SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Memiliki Adik


__ADS_3

Putri menghentakkan kakinya dengan kesal, berjalan kearah halte bus sembari menunggu untuk segera pulang.


Baru sampai didepan gerbang, Putri sudah mendapatkan masalah besar.


"Hai cantik." sapa salah satu gerombolan anak nakal yang memang terkenal membuat masalah disekolah.


Ia menghadang Putri yang ingin terus berjalan, melangkah ke kanan dan kiri pun, pemuda itu dengan sigap menghalang Putri dan tertawa mengejek padanya.


Tapi hal ini tak berlangsung lama, karena Rian tiba-tiba langsung datang dan menggapai jemari Putri untuk ia genggam.


"Kalian jangan cari masalah!" bentak Rian, menjadi penghalang.


"Cih!" tersenyum sinis. "Lo lagi, lo lagi. Kenapa sih lo itu cuma jadi pengganggu aja?" ucapnya mendongak, menantang.


"Sorry! Gue gak ada waktu buat ladenin kalian, tapi sekali lagi gue liat lo dan kalian semua ganggu Putri. Gue gak segan-segan hajar kalian semua. Ngerti!" ancamnya tak main-main, lalu menarik lengan Putri untuk mengikutinya. "Hayo Put!" ajaknya.


"Sial! Kalo bukan karena dia teman si Yuda, udah gue habisin tuh anak rese." gumamnya kesal.


Rian masih tak melepas genggaman tangannya pada Putri hingga ia kembali menuju parkiran sekolah.


Seperti biasa, Rian selalu memasangkan helm untuk Putri kenakan.


"Gue anterin lo pulang." ucap Rian naik keatas motornya.


Sedangkan Putri hanya menunduk dan terdiam saja sedari tadi.


"Kenapa masih bengong? Cepetan naik!" ucap Rian sekali lagi, mendesak Putri agar naik.


Dengan sebal, Putri naik dan dengan ragu memeluk pinggang Rian. Seketika Rian menarik kedua tangan Putri agar ia membenarkan pelukannya lebih erat.


"Peluk yang kenceng! Gue mau ngebut." pintanya.


Putri mengangguk. "Iya, udah." sahutnya ketika memeluk Rian dengan begitu eratnya. Ia pun kembali mengulas senyum padanya.


****


Kini mereka sudah sampai didepan pintu rumah Putri, dan Rian dengan senang membantu Putri melepaskan helmnya.


"Lo gak bisa buka helm sendiri?" tanya Rian, heran.


Putri mengangguk. "Dibilang gak bisa sih sebenernya bisa, tapi lebih suka kalo kak Rian yang bukain buat Putri." sahutnya tersenyum malu.

__ADS_1


"Dasar!"


Rian jadi tertawa mendengar jawaban itu, lalu mengacak rambut Putri dengan gemas. "Yaudah, lo masuk kedalem, gih!"


"Kak Rian gak mau masuk dulu?" tawarnya.


"Gak deh, lain kali aja." sahutnya membuat Putri kecewa. "Gue harus langsung pulang karena tadi mami kayanya lagi gak enak badan, kasian kalo mami sendirian."


"Ah begitu." Putri mengangguk, menelaah.


"Yaudah, gue pamit pulang dulu ya." naik ke motor, dan memasang helmnya.


"Iya kak, salamin juga ke tante. Semoga lekas sembuh."


"Oke." sahut Rian, sebelum ia berlalu pergi.


Putri jadi tersenyum senang, menari-nari memasuki rumahnya tanpa memperhatikan mamanya yang tengah menatap heran padanya.


"Cieh Putri." ledek Nadin.


Putri kaget. "Eh, mama." kemudian mencium kedua pipi mamanya itu.


"Kenapa senyum-senyum? Kayaknya lagi ada yang kasmaran nih." tebaknya, mengerti.


Nadin hanya berdecak, melihat tingkah anaknya yang sama persis dengan dirinya dahulu.


****


Rian segera memasuki rumahnya, dan tak seperti biasanya yang dimana dia langsung disambut oleh maminya.


"Mami dimana, bik?" tanya Rian pada salah satu pelayan.


"Nyonya besar lagi dikamarnya den, katanya lagi gak enak badan." sahutnya, membuat Rian cemas.


Segera Rian langsung berlari memasuki kamar utama orangtuanya, dan menemukan maminya tengah tidur berbaring diatas ranjang.


Rian melepaskan tasnya dan langsung duduk ditepi ranjang, memegang dahi maminya guna mengetahui suhu tubuhnya.


"Untunglah suhunya normal." gumam Rian, begitu lega.


Kemudian memegangi sisi wajah maminya itu, membuat Sefia terbangun. "Rian, kapan pulang? Udah makan, sayang?" tanyanya beruntun, dengan suara seraknya.

__ADS_1


"Baru aja kok, mi." sahutnya tersenyum, menggenggam tangan maminya. "Mami sakit apa?" tanya Rian.


"Mami gak sakit kok." sahut Sefia.


"Mami lemas gini kok bilang gak sakit sih, mi." ucapnya menebalkan bibir. "Jangan bikin Rian khawatir!"


"Beneran sayang, mami lemes gini cuma karena bawaan aja kok."


Rian mengerut kening bingung. "Maksudnya, gimana sih, mi? Jangan bercanda mi! Rian anterin ke dokter, yuk!" tawarnya, membuat Sefia jadi tertawa.


Sefia kemudian beranjak duduk sambil tertawa. "Mami beneran gak apa-apa kok, mami malah pengen ngasih tahu sesuatu sama Rian."


"Tentang apa, mi?"


"Gini." Sefia menepuk-nepuk telapak tangan anaknya dengan pelan. "Kalo kamu punya adik, gimana?"


"Hah, Rian?" Sefia mengangguk. "Punya adik?"


"Iya, gimana?"


"Ya, gimana ya?" menggaruk tengkuknya, bingung. "Emangnya siapa yang mau mami angkat jadi anak?"


Sontak Sefia tertawa lagi, membuat Rian makin bingung. "Bukan itu maksud mami, tapi.." menempelkan tangan Rian diperutnya. "Mami hamil, kamu akan segera punya adik."


"Hah?" Rian kaget, menganga begitu tak percaya.


****


NOTE : Banyak yang menyayangkan kenapa Novel SELINGKUH ini gak TAMAT dan malah ada season 2.


sebenarnya Novel ini udah tamat di episode "Kisah Berakhir."


Author juga berpikiran malas untuk membaca season 2,3 atau apalah itu, tapi ini adalah hal yang berbeda.


Author hanya menyambungkan saja pada kisah AFFECTION ini.


dan AFFECTION ini sempat terbit di buku baru dengan tema dan konflik berbeda tp udah dihapus sm pihak MT dan diteruskan disini.


Kisah ini bukan sekedar lanjutan biasa, konflik disini bakal berat bukan cuma sekedar kisah cinta remaja tp lebih ke perjuangan orangtua untuk mengungkap kebenaran anaknya.


Jika kalian sudah sampai pada tahap konflik, kalian pasti ngerti kalo season 2 ini beda banget. Dan pasti bukan sinetron yang bikin muter.

__ADS_1


Jadi, jangan bosen ikutin alurnya yaa :* Kamsamida .


__ADS_2