SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Tanpa Jawaban


__ADS_3

"Yuda, kamu darimana saja? Kenapa bajumu kotor begini?" tanya Angga heran, ketika menyambut anaknya pulang.


Yuda tersenyum tawar. "Habis cari angin aja pa, gak sengaja Yuda jatuh jadinya gini deh." sahutnya beralasan.


"Astaga! Gak hati-hati." menepuk bahu anaknya lalu merangkulnya. "Kita makan malam bareng, yuk!" ajaknya.


"Loh, papa belum makan?"


"Belum, papa nungguin kamu. Laper banget tahu."


"He he maaf pa, lain kali Yuda gak bakal keluar tanpa ijin dari papa."


Angga mengacak rambut anaknya. "Bagus! Anak papa." ucapnya penuh bangga.


****


Disisi lain, Aldy baru saja sampai rumahnya. Lelah akibat pekerjaannya yang menumpuk.


"Ma, Putri. Papa pulang." sapanya memasuki rumah, ketika istrinya dan anaknya tak sempat membukakan pintu untuknya.


Aldy merenggangkan dasinya, melangkah memasuki ruang tengah dan ia langsung disuguhkan oleh istrinya yang tengah duduk terisak begitu sedihnya.


"Mama." sapa Aldy seraya memanggil.


Nadin menoleh, beranjak berdiri dan langsung memeluk suaminya itu. "Pa, anak kita." ucapnya terisak, membuat Aldy bingung.


Aldy melepas pelukan istrinya, memegang kedua sisi lengannya. "Kenapa dengan anak kita, ma?" tanyanya, yang hanya mendapat isakan tangis dari istrinya, hingga ia harus sedikit mengguncang tubuh istrinya itu. "Ma, kenapa dengan Putri?" desaknya.


"Anak kita.." seakan tersekat, Nadin tak mampu berkata. Hanya isakan tangislah yang bisa ia berikan.


Langsung saja Aldy melangkah cepat memasuki kamar anak semata wayangnya, ia membelalak kaget ketika melihat Putrinya bak orang ketakutan ketika melihat dirinya datang.


"Putri." sapa Aldy, melangkah mendekati anaknya.


"Jangan mendakat! Pergi! Pergi!" jeritnya histeris, menjambak rambutnya sendiri.

__ADS_1


Bukan pergi, Aldy langsung memeluk anaknya itu untuk memberinya ketenangan tetapi Putri langsung mendorongnya dan kembali menangis.


"Tolong! Pergi!" lirihnya, gemetar ketakutan.


Aldypun beranjak, tertegun dengan sikap anaknya yang berubah drastis. Ia kemudian kembali melangkah mendekati Nadin. Mendesaknya untuk berbicara.


"Jelasin semuanya, ma! Ada apa dengan anak kita?" bentaknya, frustasi.


"Anak kita.. Putri sudah diperkosa, pa." sahutnya, membuat Aldy begitu lemas dan tertegun seakan tak percaya.


Bagaimana dunia begitu kejam pada anaknya yang disayang?


"Nak, siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Aldy memegangi kedua sisi wajah anaknya itu.


Putri tak menjawabnya, hanya isakan tangis dan jeritan yang diberikannya.


****


Sedangkan Rian kembali pulang kerumahnya dan kebetulan bersamaan dengan papinya yang baru saja turun dari mobilnya.


"Hei anak papi." sapa Dedi, kemudian merangkul anaknya masuk kerumah. "Udah jadian ya sama Putri?" tanyanya kemudian.


Dedi menepuk bahu anaknya. "Udah gak apa-apa, besok kan kalian bisa ketemu disekolah."


"Iya, papi bener juga." Rian jadi tersenyum kembali.


"Kalian pulang barengan." sambut Sefia. "Makan bareng, yuk!" ajaknya.


Dedi jadi memilih merangkul istrinya lalu mengecup pipinya. "i love you." bisiknya menggoda.


Seketika Sefia mencubit perut suaminya, hingga Dedi mengaduh. "Udah tau ada anaknya masih nge-gombal aja."


"Ya biarin lah, mi! Rian udah gede, bentar lagi punya pacar kok."


"Oh ya?" Sefia terkejut, menoleh pada anaknya. "Beneran kamu bentar lagi mau punya pacar?" tanyanya.

__ADS_1


"Ah, gak kok mi." Rian jadi malu. "Papi bercanda doang."


"Yah! Pake malu segala." ucap Dedi terkekeh geli, meledek anaknya.


Rian hanya bisa menebalkan bibirnya, sudah kebal diledek oleh papinya.


Ketika Sefia kedapur, Dedi berbisik pada anaknya. "Kamu inget gak besok hari apa?"


"Hari Kamis, pi." sahutnya cepat.


Dedi mendengus kesal, menjitak kepala anaknya itu hingga Rian mengaduh kesakitan. "Berani ya kamu lupa sama ulang tahun mamimu sendiri! Dasar anak durhaka!"


"Eh! Iya, maaf pi." rengeknya. "Sumpah Rian bener-bener lupa, maaf banget pi. Rian ini hanyalah manusia biasa yang banyak dosa."


"Dih! Berlebihan! Uang bulanan papi potong aja kalo gitu." tegasnya, bersindakap.


"Astaga pi! Rian kan gak sengaja lupa." menunduk sedih, begitulah jika masih sekolah dan bergantung pada orangtua. "Iya deh! Terserah papi aja, Rian ngaku salah banget." akhirnya pasrah.


Dedi jadi tertawa. "Kamu mirip papi banget, papi dulu pernah lupa sama ulang tahun nenekmu."


"Terus, pi? Emang nenek gak marah?"


"Seorang ibu gak akan marah pada hal sekecil itu, tetapi kakekmu malah datang mau mukul papi karena udah dianggap gak sayang lagi sama orangtuanya sendiri."


Sontak Rian tertawa, membayangkannya. "Pasti sakit banget tuh." ledeknya.


"Ya enggaklah! Papi kan gesit, tinggal lari aja, beres." sahutnya enteng, membuat Rian makin tertawa.


"Yaudah besok papi siapin dekorasinya aja! Besok yang beli kuenya biar Rian aja pas pulang sekolah."


"Oke! Kalau bisa, Putri bawak juga."


"Siap!"


****

__ADS_1


Maaf konfliknya berat :) ini Misteri untuk mengungkap kebenaran.


Mampir ke SELINGKUH 2 jangan lupa!! Asikk kok alurnya.


__ADS_2