
Hari ini adalah hari membahagiakan untuk pasangan Dedi dan Sefia atas kelahiran putranya yang sudah dinanti-nanti.
Tangis penuh haru langsung pecah ketika bayi itu lahir kedunia.
Seorang bayi yang akan menjadi kebanggan serta melengkapi kebahagiaan kedua orangtuanya.
"Akan ku beri dia nama Rian Atmaja."
Sepanjang malam, seorang bayi selalu membutuhkan susu yang menjadi kebutuhannya. Dan tentu ayahnya menjadi siap siaga untuk menemaninya.
Ketika Sefia menggendong Rian dengan lelahnya karena Rian tak bisa tertidur lelap ketika lepas dari dekapan, Dedi selalu menawarkan diri untuk mengganti istrinya.
"Biar aku saja yang gendong! Kamu istirahat saja, ini sudah larut malam."
"Tapi sayang, kamu besok kan ada meeting penting."
"Itu bukanlah masalah untukku." sahutnya memberi senyum, dan menggambil Rian kedekapannya. "Udah sana kamu istirahat aja! Aku tahu kamu capek dari tadi gendong Rian."
"Baiklah, aku istirahat dulu, ya?" pamitnya serak.
"Iya."
Selalu sepanjang malam, Dedi tanpa lelah mendekap Rian agar tidur terlelap dipelukannya. "Aduh putra papi manja banget deh." ucap Dedi gemas, mengecup pipi anaknya.
Dedi menimang anaknya sepanjang malam, itu sudah menjadi rutinitasnya setiap malam.
Membuat susu formula untuk putranya ketika Rian mulai merengek dan menangis ketika membutuhkan susu, untuk ia minum.
"Mimik yang banyak, ya." ucapnya tersenyum, memberinya susu.
Entah, mungkin karena sudah terbiasa digendong dan ditimang. Rian bahkan tidak nyenyak tidurnya ketika ia diletakkan dikasur empuknya, dan memilih untuk tidur lelap ketika berada didekapan kedua orangtuanya.
Dedi bahkan sesekali duduk, mendekap anaknya sembari tenggelam dalam mimpinya dan ia menjadi kaget ketika Rian tiba-tiba menangis karena haus.
"Maaf, Nak! Papi ketiduran."
Begitulah selalu perjuangannya, perjuangan menjadi ayah sekaligus suami yang siaga.
Saat subuh tiba, Babysitter datang untuk menggantikan Dedi menimang Rian. Dan dirinya pergi tidur untuk menemani istrinya yang telah terlelap.
Ya, Dedi tidak mau ketika malam hari, anaknya dirawat oranglain. Walaupun itu adalah babysitter terbaik.
Lalu tak lama kemudian, Sefia bangun dan mendapati suaminya sudah tidur lelap disampingnya.
Ia mengelus wajah suaminya, lalu mengecup bibirnya. "Terimakasih sudah menjadi suami dan ayah yang baik." ucapnya sebelum kemudian beranjak untuk menemui anaknya, Rian.
Mereka membutuhkan pelayan untuk membersihkan dan mengurus segala kebutuhan rumah, tapi untuk anaknya sendiri mereka tidak ingin Rian kekurangan kasih sayang, apalagi pada saat momen yang berharga saat susahnya membesarkan si buah hati.
****
__ADS_1
Kini hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun.
Rian sudah tumbuh menjadi anak remaja yang akan segera memasuki sekolah SMA Favoritnya.
"Rian, bangun!" ucap Sefia membangunkan anaknya.
Rian menggeliat, merenggangkan ototnya. "Ada apa, Mi?"
"Papimu udah nunggu dari tadi buat nganterin kamu pesen seragam sekolah."
Seketika Rian menggulingkan diri dan beranjak. "Emangnya Papi gak kerja hari ini?"
"Kerjalah, cuma dia pengen nganterin jagoannya untuk milih seragam yang pas untuk anak kebanggaannya ini." Sefia mencubit pipi Rian, gemas. "Mami juga mau ikut!"
"Makasih, Mi." memeluk Sefia.
"Ya udah sana buruan mandi! Kasian kalo Papinya nunggu lama."
"Oke Mi, siap!" Segera Rian bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sedangkan Sefia kembali ke ruang tengah untuk menemui suaminya.
"Papi." sapa Sefia pada Dedi yang tengah asyik membaca koran.
Dedi menoleh. "Rian udah bangun?"
"Udah kok, dia lagi mandi tuh! Bentar lagi selesai." sahut Sefia mengeratkan diri ketika Dedi menarik pinggangnya.
"Sepi kenapa? Suasana rumah kan selalu seperti ini? Papi kerja, Mami kerja ngurus salon dan Rian pergi sekolah."
"Yaitu, coba nambah satu lagi Mi, pasti bakal rame." goda Dedi, mengecup bibir istrinya.
Seketika Sefia tertawa. "Udah ah! Nanti kelihatan Rian, malu."
"Iya iya." Dedi melepas tangannya yang melingkar dipinggang Sefia. "Tapi Papi serius loh mau nambah anak satu, lagian Rian udah gede. Bisa ngurus dirinya sendiri."
Sefia sejenak terdiam untuk berpikir, kemudian mengangguk dan tersenyum. "Baiklah, kita nambah satu lagi."
"Oke, tinggal usaha." ucap Dedi sebelum kembali ******* bibir istrinya.
"Aku udah siap." teriak Rian menuruni tangga, seketika Dedi melepas pelukannya, dan canggung.
"Ah, iya hayo kita berangkat." ucap Dedi gugup, lalu merangkul leher putranya untuk memasuki mobil dan mengantarnya.
****
Kini mereka sudah sampai di toko khusus menjual seragam SMA Favorite.
"Berikan anak saya seragam yang berbahan terbaik!" ucap Dedi pada salah satu karyawan tersebut.
__ADS_1
"Baik, Pak." segera pelayan itu mengambil seragam SMA Favorite dan menunjukkannya pada Mereka. "Ini adalah seragam dengan bahan terbaik dan bahkan dijahit khusus oleh tangan."
"Baiklah." Dedi mengambil seragam itu lalu ia berikan pada Rian. "Coba kamu pake diruang ganti, pas atau enggaknya."
"Oke, aku coba."
Rian kemudian mencoba seragam itu, lalu keluar dengan percayadiri.
"Ya Tuhan, anak Mami gantengnya." puji Sefia pada anaknya.
Sedangkan Dedi mengacak rambut Rian, lalu menepuk bahunya penuh bangga. "Keren! Anak Papi udah gede."
"Iya dong!" sahut Rian penuh tawa.
****
Dan Kini memasuki hari dimana Rian mulai memasuki sekolah menengah atas.
"Kamu yakin kesekolah naik kendaraan umum?" tanya Dedi memastikan pada anaknya yang tengah menyantap sarapannya.
Rian mengangguk. "Iya, soalnya ini kan sekolah baruku dan aku gak mau teman-temanku nanti tahu kalo aku anak Papi yang terkenal bak selebriti."
Seketika Dedi tertawa. "Kamu bisa aja! Yaudah kalo gitu nanti Papi beliin kamu motor aja biar ke sekolahnya lebih mudah."
"Makasih, Pi." Rian tersenyum.
"Dan ingat ya! Jangan nakal dan jangan suka genitin cewek-cewek!" ucap Dedi bercanda.
"Papi apaan?! Enggak kok."
Sefiapun tertawa. "Iya nih Rian, pas SMP aja udah jadi idola dan jadi rebutan para cewek-cewek. Gak tau nanti ya, Pi?" sindir Sefia menggoda.
"Enggak Mi, enggak kok! Rian gak tertarik buat hal gak guna kayak gituan." sahut Rian cemberut.
"Iya deh, Mami percaya." sahut Sefia cekikikan.
Rian walaupun menjadi anak populer disekolahnya, sangat menyukai olahraga basket yang menjadi kegemarannya tetapi dia adalah anak yang sangat pintar. Ia selalu menjadi juara satu dikelasnya.
Banyak teman laki-laki yang selalu iri terhadapnya, bahkan kakak kelaspun yang mengenalnya.
"Ya udah, Rian pamit berangkat sekolah dulu ya Pi, Mi."
"Iya hati-hati."
****
Perjalanan Kisah Asmara SMA baru dimulai Gaess :*
Tolong dukungannya dengan cara LIKE, KOMEN, FAVORITES, RATING DAN POIN.
__ADS_1
Kamsamida :*