
Robi memarkir mobilnya di tepi sebuah taman kota. Ia mengetuk pelan kepalanya pada stir.
Bodoh. Kenapa aku pergi meninggalkannya? Istriku sedang hamil dan tertekan, harusnya aku menemaninya, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Lila sayang, ada apa denganmu? Kenapa curiga dan berpikir yang tidak tidak. Sungguh membuatku kesal! Tapi, aku harus pulang.
Robi memutar balik arah, dan kembali ke rumah. Tadiny ia seperti tidak dapat mengendalikan diri, tapi sekarang dia kembali logis. Yang Ia hadapi adalah istrinya sendiri yang sedang hamil, bisa saja sikap Lila yang mengesalkan itu ada kaitannya dengan kehamilannya. Lila sungguh tidak pantas menanggung keadaannya sendirian, bagaimanapun Robi harus mengerti, pikirnya.
Di rumah, dalam kesunyian dan kegelapan, Lila duduk sendiri diteras balkon kamarnya. Ia merenung, rasanya sikapnya tadi sungguh tidak masuk akal. Ia menjadi bingung sendiri mengapa pikiran negatif terus menguasainya. Sekarang Ia merasa takut, takut Robi benar benar marah dan meninggalkannya.
Bagaimana jika Robi tidak pulang malam ini? Apa yang akan terjadi dengan pernikahan kami?
Butiran bening menggenangi sudut matanya, Ia mengusap perutnya dan memejamkan matanya di bawah kegelapan malam, hingga kemudian suara mobil menyadarkannya.
Robi pulang.
Kaki telanjang itu berlari menuruni anak tangga, seakan tak sabar untuk melihat wajah yang paling di nanti. Lila menggenggam handle pintu dan menariknya, Udara dingin menerpa wajahnya, sosok itu berdiri di depannya, dan butiran kristal jatuh tak tertahankan. Lila menutup mulutnya. Ingin sekali rasanya memeluk tapi takut Robi masih kesal padanya. Namun ternyata Robi yang bicara.
"Sayang, aku..."
Mendengar kata sayang, Lila menubruk tubuh Robi, tangannya melingkar erat di leher pria itu. Robi meraih punggungnya dan menariknya merapat , mendekatinya erat sambil tersenyum.
Mood nya sudah kembali.
Lila melepas perlahan pelukannya dan menatap kedua mata Robi. Robi menyapu airmata di wajah kekasihnya.
" Robi, maafkan aku.. tadi aku..."
" Sudahlah, kau sudah kembali. Aku mohon lain kali jangan begini lagi, kuasai dirimu. Bagaimana jika tadi terjadi hal buruk padamu?" Robi menaruh anak rambut Lila ke belakang telinga.
" Iya, aku mengerti, terimakasih sudah kembali..." Sebuah senyum simpul muncul di wajah Lila. Robi segera mengangkat tubuh Lila dan menggendong ke kamar.
" Kau mau apa? hem?"
" Minta jatah." Robi tersenyum nakal sambil berjalan.
__ADS_1
" Aku sedang hamil muda.." Lila agak khawatir, tahu kemana arah yang akan terjadi.
" Pelan pelan saja."
" Tapi aku takut.."
" Diam dan nikmati saja. Haha."
" Hushh!!"
" Kenapa? dokter juga tidak melarang. Setelah stress karena sikap mu, kita butuh relaksasi kan? Hahaha."
Wajah Lila cemberut hingga tiba di kamar. Robi memagut bibir Lila dan meletakkannya di atas ranjang, kedua hati yang panas tadi telah mencair seiring keintiman di antara mereka. Tak peduli apakah besok Lila akan berulah lagi, yang terpenting adalah saling mengerti, Robi hanya berharap Ia cukup mampu menghadapi Lila dimasa kehamilannya ini.
---
Panas terik matahari menyilaukan mata, padahal hari telah menjelang petang. Zaky di atas motor trailnya, terpental dan menukik dalam debu di sirkuit. Berusaha fokus, nyatanya pikiran Zaky berputar pada masalah yang tengah dihadapinya kini, Istri, anak anak dan juga bayi. Ia sudah menelepon mertuanya untuk datang, mungkin mereka akan pulang malam nanti. Awalnya Zaky tidak ingin membuat mereka khawatir, namun bagaimanapun mereka orangtua Tia dan harus tau tentang keadaan putrinya. Cucu laki laki juga telah lahir, sudah menahan seminggu lebih, akhirnya Zaky mengabarkan juga.
Zaky memejamkan matanya, membayangkan wajah Tia. Wajah teduh yang selalu membuatnya tersenyum. Wajah yang pernah disakiti tapi memaafkan dan menerimanya kembali. Wajah yang berjuang untuk pernikahannya yang bahagia. Dahi Zaky mengernyit dalam lamunannya. Perih dan hampa. Hatinya terasa seperti ada bagian kosong yang terenggut paksa, menorehkan luka yang entah kapan akan pulih, saat Tia sadar tentunya, namun Zaky bahkan tak berani berharap.
Puas melepas adrenalin, Zaky kembali ke rumah dengan truk double cabin miliknya. Tiba di rumah beranjak senja, Zaky masuk ke pintu gerbang meninggalkan truknya, biar Pak Pandi yang menurunkan motornya, pikirnya. Ia pun pergi ke kolam renang. Zaky melepaskan jersey balapnya dan melepas celana juga, hanya tinggal celana pendek dengan bagian atas terbuka menampilkan tubuhnya yang atletis. Zaky menceburkan diri ke kolam, lama Ia berenang seraya menyelam, kemudian ia kembali ke lantai pembatas kolam. Duduk di sana menatap langit senja.
Tanpa Zaky sadari, sepasang mata memandangnya dari balik tirai jendela, seorang wanita muda yang menggendong bayi. Saphira menghela napas, dari tadi napasnya seakan berhenti kala takjub melihat betapa maskulinnya Zaky yang membuka baju dan melompat ke kolam. Tubuhnya yang basah menambah pesonanya, Saphira begitu terpikat. Ia menatap Ben kecil yang tertidur di atas lengannya.
Entahlah Ben, mungkin aku jahat, tapi haruskah aku berharap bisa menggantikan posisi mamamu. Kau mau kan Ben, menjadi putraku? bukankah aku yang merawatmu dua minggu ini?
Pikiran jahat timbul di benak Saphira. Ia berpikir untuk merebut Zaky dari istrinya yang koma. Lagi pula Ben kecil memang sudah di tangannya, Zaky seorang pria, tentu ia merasa kesepian di saat saat seperti ini, ini menjadi mudah bagi Saphira untuk mendekati Zaky pikirnya. Ia tersenyum penuh makna seraya menatap pria di balik jendelanya.
---
Zaky dan Mama Papa Tia berada di ruang perawatan Tia. Mama tak dapat menahan kesedihannya melihat putrinya terbaring koma. Zaky juga mengatakan bahwa bayinya telah lahir, entah bagaimana mama akan bertahan ketika bertemu cucu laki lakinya di rumah nanti. Papa memeluk mama, mereka berdiri di sisi ranjang.
Ohh sayangku, apa yang telah terjadi padamu. Kenapa harus bersamaan dengan kelahiran putramu.
__ADS_1
Ya Tuhan, bangunkan putriku. Dia berhak untuk bahagia.
Mama menjadi begitu lemah karena terisak, Papa membawa mama keluar, Zaky mengikuti mereka. Di belakang mereka, monitor menunjukkan gelombang, jari Tia yang di jepit detector terlihat bergerak, namun tak ada yang menyadari.
Mama dan Papa akhirnya pulang ke rumah, mereka di sambut Bi Tuti dan Pak Pandi. Mama segera mencari keberadaan cucunya. Keempat putri kecil memeluk grandmanya melepas kerinduan dan tekanan yang sedang mereka hadapi. Bi Tuti membujuk anak anak untuk kembali ke kamar setelah cukup lama merangkul grandma, mungkin saja grandma dan grandpa ingin beristirahat. Setelah anak anak masuk, Mama bertanya pada Bi Tuti tentang keberadaan Ben kecil.
" Dimana cucu laki lakiku Tuti?"
" Ohh, bersama pengasuh Nyonya, mari aku antarkan."
" Sejak kapan ada pengasuh. Bukankah kau satu satunya?"
" Sejak Tia koma.."
" Apa dia wanita muda dan cantik?"
" Hemm.. mungkin begitu."
" Kalau begitu pecat saja dia. Mulai sekarang, aku yang akan menjaga cucuku."
Bi Tuti terkesiap mendengar perkataan mama Tia. Hanya saja Ia tidak mungkin membantahnya.
" Hemm.. menurutku, akan lebih baik jika engkau membantu Zaky merawat Tia, Zaky selalu tidur di sana, menjaganya hingga pagi lalu berangkat bekerja, aku yakin Ia tidak tidur dengan benar. Lagi pùla Saphira menjaga Ben dengan baik. Tidak ada yang perlu di khawatirkan."
"Jadi namanya Saphira?"
"Iya..."
" Antarkan aku menemuinya!"
----
Di tunggu Like and comment 🥰
__ADS_1