
Hari sudah petang, Zaky tidak jadi bertemu Lila. Meskipun makan siang dengan Arya selesai dengan cepat, Zaky menghabiskan waktunya sendiri di ruangannya. Merenung memikirkan kata kata Arya yang terasa bagai petir yang menyambarnya. Perasaan bersalah merasuki hatinya. Bagaimana mungkin Ia tega berdusta dan bersenang senang dengan wanita lain. Bahkan Ia beberapa kali menunjukkan kekesalan pada istri yang susah payah mengurusnya dan empat putrinya. Ia tiba tiba terbayang jika Tia tahu dan meninggalkannya. Tapi apa bisa Ia menghentikan Ini?
Selama beberapa bulan Ini Lila lebih banyak menghiasi hari harinya. Ia bertemu Tia hanya pagi dan malam saja, kadang Tia pun sudah tertidur bersama bayinya. Apa Ia bisa tidak makan siang dengan Lila? Lalu dengan siapa Ia akan mengobrol lagi? Dengan siapa Ia membahas bisnis lagi. Zaky berjanji pada dirinya bahwa Ia akan mencoba, mencoba menghentikan kekacauan ini, sebelum bertambah parah.
---
" Papa pulangg.." Teriak Zoya mendengar suara mobil papanya.
Zaky masuk ke rumah menggendong Zoya.
" Adik mana kak?" Tanya Zaky.
" Ifa sama naya sedang main sama bibi."
" Mama?"
" Tuh di dapur."
Zaky melepaskan Zoya. Ia berlari menuju ruang bermain. Di gendong sebentar Ia sudah senang. Zaky berjalan menuju dapur. Ia berdiri melihat istrinya membelakanginya. Tia sedang mengaduk masakannya, Nami dalam gendongannya. Tangan kanannya sedang mencuci sayur di kran, mulutnya bernyanyi sambil bicara pada bayinya. Badannya bergoyang goyang mengikuti iramanya. Sesekali Ia tertawa, nami juga ikut tertawa.
Ia mengerjakan banyak hal dalam satu waktu, tapi masih bisa tertawa.
Zaki menghampiri istrinya. Mendengar langkah kaki Zaki, Tia berbalik.
"Yey papa pulang dek, katanya sambil bergoyang goyang sambil memegang tangan nami, seperti berdansa. Zaki mengecup kepala Tia dan menggendong nami.
" Kamu kan baru pulang."
" Kamu kan lagi masak." Zaki membawa nami ke kamar sambil mengajaknya ngobrol. Nami hanya tersenyum saja.
---
Malam harinya Tia sedang berusaha menidurkan nami yang rewel. Bi tuti datang menhampirinya.
" Anak sudah tidur. Sini biar Nami bibi yang gendong, Temani Zaky saja."
" Tidak usah bi, Dia sudah sangat mengantuk. Bibi istirahatlah."
" Tidak, sini biar bibi gendong." Bi tuti mengambil nami dan membawanya ke halaman belakang, di pinggir kolam.
Aneh sekali bibi ini.
" Sudah sana, temani Zaki."
" Apanya? memang dia bayi?"
" Tidak boleh begitu, seharian dia di luar, mungkin ingin mengobrol denganmu."
" Yaya baiklah." Tya geleng geleng kepala sambil tersenyum.
Apa Zaky itu bayi, harus di temani segala?
Tia masuk ke dalam dan menemui Zaki. Zaki sedang bermain ponselnya. Tya langsung lompat ke tempat tidur dan duduk bersimpuh.
__ADS_1
" Apa dia sudah tidur?" Tanya Zaki yang dari tadi mendengar suara rewel nami.
" Belum, dia bersama bi Tuti. Sayang, bi tuti aneh sekali, dia menyuruhku menemanimu padahal nami sedang rewel. Aku menyuruh bibi istirahat tapi dia memaksa untuk mengurus Nami."
Zaki meletakkan ponselnya.
" Mungkin dia kasihan padamu."
" Tapi untuk apa menyuruhku menemanimu? Aneh sekali."
" Sayang.." Kata Zaki sambil menarik tangan istrinya.
" Apa kau butuh asisten rumah tangga? Aku melihatmu kerepotan sekali. Aku bisa membayar bahkan 10 pembantu jika kau mau."
" Hahaha.. ada ada saja." Tia merebahkan diri meletakkan kepalanya di paha Zaky.
" Aku serius sayang."
" Untuk apa? Bukannya pria menikah biar ada yang mengurusi? jadi ya sudah tugasku untuk mengurus rumah tangga. memang repot, tapi 5 atau 6 tahun lagi justru aku takut akan merasa kesepian karena mereka sudah sekolah nanti. Lagi pula bibi selalu membantuku, pak Pandi juga."
Kau tulus sekali sayang.
Batin Zaky.
---
Zaky sedang sibuk di kantor. Dua hari ini Ia bertemu investor untuk pembangunan hotelnya. Ia menghindari Lila, Jika bertemu hanya sebatas urusan kantor. Meski berat dan ingin sekali mengobrol dan makan siang bersama, Zaky mencoba menahan diri. Menahan diri untuk melihat wajah cemberut Lila yang menggemaskan saat Zaky mengganggunya.
Sudah Dua hari pula Lila kebingungan dengan perubahan sikap Zaky. Dan hari ini Ia ingin memastikan kenapa. Saat pertemuan selesai, Ia mengikuti Zaky dari belakang.
Lila menyalip Zaky, Zaky pun berhenti.
" Kau menghindariku?"
" Tidak."
" Kalau begitu ayo makan bersama."
" Tidak bisa, Aku ada urusan."
" Aku tahu semua urusanmu, jangan berbohong, mengapa?"
" Lila aku pergi dulu." Zaky berjalan dengan cepat. Lila berusaha mengejarnya. Zaky makin mempercepat langkahnya.
" Owch!" Lila meringis, Lila terjatuh dan kakinya terkilir. Karena hak sepatu yang cukup tinggi, Lila tidak bisa berdiri.
Kau ini! batin Zaky. Zaky terpaksa berbalik. Lama dy berdiri melihat Lila yang hanya duduk mengelus elus pegelangan kakinya. Zaky melihat sekeliling, tidak ada karyawan lain. Ruangan Lila hanya beberapa meter dari tempat mereka berdiri.
Zaky mengangkat tubuh Lila dan menggendongnya. Ekspresi wajahnya datar. Sementara Lila senang sekali. Ia memeluk bahu Zaky.
Zaky menggendong Lila masuk ke ruangan sekretaris. Ternyata ada Robi.
" Wowowo.. aku tidak melihatnya.. aku tidak melihatnya. " Kata Robi pura pura menutup matanya.
__ADS_1
Zaky mendudukan Lila di kursinya.
" Dia terkilir, obati dia." Lalu Zaky pergi.
Robi menghampiri Lila.
" Apa benar terkilir? Aku pikir kalian akan bermesraan di ruanganku, hahaha... dia meminggalkanmu, apa pikirannya sudah jernih sekarang?"
" Bicara apa kau? Ambilkan kotak P3K untukku..."
Robi keluar mengambil obat sambil menahan tawa. Lila kesal sekali mendengar ocehan Robi.
Apa benar Ia tidak menginginkan aku lagi?
---
Sudah dua hari pula bi tuti bertingkah aneh. Setiap Zaky pulang Ia tergesa gesa mengambil alih apa yang di kerjakan Tia, Lalu menyuruhnya menemani Zaky. Pak Pandi juga, setiap Zaky pulang Ia akan ke dapur dan berteriak. Kadang kadang justru Tia yang sedang berada di dapur bukannya bi Tuti. Tia merasa curiga dengan tingkah keduanya.
Suatu pagi setelah Zaky bekerja, nami sedang tidur, dan yang lain sedang menonton tayangan kartun kesukaan mereka, Tia ingin bertanya tentang sikap bibi tuti. Tapi sebelumnya Ia ingin mencuci pakaian dulu dan menemui mereka di halaman depan setelahnya.
Tia mengambil pakaian kotor dari keranjang, Ingin memasukkan ke mesin cuci. Ia melihat Jas Zaky yang dipakainya kemarin. Iseng Ia mencium jas itu berharap mencium aroma tubuh suaminya. Namun..
Bau parfum wanita. Aku tidak pernah menciumnya. Kenapa menempel sekali?
Bi Tuti datang hendak mengambil penjepit jemuran.
" Tia."
" Eh bibi. Oh bi aku ingin bertanya, Kenapa Akhir akhir ini kalian berdua bersikap aneh, seakan akan aku harus menyambut Zaky ketika Ia pulang, menyuruhku menghabiskan waktu dengannya.. mengapa? mengapa pak pandi?" Bertanya pada pak pandi yang tiba tiba lewat. Pak pandi berhenti. Ia dan bi tuti saling berpandangan.
" Ada Apa? Apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku?"
" Titidak Nyonya.." kata pak Pandi.
"Lalu kenapa kalian saling menatap begitu? tentang Apa ini?"
" Nyonya, Tuan.."
" Pak Pandi!" Bibi tuti memotong.
Tuan tidak berubah, sudah saatnya nyonya tahu.
"Bibi! Kenapa memotong? Zaky? kenapa? Afa apa dengan suamiku?"
Kedua orang itu menunduk dengan wajah cemas.
Bau parfum ini...
" Apa... suamiku ber ..se.. ling.. kuhh?".
Hening.
Mata Tia berkaca kaca. Sedangkan Bi tuti sudah berlinang Air mata. Pak Pandi hanya diam seribu bahasa.
__ADS_1
---
Terima kasih yg uda like sama komentar. I Luv U 😘