SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Ajarin Aku


__ADS_3

Seperti biasa, Dedi tengah duduk di meja makan untuk segera menyantap makan malam dan Sefia membantu pelayan untuk menata makanan diatas meja.


"Rian kemana, mi? Gak makan dia?" tanya Dedi heran, karena sedari tadi anaknya belum juga muncul.


Belum juga Sefia jawab, Rian sudah turun melewati anak tangga dengan wajah lusuh dan rambut acak-acakan, belum lagi seakan dirinya tak bertenaga lagi.


Hal itu tentu tidak luput dari perhatian orangtuanya, Dedi.


Rian datang, langsung duduk dan menyandarkan kepalanya yang dirasa berat diatas meja makan.


Dedi menyipitkan matanya, bingung atas tingkah anaknya. "Kamu kenapa?" tanya Dedi, heran.


Rian memanyunkan bibirnya, tetap menyandarkan kepalanya diatas meja. "Lagi memantapkan hati, pi." sahutnya.


"Eh! Lagi patah hati?"


Rian mengangguk lemah, membuat Sefia menahan tawa. "Banget."


"Aduh, masa anak papi yang ganteng ini ditolak cewek sih." ledeknya, tertawa.


Rian kembali duduk tegap, dan malah menyipitkan matanya pada papinya itu. "Bukan ditolak cewek, tapi memantapkan hati untuk diduakan."


Dedi malah makin menertawai anaknya, benar memang kasihan jika patah hati tetapi reaksi Rian berlebihan sekali. Begitu menurutnya. "Jadi, kamu mau gitu diduakan?"


"Ya mau gimana lagi, udah hamil juga." sahutnya asal, membuat Dedi salah paham.


"Apa! Hamil?" Dedi terhenyak kaget. "Ya ampun, kamu masih bocah udah berani hamilin anak orang, ya." menjewer anaknya tiba-tiba.


"Aa, Aa, Aa, sakit pi." teriak Rian kesakitan.


Sefia yang melihat itu jadi melangkah cepat, menaruh menu makanan asal. "Lepasin pi! Kasian Rian kesakitan." pinta Sefia, memeluk anaknya.


Dedi melepas jeweran itu. "Mami sih manjain Rian, begini nih. Masih bocah udah berani hamilin anak orang." tuduhnya.


"Papi salah paham, maksud Rian yang hamil itu mami. Huh!" sahut Rian, mendengus kesal lalu berbalik pergi membuat Dedi terperangah.


"Kan, anak kita jadi marah gitu. Papi sih main tuduh." ucap Sefia, menepuk lengan suaminya.


"Ya maaf, papi kan gak tahu kalo yang dimaksud Rian itu mami." sahutnya menyesal. "Yaudah, papi mau nyusul Rian ke taman."


Sefia mengangguk. "Iya, gih! Baik-baikin dia ya?"


"Tentu mi." sahut Dedi sebelum ia berlalu pergi mengejar anaknya.


Rian tengah duduk dibangku taman, menatap langit yang begitu cerah bersinar meski di musim hujan.


Dedi kemudian datang, menepuk bahu anaknya sebelum ia duduk bersama disebelahnya. "Kamu marah?" tanyanya.

__ADS_1


"Gak marah kok, pi." sahutnya. "Rian cuma lagi khawatir aja, soalnya kan mami udah umur 46 tahun dan harus hamil. Bukannya itu bahaya ya, pi?"


Dedi tersenyum, mengacak rambut anaknya. "Kamu tahu dari mana hal itu?"


"Ya, Rian kan sering nemenin mami nonton siaran televisi gosip-gosip artis dan kebetulan Rian juga pernah dengar salah satu artis hamil di usia 40 tahunan dan itu bahaya." sahutnya, menjelaskan. "Rian juga tadi searching di internet mengenai hal itu."


"Kamu tidak perlu khawatir, masih banyak kok yang hamil diusia seperti mamimu. Apalagi papi nanti akan meminta tenaga medis ahli buat membantu proses kelahiran adikmu. Jadi, kamu gak perlu khawatir lagi, ya?"


Rian mengangguk lega. "Iya, pi."


Dedi jadi tersenyum dan menepuk bahu anaknya penuh bangga. "Gitu dong! Baru anak papi."


Mereka jadi tertawa bersama, dan kembali masuk kedalam untuk makan malam.


"Habis ini, Rian temenin mami kerumah temen mami." pinta Sefia pada anaknya.


"Siapa, mi?" tanya Rian, meneguk air putih.


"Kerumah Putri, mami ada perlu sama mamanya." sahut Sefia. "Soalnya papi mau lanjutin cek laporan perusahaan."


"Oh, oke. Gak masalah."


****


Disisi lain, Putri tengah duduk bersantai menonton siaran televisi sambil mengunyah beberapa camilan.


"Bentar lagi Putri beresin, mi. Lagi asyik nyantai nih. Mumpung besok libur." sahutnya, tak mengalihkan pandangannya dari televisi.


Ketika itu bel pintu berbunyi, dan Nasib segera membukakan pintu pada tamunya.


"Eh, Sefia. Rian si ganteng juga ikut." sapa Nadin. "Yuk, masuk kedalam."


"Hah, Rian? Kak Rian?" seketika Putri langsung beranjak dan lari cepat-cepat memasuki kamarnya.


Merekapun dipersilahkan duduk, dan Rian tampak mengedarkan pandangannya kesetiap sudut ruangan.


"Putri kemana, Tan?" tanya Rian.


"Ah, dia tadi ada di.." menunjuk ruang tengah. "Loh, dia kemana?" Nadin kaget, karena dalam sekejab anaknya sudah menghilang dan tersisa hanyalah bungkus camilan yang berantakan. "Dia mungkin dikamarnya, Rian nyusul aja kesana."


"Oh gitu, okedeh Tan. Rian ke Putri dulu." pamitnya.


Rian masih melangkah sampai diruang tengah, Putri sudah keluar terlebih dahulu dan kini dia tampak memakai gaun dan jepit rambut pita dikepalanya.


"Putri." Rian tercengang.


"Hai kak." sapa Putri, memainkan rambutnya dengan malu-malu.

__ADS_1


"Hai, lo cantik banget pake baju kayak gini." pujinya, membuat Putri lebih merona malu.


"Ah, kak Rian bisa aja deh." sahutnya, tersenyum malu.


"Kita duduk ngobrol, yuk!" pinta Rian dan Putri mengangguk.


Saat Rian ingin duduk disofa ruang tengah, seketika Putri jadi panik, karena tempat berantakan akibat ulahnya yang membuang bungkus camilan tidak pada tempatnya.


"Tunggu, kak!" cegah Putri berteriak, menarik lengan Rian agar mengikutinya. "Kita ngobrol di taman aja, yuk!" pintanya.


"Hm, oke."


Merekapun akhirnya duduk dibangku taman, sambil menatap langit malam yang begitu cerah.


"Put." sapa Rian, setelah beberapa saat mereka saling diam.


Putri menoleh. "Iya kak?"


"Lo besok, beneran mau pergi kencan sama Yuda?" tanya Rian, canggung.


Putri mengangguk. "Iya."


Please, bilang jangan dong! Cegah Putri biar gak keluar sama kak Yuda.


"Oh, bagus deh! Akhirnya kalian bisa deket, kan." ucap Rian, membuat Putri kecewa.


Putri menebalkan bibirnya, menghentakkan kakinya dengan kesal ketanah.


"Put." panggil Rian lagi.


"Apa, kak?" Putri menoleh, dan Rian langsung menggerakkan jemarinya, mengelus sudut bibir Putri.


Rian tersenyum. "Ada sisa makanan dibibir lo." ucapnya, membuat Putri salah tingkah dan mengusap seluruh bibirnya dengan kasar.


"Ha ha, udah habis kok." mengelus rambut Putri penuh sayang.


Putri jadi tersenyum, dan terbenak pemikiran liar dikepalanya. "Kak, Putri bisa minta tolong gak?"


"Minta tolong apa?"


Putri membenarkan duduknya, berhadapan. "Gini, Putri besok kan mau pergi kencan sama kak Yuda, dan biasanya saat itu para pasangan akan.."


Rian mengerut kening. "Akan apa?" tanyanya penasaran.


"Mereka akan melakukan sebuah ciuman misalnya, sedangkan Putri belum pernah berciuman dengan siapapun sebelumnya." memegang tangan Rian dan sedikit mengguncangnya. "Bisa gak ajarin Putri caranya ciuman yang benar itu gimana?"


****

__ADS_1


Author : Yaelah, modus aja sih Lu, Put! ●.○


__ADS_2