SELINGKUH

SELINGKUH
Memindah Tugaskan


__ADS_3

Kini hari sudah menjelang pagi hari, tapi tak seperti biasa. Sefia tampak merapikan diri juga untuk bepergian keluar, sedangkan Dedi merapikan diri untuk segera berangkat ke kantornya untuk bekerja.


"Kamu mau kemana?" tanya Dedi yang tahu hal itu.


Sefia kemudian melangkah mendekati suaminya dan membenarkan dasinya. "Aku mau ke rumah sakit, sekarang jadwalku untuk suntik KB." sahutnya, membuat Dedi mengerut kening.


"Apa itu?"


Sefia berdecak. "Itu loh seperti yang ku katakan dulu, metode kontrasepsi untuk menunda kehamilan."


"Oh." Dedi mengangguk, menelaah. "Kenapa gak besok aja?"


Sefia menggelengkan kepalanya. "Gak boleh telat, nanti bisa hamil."


"Iya kah?" tanyanya dengan sumringah.


"Iya, jika kita melakukannya dengan keadaan aku telat dari jadwal. Aku bisa-bisa hamil." sahutnya. "Oh ya, karena semua sudah jelas begini, apa yang akan kamu lakukan pada sekretarismu itu?"


"Tentu aku akan memecatnya." sahutnya enteng.


"Janganlah!"


Dedi mengerut kening. "Kenapa jangan? Kamu mau dia terus menggodaku? Kalo kamu rela dimadu sih gak masalah." candanya, yang justru mendapat cubitan diperutnya.


"Dasar! Bukan begitu." sahutnya kesal. "Sepertinya dia tidak begitu buruk, kan bisa kamu memindah tugaskan dia di anak perusahaan milikmu. Lalu untuk kedepan, pekerjakan seorang pria saja untuk menjadi sekretaris pribadimu."


"Ya, baiklah." sahut Dedi tersenyum, mengelus pipi istrinya dengan lembut.


Setelah memastikan suaminya rapi, Sefiapun mengajak berangkat bersama. "Yuk, kita berangkat bareng! Kan satu arah." ajaknya, lalu berbalik untuk pergi.


"Akh." pekik Dedi menekan dadanya tiba-tiba.


Seketika Sefia menoleh dan panik. "Sayang, kamu kenapa?"


"Dadaku sakit." sahutnya sembari mengaduh.


Lalu Sefia memapah suaminya untuk berbaring ditepi ranjang, dan membantu melepaskan jas serta dasi yang masih dipakainya dengan rapi.


"Istirahatlah! Aku akan memanggilkan dokter untukmu." ucap Sefia ingin beranjak pergi, tapi Dedi malah menariknya hingga terjatuh ke dalam dada bidang miliknya.


Dedi langsung saja menekuk leher milik Sefia dan ******* bibirnya dengan lembut.


Sefiapun membelalak kaget. "Kamu bohong ya." tuduhnya, ketika Dedi melepas pagutannya.


Dedi tidak menjawab, ia malah mengulas senyum dan meneruskan aksinya meninndih untuk bercinta dengan istrinya.

__ADS_1


"Ded, jangan! Aku belum mau hamil." ucap Sefia mencoba melepaskan diri.


"Kenapa?" sahutnya tak peduli, masih dengan gerakannya.


"Aku hanya ingin fokus menjaga Rian sampai dia besar, kamu bilang sendiri kalo aku bukan ibu yang becus mengurus anak."


"Maaf sayang, aku hanya emosi waktu mengucapkan hal itu." sahutnya sebelum benar-benar menyatu dengan istrinya. "Kita buat adik untuk Rian, ya?" rayunya.


"Enggak." sahut Sefia tegas, tapi Dedi tak peduli dan tetap melakukan aksinya.


****


Setelah pergelutan mereka tadi, Sefia benar-benar dibuatnya lelah hingga tertidur.


Dedi mengelus rambut istrinya itu lalu mengecup keningnya sekilas, sebelum ia berguling dan beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri dan memakai baju kantornya lagi untuk bekerja.


Sedangkan Sefia, masih tertidur dengan pulasnya. "Tidur yang nyenyak ya! Aku pergi ke kantor sebentar." ucapnya sembari mengecup pipi istrinya, lalu melangkah pergi keluar kamar


"Nyonya jangan diperbolehkan untuk keluar rumah hari ini! Pastikan Nyonya tetap berada didalam rumah sampai aku datang. Mengerti?" himbau Dedi pada semua pekerja dirumahnya, termasuk Ratih.


"Mengerti, Pak."


"Baguslah! Dengan alasan apapun, jangan membiarkannya keluar rumah." ucapnya lagi untuk mempertegas, sebelum akhirnya ia berlalu pergi ke perusahaan raksasa miliknya.


Dedipun melangkah pergi meninggalkan rumahnya dengan hati gembira, membayangkan istrinya akan mengandung lagi untuknya.


"Semoga." doanya dalam senyum.


Dan Kini Dedi sudah memasuki gedung perusahaan, tetapi sudah tak seperti hari biasanya karena Anggi tidak lagi menyambut kedatangannya didepan gedung untuk melangkah masuk kedalam ruang kerja dengannya.


Saat keluar dari pintu lift, Dedi masih dapat melihat sekretarisnya itu berada di meja kerjanya dengan kepala menunduk, tak lagi mendongak penuh angkuh.


"Selamat siang, pak." sapanya parau, berdiri dan menunduk.


"Siang." kali ini dia memilih untuk menjawab sapaannya, dan langsung masuk ke ruang kerjanya.


Setelah cukup lama berlalu, Dedi menekan tombol interkom yang dimana langsung terhubung kemeja kerja milik sekretatisnya itu.


"Ke ruangan saya sekarang." pintanya.


"Baik pak."


Dengan ragu, Anggi memasuki ruang kerja milik atasannya itu dengan hati penuh was-was.


"Ada apa Bapak memanggil saya? Apa ada hal yang Bapak butuhkan?" tanyanya bertubi.

__ADS_1


"Duduklah!"


Anggipun duduk dengan tegang didepan atasannya itu, dan Dedi mengambil kertas untuk ia berikan pada sekretarisnya itu.


"Ini apa, Pak?"


"Bacalah!"


Dengan lamat-lamat, Anggipun membaca dengan perlahan dan membelalak kaget seketika. "Pak, saya suka bekerja dengan bapak."


"Jujur, aku juga suka dengan cara kerjamu. Kamu cukup kompeten, maka dari itu aku memindah tugaskanmu untuk menjadi sekretaris pribadi salah satu CEO anak perusahaanku."


"Tapi pak.."


"Semua fasilitasmu akan terpenuhi disana, dan kamu bisa hidup lebih baik tanpa suatu tekanan apapun."


Bukan senang, tapi Anggi malah menunduk sambil terisak. Walaupun begitu, Dedi tetap tidak ada niatan untuk menghiburnya.


"Untuk hari ini, batalkan semua rapat dan janji temu dengan semua client karena aku harus pulang. Kamu juga boleh pulang lebih awal dan bersiap diri untuk pindah besok pagi." ucap Dedi, kemudian beranjak dari tempat duduknya untuk berlalu pergi.


Sedangkan Anggi masih menangis dan menunduk sedih.


Ketika Dedi ingin membuka pintu ruangannya, tanpa ragu Anggi melangkah cepat dan memeluk atasannya dengan erat.


Sontak Dedi terhenyak kaget dengan perilaku sekretarisnya yang serampangan itu. "Apa yang kamu lakukan, hah?"


"Pak, saya menyukai Bapak, saya mencintai Bapak." ucapnya mengertakan pelukannya. "Saya mohon, jangan pisahkan saya dari Bapak sekalipun Bapak tidak membalas perasaan saya."


Seketika Dedi mendorong tubuh perempuan itu agar melepas pelukannya dan menjauh darinya. "Lancang sekali kamu menyentuh dan mengatakan hal yang tak masuk akal seperti itu padaku! Aku baik karena aku hanya iba padamu yang cuma dimanfaatkan oleh kakakmu, Sherly."


"Jadi... jadi Bapak sudah tahu siapa saya?" tanyanya gugup.


"Ya, aku sudah tahu sejak awal siapa kamu sebenarnya." sahutnya dingin. "Dan dengarkan aku baik-baik! Kamu itu masih muda, dan banyak pria di luar sana yang mampu menerima kamu apa adanya. Kamu masih belum tahu rasanya mencintai seseorang yang tidak mencintaimu bertahun-tahun lamanya, makanya kamu enteng mengatakan hal itu."


"Maksud bapak?" Anggi mengerut kening, bingung.


"Kamu sudah bertemu dengan istriku, kamu bisa mempelajari semuanya darinya. Dan berterimakasihlah padanya, karena aku tidak jadi memecatmu karena permintaan istriku." tegasnya, lalu melangkah pergi begitu saja.


Mendengar itu, Anggi jadi tertegun. Ia malah masih mencoba untuk mengambil suaminya padahal sudah dua kali Sefia menolong dirinya yang tak berdaya.


"Betapa bodohnya aku." umpatnya pada dirinya sendiri.


****


SEASON 2 BAKAL AKU LANJUT DISINI AJA :*

__ADS_1


__ADS_2