SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Ciuman


__ADS_3

Setelah cukup mereka berjalan dibawah sinar rembulan, Desi dan Rian kini tengah duduk dibelakang tenda sembari melihat bintang-bintang yang begitu banyaknya.


"Ah, malam ini rasanya sangat indah." ucap Desi tersenyum senang.


"Yah, terasa berbeda dengan malam malam biasanya." sahut Rian mengiyakan.


Desi jadi menoleh. "Karena aku, ya?"


Sontak Rian jadi terkekeh. "Enggak lah! Tentu karena bulannya begitu cerah gak seperti malam biasanya."


Desi jadi kecewa. "Ah, begitu."


Rian tersenyum melihat raut wajah gadis yang kini berubah masam tersebut. Begitu menggemaskan menurutnya.


****


Kini malam semakin larut, Desi merasa sedikit kedinginan. Rian yang tahu itu, langsung menarik gadis itu untuk semakin dekat dengannya, lalu merangkul bahunya.


Desi jadi menyandarkan kepalanya dibahu milik Rian, dan tentu Rian tidak keberatan akan hal itu.


"Des." sapanya, seraya memanggil.


"Hem." sahutnya serak, memejamkan matanya karena merasa nyaman ketika menyandarkan tubuhnya ditempat aman.


Melihat itu Rian jadi tak tega untuk meneruskan bicaranya.


Ia kini memandangi wajah gadis yang tengah terlelap dan bersandar padanya, menggerakkan jemarinya untuk menyikap anak rambut yang menutup wajah cantiknya.


Ketika memandangi wajah Desi, membuat Rian tertarik untuk mendekatkan diri. Perlahan mendekat dan semakin mendekat untuk mengecup bibirnya sekilas.

__ADS_1


Ketika bibir itu bersentuhan, tiba-tiba tangan Desi bergerak melingkarkan lengannya dan menahan tengkuk Rian agar tetap pada posisinya sekarang, sehingga Desi leluasa membalas yang semula kecupan kini menjadi *******.


"Hey! lo ngapain?" tanya Rian kaget, tak menyangka Desi belum terlelap bahkan berani mengulum bibirnya tanpa permisi.


"He he, ciuman." sahutnya tengil. "Aku pengen cobain bibirmu ini gimana rasanya."


"Astaga gadis ini! Urat malumu sudah putus, ya!"


"Terserahlah! Jadi, mau diteruskan atau bagaimana?" tanyanya membuat Rian bingung sendiri. "Jawab aku!" desaknya ketika Rian memalingkan wajahnya, sementara Desi masih memeluk lehernya.


"Gue mau kita pelan-pelan." pintanya.


"Wah! Jadi kamu sudah mengakui perasaanmu, kalau kita berdua saling cinta?" Desi menutup mulutnya yang menganga karena bahagia.


"Iya." sahutnya singkat, jadi malu.


"Apa?" tanya Rian ketika melihat Desi bahkan memajukan bibirnya.


"Cium aku!" pintanya tanpa tahu malu.


"Apa katamu?" Rian jadi berdecak.


"Cium aku sebagai tanda kalau kita sudah jadian." desaknya.


"Tadi kan udah."


Desi menggelengkan kepalanya. "Tadi itu bukan ciuman tahu."


Rian menghela nafasnya, bagaimana bisa dia berhadapan dengan gadis yang tak tahu malu begini. Bahkan Desi sudah memejamkan matanya untuk menyambut.

__ADS_1


"Benar Benar ni anak."


Akhirnya Rian memutuskan untuk mendekat, menunduk kembali untuk saling terpaut.


Semula ia hanya ingin mengecup bibirnya, hanya menempelkannya sekejab. Tapi tanpa ia sadari, ia malah semakin tertarik.


Ia tidak menyangka bahwa ciumannya mengasikkan begini.


Sekilas Desi tersenyum menyeringai dan sempat melepaskan tautannya, namun sedetik kemudian bibir mereka saling bertemu kembali.


Malam ini adalah malam paling membahagiakan bagi mereka berdua, kenangan yang tak mungkin dilupakan pada masa SMA.


Sebelum kemudian mereka terpisah dan menahan sakit bersama.


****


Hari-hari yang dijalani begitu membahagiakan.


Seperti saat ini ketika Rian menghentikan langkah gadis itu, kamudian ia duduk bertumpu satu lutut dan menunduk untuk mengikat tali sepatu Desi yang terlepas.


"Sudah." ucapnya ketika selesai membenarkan tali sepatu.


Ia kemudian tanpa permisi langsung merampas tas milik Desi. Membawakan tas miliknya menuju kelas bersama.


Desi hanya bisa tersenyum dengan perlakuan hangat yang diberikannya. Dingin sih tapi manis, pikirnya.


****


Uwuuu nanti malam lagi yeyyyy!!

__ADS_1


__ADS_2