dengan kejam. "Selama ini kamu menghindariku, sok jual mahal padaku. Ha ha, hanya karena aku mengatakan mencintaimu lalu kamu mudah tertipu."


"Kamu bohong." yakinnya setengah berteriak. "Mulutmu bisa saja berbohong, tapi matamu tidak. Aku tahu betul bagaimana kamu mencintaiku dengan sungguh."


"Aku gak bohong." teriaknya, sudah frustasi bahkan terisak. "Aku benar-benar tidak pernah mencintaimu, aku mempermainkanmu, Rian."


"Kamu mungkin sedang kurang istirahat, sehingga pikiranmu sedang tidak baik seperti ini." sahut Rian mencoba tenang. "Pulanglah dan istirahat! Sampai ketemu besok disekolah."

__ADS_1


"Enggak, aku baik-baik saja." teriaknya, ketika Rian memilih mengabaikannya. "Aku sudah tidak mencintaimu, aku membencimu."


Rian bersikap tak peduli, berbalik badan bahkan meninggalkan Desi agar ia kembali pulang saja.


Desi hanya marah sesaat, lalu berbohong. pikirnya dengan yakin.


"Rian, aku benar-benar membencimu." teriaknya kembali dengan terisak, ketika pemuda itu menutup pintu rumahnya.


Ia pun lunglai, terduduk ditanah sambil menangis kencang. Runtuh sudah pertahanannya.


"Aku membencimu, Rian." ucapnya menuduk terisak.


"Aku benar-benar..."


"Mencintaimu."


"Selamat tinggal, kita tidak akan pernah bertemu kembali."


****


dengan tekan LIKE tidak akan membuatmu miskin, tapi kaya hati.

__ADS_1


jangan lupa dukungannya ya :)


__ADS_2