
Satu minggu berlalu sejak Ben kecil lahir. Tia masih terbaring koma di rumah sakit. Zaky dengan setia menjaganya bergantian dengan Bi Tuti. Bi Tuti menjaga dari pagi hingga menjelang petang dan Zaky menjaga Tia dari petang hingga pagi kembali. Setiap malam Ia duduk di samping Tia menceritakan hari berat yang dilaluinya tanpa Tia, diselipkannya kisah tentang anak anak di rumah dan cerita Zoya dan Ifa di sekolah. Zaky juga menceritakan pada Tia tentang Saphira. Pengasuh baru di rumah mereka.
Setiap pagi sebelum pulang ke rumah untuk membersihkan diri dan berangkat ke kantor, Zaky menyempatkan diri membersihkan tubuh istrinya. Ia mengelap seluruh tubuh Tia dengan air hangat. Zaky merindukannya, kadang saat malam Ia naik ke bangsal untuk tidur di sisi Tia. Memeluk tubuh wanita yang sangat di cintainya, pernah sekali Ia mendekap Tia sepanjang malam hingga membuatnya menangis sendiri karena frustasi pada keadaan.
Di rumah, Zaky mencoba menggantikan peran Tia untuk merawat anak anak, meskipun sama sekali tidak sebanding dengan yang biasa Tia lakukan. Tidak ada mandi busa, tidak ada main peran seperti Tia biasa lakukan, serta tidak ada lagi makanan enak kesukaan anak anak. Mereka semua kehilangan sosok itu.
Merawat Ben, sepenuhnya menjadi tugas Saphira. Ia merawat bayi itu dengan baik. Memberinya susu, memandikannya, mengganti popoknya bahkan ikut bergadang saat si bayi tidak mau tidur. Dan tugasnya membuatnya menjadi dekat dengan Zaky. Sebelum Zaky berangkat bekerja, Saphira menyerahkan Ben kecil untuk ditimang timang sesaat. Begitu juga di sore hari sebelum Zaky pergi ke rumah sakit.
Seminggu kebersamaan mereka, menorehkan perasaan berbeda di hati saphira. Melihat Zaky, pria mapan juga tampan, seorang ayah yang penyayang juga suami yang baik, kadang membuat Saphira berdebar saat di dekatnya. Seperti pada suatu pagi di hari kedua ia tinggal disana, saat itu cuaca hujan begitu deras sepanjang hari, membuat tubuh menggigil. Ia menyarankan pada Zaky untuk menggendong Ben di dada, untuk memberinya kehangatan. Pelekatan skin to skin istilahnya.
" Aku tahu, istriku sering memintaku melakukannya saat anak anak masih bayi." kata Zaky.
Di ruang bermain, hanya ada mereka berdua dan si kecil Ben, kakak kakak sedang menonton televisi bawah. Zaky seakan tanpa masalah membuka kemejanya di depan Saphira, hingga dada bidangnya terekspos sempurna. Saphira segera menorehkan pandangannya, tidak kuat akan pesona pria di hadapannya. Ia menjadi tersipu sipu, sedangkan Zaky tak sedikitpun terbesit dihatinya untuk menggoda wanita di hadapannya itu, Istrinya terlalu sempurna pikirnya. Dengan tubuh yang topless, Zaky duduk di sofa kamar. Ia mengayunkan tangannya.
" Buka pakaiannya dan berikan Ben padaku." perintah Zaky. Saphira pun segera menelanjangi bayi itu hingga hanya tinggal mengenakan popok saja dan dengan malu malu memberikannya pada Zaky. Zaky perlahan menyambut putra yang di cintanya itu dan menelungkupkannya di dadanya. Sungguh, melihat pemandangan di depannya kini membuat dada Saphira terasa seperti tersetrum. Pesona pria yang telah menikah itu menggetarkan hatinya.
Zaky mencium lembut rambut Ben kecil yang tengkurap di dadanya, Ia mendekapnya erat dengan telapak tangannya, berbagi kehangatan.
" Saphira, bisa kau menyelimuti kami?"
" Bi- bisa Tuan." jawab Saphira gugup.
Saphira mengambil selimut yang ada di sana dan menutupi ayah dan bayi itu dengan perasan yang tak tergambarkan. Ia mencoba mengalihkan pandangan dari pria yang sangat menggoda ini. Tapi tetap saja tubuhnya jadi panas dingin. Enam tahun sejak pendidikan hingga magang dirumah sakit, ia tinggal di asrama wanita, Ia juga mendapat tugas di ruangan bayi. Melihat pria dalam jarak sedekat ini, apalagi tanpa atasan benar benar membuat tubuhnya gemetaran . Lalu, apa ini karena Zaky atau memang karena Saphira tidak pernah dekat dengan pria?
Dua hari lalu Robi menjemput Zaky di rumahnya, mereka akan mengadakan pertemuan dengan para agen properti. Robi datang dengan wajah cuek, mengejutkan Saphira yang sedang sarapan sendirian di ruang makan, terlambat karena harus menidurkan Ben dulu.
"Kau siapa? oh, pasti pengasuh bayi." Robi bertanya dan menjawab sendiri.
"Iya Tuan." Saphira menunduk namun mencuri pandang.
" Dimana Boss?" tanya Robi sambil mengambil roti dan selai kacang.
" Tuan Zaky?"
"Iya." Robi acuh.
" Oh.. emm sedang mandi."
Saphira begitu gugup dengan tatapan tajam pria dengan wajah manis yang berdiri di hadapannya. Robi menarik kursi, dan duduk semeja dengan saphira. Ia melahap Roti yang selesai diberi selai.
" Sebagai pengasuh, apa kau boleh diminta membuat kopi juga?"
" te-tentu saja tuan.."
Saphira bangkit dan meninggalkan dulu makanannya untuk membuat kopi Robi. Robi duduk di meja seperti merenung, Ia terlihat sedang ada masalah. Pikirannya kemudian kembali pada beberapa malam yang lalu saat ia dan Lila pergi ke dokter spesialis Obgyn untuk memastikan kehamilan Lila. Ketika masuk ke ruang tunggu, Robi dan Lila melihat wajah yang sangat dikenalnya, Sabrina. Ia duduk menunggu antrian untuk dipanggil, Robi menarik lengan Lila mundur.
" Apa sebaiknya kita periksa besok saja?"
" Tidak, kenapa? karena sabrina? aku justru ingin tahu kenapa dia membohongimu."
" Tapi aku tidak ingin bertemu dengannya, aku membencinya, demi Tuhan."
" Tunggulah di luar klinik, saat namaku dipanggil baru kita masuk bersama."
" Baik."
Robi segera melangkah keluar, sementara Lila mengambil posisi duduk persis di samping Sabrina. Tak sabar, Lila segera menyapa wanita di sebelahnya.
__ADS_1
"Sabrina? Apa kabar?"
" Aku? Kau mengenalku?"
" Aku Lila, Aku.."
" Ohh, Asistennya Robi, Ia pernah menyebut tentangmu ?" Sabrina memang tidak tahu tentang pernikahan Robi, Robi tidak membuat pesta.
" Eem iya."
" Bagimana kabarnya? Apa ia baik baik saja? Apa dia sudah menikah?"
" Iya, di sudah menikah."
"Ohh..", wajah Sabrina tampak kecewa.
" Kenapa?"
" Aku pikir Ia tidak akan pernah menikah lagi."
" Karena Ia mandul?" Lila mulai kesal.
" Kau tahu?"
" Tentu saja, jadi menurutmu ia tidak berhak bahagia. Kau pasti tahu keadaannya yang sebenarnya, kan?" nada bicara Lila meninggi.
" Apa maksudmu?" tanya Sabrina heran.
" Istrinya hamil."
"Ya, tahu bahwa kau menipunya!"
Sabrina menunduk, matanya berkaca kaca. Sementara Lila terlihat semakin kesal melihat Sabrina yang baginya hanya berpura pura.
" Kenapa? Kenapa kau menghancurkannya jika hanya karena ingin bercerai?"
"Kau tidak mengerti..."
"Jadi jelaskan! Begitu mudah bagimu menghancurkan hidup boss ku." Lila sedikit memaksa. Sabrina bersandar di kursi, Ia menengadah ke langit langit ruangan.
"Aku .. Aku tidak mencintainya. Kami di jodohkan."
"Aku tahu! cuma karena itu?"
" Aku punya pacar, tapi akhirnya menikah dengan Robi. Ibuku sangat menyukai Robi, dia memang pria yang hangat dan manis. Tapi aku suka pria yang membuatku penasaran. Robi sangat penurut, pada mamanya, padaku, bahkan bosnya, Ia seperti bayangan bosnya, kau tahukan? selalu mengikutinya kemanapun. Jadi, aku ingin bercerai, lagipula mantan pacarku juga masih mencintaiku saat itu..."
" Tapi kenapa harus menipunya.."
" Lalu apa? Bagaimana? Dia terlalu baik . Tidak ada alasan yang masuk akal untuk menceraikannya, ibuku, mamanya bahkan hakim pasti tidak akan mengabulkan permohonan ceraiku. Lalu akhirnya ide itu muncul, aku memalsukan hasil tes."
Lila kesal sekali mendengarnya. Ingin sekali Ia menjambak Sabrina. Wanita yang sungguh Egois.
" Tapi aku mendapatkan karmaku sekarang. Aku menikah diam diam dengan pacarku setelah bercerai.."
Mantannya pasti pria yang makan bersamanya di restoran saat aku dan Robi melihatnya.
" Pacarku, tidak, suamiku, ternyata dia bukan pria baik baik. Dia tidur dengan banyak wanita di belakangku. Dan sekarang, Ia menulariku Herpes Genital tipe 2. Dan aku...aku telah menulari janinku." mata Sabrina basah, Ia tampak mengusap perutnya yang sedikit buncit.
__ADS_1
Lila menggeser duduknya. HSV-2 adalah penyakit menular seksual, Lila pernah membacanya pada sebuah buku kesehatan. Lila memperhatikan bibir Sabrina, memang ada beberapa benjolan kecil di sekitar bibirnya. Sabrina menunduk dan menutup matanya, menangis.
" Akuhh.. Aku menulari janinku, Ia mungkin akan lahir cacat, atau bahkan dia tidak akan bertahan hidup..."
Lila sama sekali tidak kasihan pada wanita itu. Jelas sekali wanita di sampingnya adalah manusia egois. Tuhan pasti punya alasan untuk menghukumnya.
" Suatu saat, kelak aku bertemu Robi, Aku akan meminta maaf dan berlutut di kakinya, hasil tes palsu itu pasti telah menghancurkannya. Tapi Tuhan begitu sayang padanya, Istrinya telah hamil.. Dia kini tahu yang sebenarnya.. huuuu "
" Nyonya sabrina!" panggil perawat. Sabrina berdiri perlahan kemudian menatap Lila sebentar. " sampaikan salamku padanya." Sabrina masuk ke ruangan dokter meninggalkan Lila di kursi antrian. Lila menatap punggung wanita itu yang menghilang di balik pintu. Sedikitpun Lila tidak kasihan pada wanita itu, Ia hanya menyayangkan kenapa janinnya harus ikut menderita, kenapa bukan Sabrina saja yang menanggung karmanya sendiri.
Lila mengirimkan pesan pada Robi untuk masuk dan mengatakan bahwa Sabrina sudah selesai. Robi pun masuk dan duduk di samping Lila.
"Kau mengobrol dengannya?"
" Iya, aku tidak bisa menahan diri. Aku sangat membencinya."
" Sayang, sudahlah."
" Dia mengkhianatimu! Dia menipumu! Tapi biarlah,Tuhan sudah memberinya pelajaran. Dia terkena penyakit menular seksual. Dia bahkan sedang hamil, kini janinnya bahkan tertulari."
" Astaga.."
" Kenapa.. Kau kasihan?"
" Memang kau tidak?"
"Tidak. Jadi kau menyesal?"
" Apa maksudmu?"
"Kau masih mencintainya?"
"Astaga sayang, kau ini bicara apa?"
"Akui saja. Aku membencinya. Kita pulang saja!" Lila cemberut, Ia berdiri. Robi meraih lengan Lila dan mengajaknya duduk kembali. Robi menggenggam tangan istrinya, dan membujuknya.
Ini pasti hormon kehamilan lagi, kan?
Ceklek. Pintu ruang dokter terbuka. Sabrina keluar dari sana, dan alangkah terkejutnya Ia saat melihat Robi di sana. Di samping Lila, dan menggenggam tangannya.
Robi?Apa wanita itu istrinya? jadi, Robi menikahi asistennya?
---
Makasih masih dibaca teman 😁
Jgn Lupa Like, Comment, Rate and Vote yahh
🥰🥰🥰
Lagi lagi banyak yang ngambek sama ngancem.
Hihihi
belum tamat uda dihujat 🤣🤣🤣
Author ga boleh baper 💕
__ADS_1