SELINGKUH

SELINGKUH
AFFECTION : Bertanya


__ADS_3

"Lo beneran gak mau gabung?" tanya Yuda, merangkul sahabatnya itu.


"Gue harus jagain mami, kasian kan kalo sendiri soalnya udah hamil gede." sahutnya, membuat Yuda mengangguk.


"Jagain tante dengan baik ya!" menepuk bahu temannya.


"Iya, pastinya dong." sahutnya tersenyum. "Elo juga baik-baik ntar jagain anak orang, bentar bentar lengket, bentar bentar ngilang."


Seketika Yuda jadi terkekeh geli. "Jeli banget si lo."


"Iyalah jeli." mengangguk kedepan. "Noh! Pacar lo lagi melotot sambil manyun tuh."


"He he biasalah cewek, kalo lagi ada maunya terus gak diturutin ya gitu. Harus ekstra sabar nih gue."


Kini Rian juga jadi tertawa. Apes bener, pikirnya.


"Yaudah gue nganterin Nyonya dulu ya!" pamit Yuda ketika melihat Mega sudah bersindakap menantinya.


"Oke bos." sahutnya, dan segera Yuda berlari kearah pacarnya.


Ia jadi menoleh dan melangkah mendekati gadis yang tengah mengobrol dengan sahabatnya.


"Hai, belum pulang?" tanya Rian pada Desi dan Loli.


"Ini udah mau pulang kok, Beb." sahut Desi. "Cuma kita lagi bahas persiapan yang mau dibawa nanti malam."

__ADS_1


"Iya, kemah kan perlu persiapan biar bisa tenang ntar." sahut Loli membenarkan.


"Oh gitu, maaf ya gue gak bisa gabung." sesalnya.


"Gak apa-apa kok." sahutnya tersenyum. "Salam buat tante ya!"


"Iya, pasti gue sampein."


Ketika itu, mobil Desi sudah datang dan Rian langsung membuka pintu mobil belakang untuknya.


Desi jadi tersenyum. "Terimakasih Bebeb, kita pamit pulang dulu."


"Iya, hati-hati." melambaikan tangan, ketika Desi dan Loli masuk didalam mobil.


****


"Ini buat mami." ucap Rian, menyodorkan segelas minuman pada sang mami yang tengah duduk sambil menonton siaran televisi.


"Makasih sayang." ucap Sefia, mengambil gelas tersebut lalu meneguknya.


Sedangkan Rian kini mengambil bantal sofa, menidurkan kepalanya dekat sang mami. Kalau saja maminya tidak sedang hamil besar, mungkin Rian masih bermanja dipangkuan maminya.


"Mi, Rian boleh tanya sesuatu gak?"


"Tanya apa, sayang?" sahutnya, sembari menaruh gelas minumnya diatas meja.

__ADS_1


"Dulu, siapa yang duluan nyatain perasaannya waktu mami sama papi pacaran?" tanya Rian penasaran, membuat Sefia merona karena malu.


"Mami." sahutnya, terkekeh geli.


"Wah, iya kah?" Rian jadi takjub.


Sefia mengangguk, mengelus wajah anaknya yang tengah menatap dirinya yang menunduk. "Iya, soalnya papimu ganteng sih, jadi mami suka."


Rian jadi tertawa, memang benar sih. pikirnya.


"Om Angga juga ganteng, mi." celetuknya, membuat Sefia mencubit kedua pipi anaknya dengan gemas.


"Hati-hati, nanti kalo papi denger bisa bahaya."


Rian malah semakin terkekeh. "Kan bener mi." ucapnya lagi. "Katanya Yuda, Om masih betah menduda setelah cerai sama mami."


"Hm, itu sih mungkin karena belum ada yang pas dihati om Angga." sahutnya.


"Enggaklah." Rian beranjak duduk lalu menopang dagunya, menatap lamat wajah maminya. "Mami itu wanita hebat dan paling cantik didunia, mana mungkin pria bisa melupakan mamiku begitu saja." pujinya terlalu berlebihan.


Sefia jadi tertawa, merasa senang serta malu dengan perkataan anaknya yang terlalu memuji. "Coba deh Rian kalo ada papi ngomong gini, bilang kalo om Angga itu betah menduda karena masih inget sama mami!"


Seketika Rian jadi ciut. "Yah! Kalo Rian ngomong gini ke papi, pasti tanggapannya 'kamu mau dipukul pakai tangan kanan kuburan, atau pakai tangan kiri rumah sakit. Pilih yang mana'?"


Sefia jadi semakin tertawa, ada ada saja menurutnya.

__ADS_1


****


Sorry lama :*


__ADS_2