
Dedi kini memasang mimik wajah tak suka, bahkan untuk berjalanpun harus dengan sabar Sefia menariknya.
Ia kira istrinya itu akan mengajaknya ketempat privat yang biasa ia datangi, tapi malah datang ketempat khalayak umum dimana orang-orang tahu tentangnya.
"Ngapain datang kesini?" tanya Dedi setengah berbisik pada istrinya.
"Aku ingin bermain Ice Skating, kayaknya seru deh."
"Rame banget kayak gitu, apanya yang seru." sahutnya malas. "Nanti aja deh balik lagi kesini, aku akan menyuruh mereka untuk menutup mall ini sementara waktu."
Seketika Sefia memukul lengan suaminya, hingga ia mengaduh kesakitan. "Apa enaknya hanya main berdua saja, rame-rame begini lebih seru tahu."
"Iya, tapi sayang..."
"Udah ah, gak usah protes." Sefia menarik lengan suaminya untuk memesan tiket dan menuntun suaminya untuk duduk dan memasang sepatu serta sarung tangannya.
"Gak mau." ucapnya ketika Sefia menyuruhnya untuk mengenakan perlengkapan Ice Skating.
"Oh, yaudah." Sefia duduk dibawah kaki suaminya, seketika Dedi terhenyak kaget. "Udah gak usah protes! Siniin kakimu!" desaknya.
Mau tak mau Dedi menuruti kemauan istrinya. "Biar aku pasang sendiri."
"Udah ah, biar aku aja lebih cepet." sahutnya, manarik kaki suaminya lalu memangsangkan kedua sepatu serta sarung tangannya.
"Selesai." ucap Sefia kemudian, ketika ia selesai memasangkan untuk suaminya itu. "Yuk masuk!" ajaknya kemudian.
Dengan ragu-ragu, Dedi masuk kedalam Ice Rink. Tentu orang-orang memperhatikannya, dan tentu orang-orang berdecak kagum saat melihatnya.
Dedi melirik dan mengamati sekitar, ia hanya diam di tempat sedangkan Sefia sudah bermain dan berputar.
Saat itu pula, Dedi melihat seseorang jatuh terduduk kebelakang ketika bermain Ice Skating karena tak begitu handal.
Seketika ia mengingat istrinya bahwa kemungkinan besar istrinya tengah hamil dan tidak boleh jatuh agar tidak berisiko tinggi. Dengan sigap Dedi mengejar Sefia lalu langsung memeluk istrinya dari belakang dan mengeratkannya.
"Sayang, kamu apa-apaan ih? Diliatin nih sama orang-orang." dengus Sefia kesal, ingin melepas pelukan suaminya yang erat.
"Udah mainnya! Ini bahaya tahu." pintanya.
"Bahaya apaan, sih? Main Ice Skating doang." sahutnya heran, lalu menunjuk. "Lihat tuh! Anak kecil aja main kok."
"Kamu tuh lagi hamil! Bahaya main kayak gini, apalagi sampai jatuh. Aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu dan bayi kita." tegasnya, membuat Sefia tercengang.
__ADS_1
"Ha.. hamil?"
"Udah ah, kita beli makan aja di lantai atas." ajaknya, menarik lengan istrinya agar mengikutinya.
Dan dengan berat, Sefia mengikuti perintah suaminya itu.
Belum sampai di Food Court, Sefia tak sengaja melihat orang yang ia kenal memasuki toko mainan anak-anak.
"Mas Angga." gumamnya.
Dedi yang tahu istrinya menatap toko mainan, ia jadi mengajak Sefia untuk melihat-lihat terlebih dahulu. "Kita beli mainan buat Rian, yuk!" ajaknya tanpa menunggu persetujuan istrinya, lalu melangkah masuk kedalam toko.
Dan benar saja, mereka jadi bertemu.
Terlihat Angga sedang melihat-lihat mainan anak, walau Yuda masih terbilang masih belum mengerti apapun. Tapi Angga sudah membelikannya mainan robot yang banyak digemari untuk anak laki-laki.
Dan tentu, Dedi berpikiran untuk membelikan jenis mainan yang sama untuk anaknya.
"Hei kak, kebetulan ya kita bertemu disini." sapa Dedi pada Angga yang berdiri didepannya. "Apa kabar?" mengulurkan tangan, dan Angga menyambutnya.
"Kabar saya baik, Dik." sahutnya, terasa canggung. Ia pun menoleh pada Sefia yang tersenyum lembut padanya. "Adik sendiri, bagaimana?"
Dedi melirik istrinya, lalu merangkulnya. "Ya, seperti yang kakak lihat."
"Ah, itukan dalam ruang lingkup pekerjaan. Kita tidak ada waktu untuk berbincang atau saling menanyakan kabar." sahut Dedi menjelaskan.
"Aneh." gumamnya, yang malah dapat pelototan dari suaminya. "Dih, ngapain sih?" gumamnya heran.
"Adik mencari mainan untuk Rian?" tanya Angga kemudian, membuat Dedi heran. Pasalnya Dedi sengaja merahasiakan nama anaknya itu pada siapapun, untuk melindungi anak serta privasinya.
Dedi tersenyum kecut. "Enggak kok, cuma lihat-lihat saja dan ternyata mainan ini belum cocok untuk anakku yang masih bayi."
"Mas Angga beliin mainan robot buat Yuda, ya?" tanya Sefia, membuat Dedi semakin heran.
Angga mengangguk. "Iya dek, dia sekarang udah mulai bisa jalan dan suka sama mainan. Jadi mas beliin ini buat dia."
Mendengar percakapan akrab itu, Dedi langsung menarik pinggang istrinya. Memutus pembicaraan mereka. "Kita pamit pergi dulu ya, kak! Sampai jumpa." pamit Dedi tiba-tiba, menuntun istrinya agar mengikutinya.
"Iya, sampai jumpa." sahut Angga dengan tatapan pilu, lalu melirik mainan yang dipegangnya itu. "Seharusnya kamu yang menetap disini, menemani dan berdebat denganku ketika membeli sesuatu." ucapnya Angga mengingat kebersamaan dengan mantan istrinya.
****
__ADS_1
Dedi memutuskan untuk membawa Sefia kembali kerumah, tapi sepanjang jalan Dedi hanya diam saja dengan tatapan kesal.
"Sayang, kamu kenapa sih?" tanya Sefia heran.
Dedi menoleh, menatap istrinya tajam. "Aku cemburu."
Sontak Sefia jadi tertawa. "Ha ha cemburu, bagaimana bisa?"
"Jelaslah! Dia menatapmu seperti itu dan juga bagaimana dia tahu tentang Rian? Terus, siapa itu Yuda?" tanyanya bertubi, membuat Sefia diam seketika.
"Ah itu." Sefia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Aku dulu gak sengaja ketemu mas Angga waktu lagi imunisasi Rian dirumah sakit, terus Yuda itu nama anaknya. Lebih tepatnya nama anak Lia yang dia angkat jadi anaknya sendiri."
"Oh, kenapa kamu gak pernah cerita sama aku?"
"Cuma ketemu bentar kok waktu itu." memeluk lengan suaminya. "Cuma gitu aja, jangan cemburu!"
Dedi jadi tersenyum. "Iya." sahutnya, sebelum melumaat lembut bibir istrinya.
"Tapi kamu kok enteng banget sih terus terang kalo lagi cemburu?"
"Terserahlah, kenyataannya begitu." sahut Dedi sengenanya.
****
"Yuda, sini Nak! Papa datang." sapa Angga, membentangkan kedua tangannya agar Yuda berjalan untuk memeluknya.
Dengan tertatih, Yuda berjalan pada papanya itu dengan senyum lebar yang ia miliki.
Setelah sampai, Angga langsung memeluk hangat dan mengangkat tubuh anaknya itu agar berada didekapannya. "Taraa! Papa beliin mainan buat kamu." ucapnya mencium pipi putranya.
"Kita main, mainan baru, yuk!" ucap Angga pada putranya itu, seakan Yuda sudah mengerti apa yang sedang ia bicarakan.
Angga selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya, bahkan mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada Yuda hingga anak itu tak kurang satu apapun hingga besar nanti.
****
Author akan buat Part Khusus untuk Angga sebelum memulai Season 2.
Kamsamida :*
Maaf klo kurang greget, karena ini hanya alur tambahan untuk menuju Season 2.
__ADS_1
Yang penting, Ngalir lah yaaaa :))