
"Terimakasih atas tumpangannya, pak." ucap Anggi pada atasannya itu.
Angga tersenyum. "Iya, sama-sama."
Anggipun berbalik, melangkah pergi dengan ragu tapi kali ini ia memantapkan hati dan berbalik kembali berlari kearah atasannya itu.
Untung saja Angga belum melajukan kendali mobilnya, sehingga Anggi masih dapat mengejarnya.
"Tunggu pak!" pintanya dengan suara terengah-engah, mengetuk kaca mobil dan Angga membukanya.
"Ada apa?" tanya Angga heran.
Tanpa ragu, Anggi langsung kembali masuk kedalam mobil. Mengatur nafasnya yang tersenggal lalu menoleh pada atasannya. "Saya menyukai bapak." ucapnya, lalu mengecup pipi Angga tanpa permisi.
Sontak Angga membelalak kaget, terpaku. "Apa yang baru saja kamu lakukan?"
"Saya menyukai bapak." ucapnya sekali lagi dengan lantang, membuat Angga tersadar.
"Astaga." Angga menghela nafas. "Maaf, tapi saya tidak menganggapmu lebih, jadi jangan salah paham dengan kebaikan yang saya berikan selama ini."
"Iya, saya mengerti." Anggi menunduk kecewa. "Tapi, jika saya berusaha. Bisakah bapak menyukai saya suatu saat nanti?"
Angga jadi tersenyum pilu. "Entah sampai kapanpun itu, perasaan saya tidak dapat berubah. Hati saya sudah ada yang memiliki."
"Apa itu Nyonya Sefia?" tebaknya ragu.
Dengan jujur, Angga mengangguk. "Iya. Saya masih sangat mencintainya, tapi kebodohan yang saya perbuat dimasalalu membuat saya kehilangannya. Jadi, maaf ya?!"
Anggi menggelengkan kepalanya. "Tidak masalah pak, tapi saya akan menunggu bapak. Akan menemani bapak sampai kapanpun itu, walau setelah ini kita akan jadi canggung tapi tidak akan merubah apapun. Saya akan menunggu bapak sampai bapak mengasihani saya." ucapnya dengan senyum sumringah, tak dapat ditolak.
"Tolong jangan..."
"Saya permisi pak." langsung turun begitu saja, tak mau ditolak. "Hati-hati dijalan." teriaknya melambaikan tangan, sambil berlari kecil untuk masuk kedalam rumahnya.
Angga bisa menghela nafas, menggelengkan kepala sambil tertawa. "Astaga, ada-ada saja."
****
Disisi lain, Sefia tengah membantu suaminya mencukur kumis dan janggut tipis yang mulai tumbuh.
"Jangan jauh-jauh!" pinta Dedi pada istrinya itu, lalu menarik tubuh Sefia keatas pangkuannya.
Sedangkan dirinya menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit dinding agar istrinya mudah untuk membantunya mencukur.
Dengan penuh kehati-hatian, Sefia menggerakkan pisau cukur sampai kumis dan dagunya bersih kembali. "Sudah." ucapnya, lalu mengambil handuk basah untuk mengelapnya.
"Tambah ganteng gak akunya?" tanya Dedi menggoda.
Sefia menangkup kedua sisi pipi suaminya, lalu memandanginya. "Ganteng kok, ganteng banget." sahutnya, menggesekkan hidung miliknya.
__ADS_1
Lalu Dedi menarik pinggang istrinya yang masih duduk dipangkuannya dan melumatt lembut bibirnya.
Tapi saat ciuman itu berlangsung, Sefia merasakan sesuatu yang aneh, basah. Lalu dengan sigap turun dari pangkuan suaminya itu.
"Kenapa sayang?" tanya Dedi heran.
"Astaga." Sefia tak menjawab, ia buru-buru lari kedalam kamar mandi dan mengunci diri.
Ia melihat jelas, bahwa celana dalamnya basah dan ada bercak darah. Lama kelamaan bercak yang keluar jadi semakin deras.
Sefia menghela nafas lega, merasa tenang karena ia tidak jadi hamil.
Tok Tok Tok
Dedi menggendor pintu dengan panik. "Sayang, kamu kenapa?"
Dengan ragu, Sefiapun membuka pintu dan menunjukkan kepalanya saja. "Aku tidak apa-apa kok, hanya saja..."
"Hanya saja kenapa?" desaknya.
"Begini, boleh gak tolong ambilin aku sebuah kotak yang biasa aku sediakan dilemari dekat nakas?" pintanya.
"Ah, iya baiklah. Tunggu!"
Dedi langsung mengambilkan apa yang dipinta istrinya itu, ia mengambil sebuah kotak di dalam lemari dan penasaran dengan isinya. "Pembalut? Ini pembalut wanita, kan?" gumamnya heran.
"Ded, kamu apa-apaan, sih? Aku kan malu." ucap Sefia, mendengus.
Dedi hanya terpaku, melihat darah yang menetes dari kemaluann istrinya. "Ini." Dedi memberikan pembalut itu, lalu pergi dengan rasa kecewa.
Buru-buru Sefia memasang pembalutnya dan mengejar suaminya, yang ternyata sedang duduk ditepi ranjang dengan wajah putus asa.
"Sayang." sapa Sefia, tapi Dedi tak menoleh padanya. "Maaf ya? Inikan juga takdir, hanya Tuhan yang bisa menentukannya."
"Iya." sahutnya pendek, lalu membaringkan tubuhnya.
Sefia mengikuti suaminya berbaring disebelahnya. "Kita fokus untuk membesarkan Rian dulu! Aku takut perhatianku akan terbagi. Gak apa-apa, kan?"
"Iya sayang, aku mengerti. Aku akan menunggu sampai kamu siap untuk memberikanku keturunan lagi." sahut Dedi, mengecup kening istrinya.
"Terimakasih."
****
Dan Kini hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun ke tahun sudah mereka lewati bersama.
Rian sudah tumbuh menjadi anak yang tampan dan juga menggemaskan.
"Papi, aku pamit pergi dulu untuk melihat lokasi untuk salon kecantikanku nanti." pamitnya, pada suaminya diseberang sana.
__ADS_1
"Baiklah, hati-hati dan semoga kamu suka."
"Iya papiku sayang, terimakasih." sahut Sefia, lalu memutus sambungan teleponnya.
Lokasi salon Sefia cukup dekat dengan rumahnya, agar ia dapat pulang tepat waktu saat Rian pulang sekolah dan bisa menjemputnya.
Kini Sefia disibukkan dengan berbagai dekorasi tempat salon yang akan segera dikelolanya.
Sesudahnya, Sefia menoleh pada sebuah caffe di seberang jalan dan memilih untuk beristirahat sejenak disana.
Sefia memesan coklat hangat dan memilih duduk disalah satu bangku kosong, tak terduga ia malah bertemu dengan seseorang yang telah lama ia kenal.
"Dek, kamu ngapain disini? Sama siapa?" sapa Angga, sembari duduk didepan Sefia.
"Ah, mas Angga." Sefia tersenyum. "Aku sendirian aja kok mas, lagi istirahat sejenak sebelum lanjut ngatur dekorasi untuk tempat usahaku."
"Usaha?" Angga mengulang kata, dan Sefia mengangguk. "Dimana?"
"Seberang sana mas, aku akan membuka salon disana."
"Wah, deket dong sama rumahku."
"Iya kah, mas? Mas Angga pindah kesini?" tanya Sefia penasaran.
Angga mengangguk. "Iya dek, semenjak kehamilan Lia yang membesar. Mas membeli rumah sekitar sini untuk mas tinggali sama mama juga, dan juga.." Angga menunduk sedih. "Banyak juga kenangan bersama kita dirumah yang lama, jadi aku tidak bisa lagi menempati atau menjualnya."
Kata-kata itu seakan menghujam keras jantung Sefia, membuatnya menggerakkan jemarinya untuk menggapai jemari milik mantan suaminya itu. "Sefi akan mengingat semua hal yang pernah kita lakukan bersama dengan penuh syukur, semoga mas dapat menemukan kebahagiaan."
Angga hanya tersenyum pilu, dan mangngguk. "Iya dek." sahutnya, lalu beranjak berdiri. "Aku pamit pulang duluan ya! Anakku hari ini minta untuk mengajaknya ke wahana permainan."
"Ah iya mas, sampaikan salam sayang untuk Yuda ya."
Angga tersenyum. "Iya." sahutnya lalu buru-buru meninggalkan Sefia.
Sesungguhnya Angga hanya tak sanggup untuk melanjutkan pembicaraannya, tak berani lagi untuk menatap mantan istrinya yang masih melekat pada jiwanya.
"Kebahagiaanku itu hanyalah kamu, dek. Bukan yang lain." ucapnya pilu.
"Aku akan mempertahankan perasaanku ini, perasaan akan tentangmu walau sampai akhir batas kemampuan yang aku miliki. Entah, mungkin takdir Tuhan memberikan aku pilihan seperti ini. Ini juga mungkin sebagai hukuman terindah yang aku miliki. Mencintaimu sampai akhir bukanlah sebuah keburukan, bukan?"
"Jadi, biarkan tangan Tuhan memberikan hukuman padaku seperti ini karena aku yakin suatu saat dikehidupan kedua kita nanti, aku yang akan lebih dulu mengenalmu dan kamu akan mencintaiku tanpa satupun kekurangan yang aku miliki. Aku tidak akan lagi membuatmu kecewa padaku suatu saat nanti. Di kehidupan kita kembali."
"Aku akan berlari kearahmu dan lebih dulu mencintaimu, selamanya."
****
TERIMAKASIH YANG UDAH DUKUNG SEASON 1 SAMPAI SEKARANG.
DAN BERSIAPLAH UNTUK MENJEMPUT SEASON 2 DENGAN PERASAAN MENGGEBU DAN HARU BIRU wkekek
__ADS_1