
Ia tiba di depan pintu kamar. Jantungnya berdebar debar. Ragu. Entah bagaimana respon Tia nanti. Ia melangkah maju.
" Sayang...."
Tia berbalik, mengangkat wajah. Tatapannya datar. Zaky bergidik.
" Untuk apa kesini?" Tia berbalik membelakangi Zaky dan menyusun kembali pakaiannya di koper. Ia tidak tahan melihat Zaky. Hatinya jadi goyah, sedangkan Ia merasa cukup terluka sekarang. Sedetik melihat Zaky, butiran itu sudah menggenang di matanya.
" Aku ingin menjelaskan semuanya..."
" Aku tidak butuh penjelasanmu, aku sudah memutuskan, kita berpisah saja."
Deg!
Zaky tersentak. Lagi lagi dadanya sesak.
" Sayang, bagaimana mungkin..."
" Bagiku pernikahan adalah kesetiaan dan kepercayaan, dan kita tidak punya lagi hal itu! Kau bahkan tidak memikirkan tentang anak anak. Kau sungguh keterlaluan!" Tia membentak di hadapan Zaky dengan mata berkaca kaca. Demi apapun, pemandangan itu cukup menyakitkan bagi Zaky.
" Aku sudah tahu kau berselingkuh tapi aku memberimu waktu! kenapa? karena kau suamiku, dan aku percaya padamu.. Tapi kau mengabaikan perasaanku Zaky.. kau mengabaikan anak anak. Kau tetap bersama wanita itu! kau bahkan tidak memecatnya! Apa yang kau inginkan?"
" Sayang, aku..."
"Waktumu sudah habis, seperti janjiku, ketika kau memilih dia, aku akan pergi.."
Zaky tidak bisa menjawab apapun. Lidahnya kelu karena melihat Tia yang menangis. Ia malah menghampiri Tia dan memeluknya. Namun Tia berontak dan melepaskan pelukan Zaky.
" Lepaskan aku ! Jangan pernah sentuh aku lagi. Sekarang pergilah! tidak, aku yang akan pergi."
" Tidak Tia aku mohon jangan pergi." Meraih tangan Tia tapi di hempaskan hingga terlepas olehnya.
" Aku mabuk, Aku tidak tidur dengannya seperti yang kau bayangkan, aku bahkan memperkosa...." Tia memotong.
" bullshitt! Bagaimana mungkin kau memperkosanya setelah kau mengatakan mencintainya. Kau bahkan memohon untuk tidur dengannya." Ungkap Tia pedih.
__ADS_1
Zaky tertegun mendengarnya, Ia merasa bingung. Iya hanya bisa menggelengkan kepala saja. matanya terasa panas. Zaky tidak tahu bahwa Lila merekam pernyatannya saat mabuk. Dan sialnya, Tia tidak menunjukkan rekaman itu pada Zaky.
" Aku tidak mencintainya.."
Tia tidak peduli, sibuk dengan koper.
" Aku mencintaimu, Dia akan berhenti bekerja, aku mengajaknya pergi sebagai perpisahan, dan semalam aku mabuk hingga melakukan itu."
Masih tidak peduli.
" Lila, dia bahkan tidak minta pertanggungjawanku karena sudah memaksanya. Dia tetap akan pergi dan berhenti bekerja besok."
Bagi Tia apa yang di katakan Zaky hanya terdengar seperti omong kosong, karena Ia sudah mendengar sendiri percakapan mereka. Bagaimana bisa di katakan memperkosa jika mereka saling mencintai dan sama sama menginginkan, pikirnya.
" Dia akan pergi?"
Zaky mengangguk yakin.
" Kalau begitu, kejar dia. Jangan biarkan dia pergi." Kata Tia pelan dan itu terdengar seperti sarkasme.
" Kau yang tidak memikirkan anak anak. Apa kau pikir mereka bangga jika papanya tidur bersama perempuan lain? Kalau begitu mungkin mamanya juga perlu tidur dengan pria lain!"
" Tiaa!!!" Tangan Zaky melayang ke udara, kemudian terhenti. Mereka bertatapan. Airmata bercucuran di pipi Tia. Dan Zaky, seluruh tubuhnya bergetar karena marah mendengar ucapan Tia. Matanya lagi lagi terasa panas. Ia menurunkan tangannya pelan.
Zaky menolehkan pandangan dan berjalan beberapa langkah, menghindari tatapan Tia yang melemahkannya. Tia terduduk di atas kasur di samping kopernya. Ia menyapu airmatanya dengan telapak tangannya. Selama ini Ia tidak pernah melihat Zaky semarah itu. Ia sedikit gentar tadi melihat tangan Zaky seperti ingin menamparnya.
" Pergilah.. lakukan apapun untuk meredakan marahmu. Tapi sampai kapanpun, aku tidak mau bercerai. Terserah Apa yang kau pikirkan, Demi Tuhan, Aku hanya mencintaimu. Dan Aku mohon dengan sangat-" Zaky kembali menatap Tia.
"- Jangan pernah tidur dengan pria lain. Aku.. aku tidak akan sanggup menerimanya.. aku bahkan tidak bisa membayangkannya. Aku mohon. Maafkan aku sayang, Aku keterlaluan. Aku membiarkan semua kesalahpahaman ini terjadi. Aku harap suatu waktu kau akan mengerti yang sebenarnya." Butiran bening hampir jatuh dari pelupuk matanya. Zaky segera menyapunya. Itu adalah kalimat tulus dari hatinya. Ia pun keluar dari kamar, menarik nafas dalam, bersiap menemui anak anak sebelum berpisah.
Tia masih di sana, diam terpaku dalam keheningan. hanya terdengar deru nafasnya dan isakan kecil.
Mengapa bersikap seperti kau sangat mencintaiku.. padahal tidak..
---
__ADS_1
" Papa kok tidak ikut, kan seru kalau ada papa." Tanya Zoya. Mereka semua sudah berdiri di samping mobil. Pak pandi yang akan mengantarkan mereka ke bandara, Tia tidak ingin di antar Zaky.
" Papa Lagi banyak kerjaan kak. Maafin papa ya? salam sama oma dan opa."
Zoya pun mengerti. Zaky memeluk dan mencium putrinya satu persatu, termasuk nami yang dalam gendongan Bi tuti.
" Papa kok gak peluk mama?" tanya ifa polos.
keempat orang dewasa itu tercekat. Tia maju selangkah dengan canggung, melihat itu, Zaky akhirnya maju juga dan memeluk Tia. Entah kenapa mereka sama sama memeluk dengan erat. Tia menyandarkan kepalanya di bahu Zaky. Ia meresapi pelukan itu sambil menutup matanya yang berlinang lagi. Zaky pun sama. Ia memeluk dengan erat. Merasakan detak jantung Tia juga hembusan nafasnya dalam dekapan Zaky. Lama sekali. Bi tuti dan pak pandi menatap dengan sedih.
" Mama kok nangis, nanti papa nyusul kan pa? ayo jangan lama lama, nanti ketinggalan pesawat." Zoya protes.
Dengan berat hati mereka melepaskan pelukannya. pandangan mereka bertemu tapi kemudian sama sama menoleh. Tia masuk ke mobil di susul anak anak dan bi tuti.
" Jaga mereka bi."
" Iya tuan."
Perlahan mobil berlalu. Meninggalkan Zaky sendiri dalam kekalutan dan kesepian yang menyapa.
---
Malam ini, setelah hari pernikahan Robi, akhirnya Ia kembali ke rumah. Suasana yang sangat berbanding terbalik dengan sebelumnya. Tidak ada lagi kehangatan, tidak ada lagi suara anak anak yang memecah kesunyian, tidak ada tangian bayi dan tidak ada secercah senyuman yang paling menenangkan. Ia sendiri, berteman dengan kesunyian.
Zaky mengambil botol air mineral di kulkas. Lampu dapur mati, hanya cahaya dari lampu kulkas. Ia menatap sisi kompor, seakan melihat Tia berdiri di sana, tersenyum menggendong anak sambil memasak, menyiapkan makanan untuknya. Zaky memegang dadanya yang terasa nyeri. Ia lalu melihat kamar anak anak. Terbayang olehnya anak anak bermain di sana, berlarian saat akan di pakaikan baju, semua itu semakin menyesakkan dada. Zaky duduk di tepi kolam, meresapi keheningan malam. Ia mengambil ban karet Naya yang berbentuk bebek, sedikit kempes. Ia meniupnya. Meniup sambil mengingat anak dan istrinya. Meniup dengan pilu.
Sepasang mata memandangnya dari jauh. Mata tua yang kini tergenang. Pak pandi duduk menatap tuannya yang kesepian.
Saat aku melihat Nyonya menangis, aku benci sekali padamu. Tapi melihatmu seperti ini? mengapa aku jadi kasihan padamu. Kau pasti sangat kesepian kan?
Biarlah malam menjadi saksi atas segala penyesalan Zaky. Yang smpai mati akan terus di sesalinya. Sebuah hukuman yang harus ia jalani karena bermain hati.Namun, sungguh kesedihan ini tidak sebanding dengan apa yang sudah Lila persiapkan untuknya.
---
Show Your Love ❤❤❤
__ADS_1