
Sefia dan Dedi memutuskan untuk masuk kesalah satu resto yang ada di pusat pembelanjaan.
"Kamu suka yang mana?" tanya Sefia pada suaminya yang tengah duduk didepannya.
"Suka kamu." jawabnya.
Sefia lantas menggelengkan kepalanya, tersenyum malu dibuatnya. "Sayang, jangan bercanda ah."
"Aku serius, kayaknya aku sudah cinta mati deh." ucapnya menopang dagunya, menatap istrinya lamat-lamat.
Sefiapun tak mau kalah, ia juga menopang dagunya dan balik menatap suaminya. "Yaudah kalo gitu, liatin mukaku aja jangan makan. Ntar juga kenyang."
"Manusia butuh makan." sahut Dedi sengenanya.
"Tapi kamu butuh aku, kan?" tanyanya.
"Nyerah deh, Nyerah! Pesen makanan deh."
"Yah, dasar bisanya cuma gombal." dengus Sefia, membuat Dedi tertawa.
Dedi mengacak rambut istrinya, gemas. "Mau pesen apa?"
"Apa aja deh, terserah."
"Yaudah, steik daging aja gimana?"
"Gak mau, yang lain aja." sahutnya masih kesal.
"Seafood?"
"Enggak mau."
Dedi mulai menghela nafas. "Yaudah, kamu mau pesen apa?"
"Terserah."
"Astaga." Dedi menggeleng kepalanya, serasa mau gila saja menghadapi perempuan ketika marah. "Yaudah, mbak?" panggil Dedi pada salah satu pelayan.
"Iya pak, bapak pesan apa?"
"Pesan semua menu yang ada diresto ini." pintanya.
"Baik pak."
Segera pelayan ini berbalik, dan menyiapkan semua menu yang dipinta oleh pengunjungnya.
"Kok pesen semua sih? Siapa yang bakalan ngabisin?" tanya Sefia heran.
"Kita berdua, jangan buang-buang makanan, gak baik!" sahut Dedi terkikik geli.
Lantas Sefia menepuk jidadnya. "Ah, kapok deh. Gak akan bilang terserah lagi."
"Baguslah." Dedi mengelus rambut istrinya dengan sayang.
Beberapa menit kemudian, pesanan sudah diantar dan mereka segera menyantapnya dengan pelan.
"Oh ya, menurutmu sekretaris pribadimu yang baru itu gimana?" tanya Sefia disela-sela makannya.
"Anggi?" Sefia mengangguk, membenarkan. Dedi terdiam untuk berpikir sejenak. "Gak gimana-gimana tuh, aku lebih suka Nadin."
"Ya jelas, Nadin kan udah kerja lama sama kamu."
"Terus? Maksud kamu apa?"
__ADS_1
"Ya seperti cantik atau menarik, mungkin?"
Seketika Dedi tersenyum. "Bagiku, kamu yang paling cantik. Ibu dari anakku itu paling cantik." sahutnya sambil mengunyah makanannya.
Sefia merasa senang. "Tapi, kamu gak ngerasa aneh gak, sih? Kayaknya dia ada niatan lain sama kamu."
"Aneh?"
Sefia mengangguk cepat. "Iya, aneh. Kayanya dia niat mau nyuri."
"Perusahaan tetap baik-baik aja tuh, gak ada yang aneh ataupun mencuri data penting perusahaan."
Sefia memutar bola matanya jengah. "Bukan mencuri itu maksudku, sayang." ucapnya geram.
"Nah, terus? Apaan?"
"Kamu." sahut Sefia.
Sontak Dedi tertawa geli. "Ha ha, mana mungkin. Jangan ngaco ah!"
"Ya mungkinlah." dengus Sefia sebal.
Duh, gimana caranya ceritain masalah tadi ya. Aku takut Dedi gak percaya dan salah paham.
Sefia menghela nafas. "Yaudah deh, yang penting kamu gak macem-macem."
"Gak lah." sahutnya menatap Sefia dengan senyum sumringah. "Kamu cemburu, ya?"
"Ah, enggak kok." sahutnya, memerah menahan malu.
"Nah, tadi itu apa. Bilang aja!" Dedi menarik pucuk hidung istrinya, gemas. "Sayang deh."
"Aku juga sayang." sahutnya malu-malu.
****
Ia sengaja hari ini ingin mengajak Yuda untuk berjalan-jalan ditaman.
"In, Yuda biar sama aku aja jalan-jalan berdua bentar." ucap Angga pada babysitter anaknya itu.
"Baik pak."
Anggapun membawa anaknya jalan-jalan sore dengan menggunakan kereta bayi.
Tanpa disengaja ia bertemu dengan seseorang yang tak sengaja dikenalnya.
"Selamat sore, Pak." sapa Ratih pada pria itu.
"Sore." sahutnya, lalu mencoba mengingat. "Kamu bukannya babysitter anaknya Sefia, ya?"
Ratihpun mengangguk. "Benar pak, saya juga lagi ngajak den Rian jalan-jalan."
"Ah, sebuah kebetulan ya. Yuk bareng!" ajak Angga kemudian, dan mereka berjalan beriringan.
Sepanjang jalan, Ratih melirik pria yang berjalan disampingnya. menunduk malu sembari tersenyum senang.
"Oh ya, kita duduk disana dulu yuk!" menunjuk bangku taman.
"Baik pak."
Merekapun duduk dibangku taman berdua, dan kebetulan Yuda sudah tidur terlelap karena angin sepoi menerpa. Berbeda dengan Rian yang masih sibuk meminum susunya.
"Oh ya, namamu siapa?" tanya Angga.
__ADS_1
"Ratih pak, panggil saja saya Ratih." sahutnya dengan sopan, sembari memegangi botol susu milik Rian.
"Jangan berbicara formal padaku! Kita sepertinya seumuran, Kamu bisa panggil aku Angga saja."
"Baik pak, eh, Angga." ucapnya, mengelap sisa susu di mulut anak asuhnya itu.
"Aku boleh tanya sesuatu gak?"
Ratih menoleh. "Tanya apa?"
"Dia gimana kabarnya? Apa dia bahagia?" tanyanya ragu.
"Maksud bapak, eh, Angga. Nyonya Sefia?"
Anggapun mengangguk. "Iya, gimana rumah tangganya sekarang?"
Ratihpun menjawab dengan antusias. "Wah, itu sih jelas bahagia. Pak Dedi sangat memperlakukan Nyonya dengan baik, selain tampan pak Dedi juga orangnya hangat dan.."
Seketika Ratih menghentikan perkataannya ketika ia melihat pria disampingnya memasang raut sedih, sangat mudah ditebak bahwa ia masih tidak bisa melupakan mantan istrinya itu.
"Maaf." ucap Ratih pelan, nyaris berbisik.
"Aku tahu kalo akhirnya Sefia akan bahagia dengannya." ucap Angga menghela nafas dan menunduk sedih. "Aku juga ikut bahagia mendengar dia bahagia dan baik-baik saja, yah walau itu sangat sulit untukku."
Ratih tidak dapat menanggapinya, takut akhirnya akan ikut campur dalam hal pribadi orang lain tapi tiba-tiba saja pria disampingnya ini berbicara mengenai perasaannya padanya, membuat Ratih sedikit terkejut dan tak percaya.
Ia kemudian memberanikan diri untuk bertanya. "Apa kamu masih mencintai Nyonya Sefia?"
Angga mengangguk. "Iya."
Ratih mampu menebak jawaban itu meski ia tak harus bertanya langsung, tapi anehnya kenapa mereka berpisah jika masih cinta.
Angga yang bisa menebak pikiran Ratih, lantas tersenyum. "Kamu mungkin bertanya-tanya kenapa kita berpisah."
"Maaf." ucap Ratih gugup, ketika Angga tahu jelas isi pikirannya.
Anggapun menatap langit yang masih cerah. "Itu semua karena kesalahanku, karena aku mengkhianatinya. Aku menyia-nyiakannya."
"Tapi, aku liat kamu bukan orang yang seperti itu." sahutnya lantang, membuat Angga tertawa pilu.
"Ya, awalnya aku hanya dijebak dan ditipu karena seorang wanita pura-pura mengandung anakku. Tapi semua itu berawal karena aku tidak bisa menutupi diri. Aku memberi celah untuk perempuan lain agar bisa mendekatiku, kalau di ingat-ingat, rasanya aku bodoh sekali waktu itu." Angga tertawa miris. "Aku bahkan menyia-nyiakan dia yang selalu memperlakukanku dengan begitu baik, dan kini saat dia pergi rasanya aku sangat begitu kehilangan. Aku menyesal tapi aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi."
Dengan ragu, Ratih menepuk-nepuk bahu Angga. "Suatu saat nanti, kamu bakal menemukan perempuan yang bisa bahagiain kamu seperti Nyonya Sefia."
Anggapun menoleh dan tersenyum. "Terimakasih, dan maaf ya aku tiba-tiba curhat sama kamu."
"Ah, tidak perlu sungkan." sahutnya malu-malu.
Anggapun beranjak dari duduknya. "Kayaknya udah mau malem, pulang yuk! Aku anterin." tawarnya.
"Ah, gak usah. Duluan aja! Soalnya kita bareng pak Umang, supir keluarga pak Dedi."
"Oh yaudah, kalo gitu aku pulang duluan ya! Sampai jumpa dan makasih udah mau dengerin curhatanku."
"Iya tidak apa, makasih juga karena percaya padaku."
Anggapun melambaikan tangan, sebelum ia berlalu pergi dengan anaknya.
"Ternyata cintanya masih begitu besar." gumam Ratih, pilu.
Sedangkan Angga juga bergumam pada dirinya sendiri. "Kenapa aku langsung terbuka, ya?"
****
__ADS_1
TOLONG VOTE POIN, LIKE DAN KOMEN.
Yang belum tahu caranya vote bisa klik VOTE disebelah nama Author, lalu Klik jumlah poin yang ingin kamu berikan 10,100,1000.