
Dedi memutuskan untuk menemani istrinya pergi menemui mantan mertuanya itu, sebelum dirinya berencana untuk mengajak istrinya pergi jalan-jalan.
"Mi, papi akan menunggu di luar saja." ucap Dedi memberitahu. "Mami sebaiknya menemui mantan mertua mami sendiri saja."
Sefia mengangguk. "Baik sayang, tunggu ya! Mami tidak akan lama kok."
"Iya, tidak masalah."
Segera Sefia berjalan dilorong rumah sakit, dan langsung memasuki kamar perawatan mantan mertuanya, Lidia.
Sefia melangkah mendekati penuh hati-hati, menatap perempuan tua yang sedang berbaring lemah dengan selang oksigen untuk membantu pernafasannya.
Ia kemudian menarik kursi tunggal, duduk dekat perempuan itu. "Tante Lidia." sapa Sefia dengan lembut, pada Lidia yang tengah mengistirahatkan matanya.
Lidia kemudian terbangun, langsung menoleh. "Sefia." sapanya dengan senyum.
"Iya, ini Sefia." sahutnya, memegangi tangan Lidia yang sudah keriput.
Dengan gemetar Lidia menggerakkan jemarinya, menyentuh wajah Sefia yang telah lama ia rindukan. "Sudah lama ya tidak bertemu, kamu semakin cantik." pujinya dengan suara parau.
Sefia jadi tersenyum lebar. "Terimakasih pujiannya tante, Sefia kangen sama tante." memegangi jemari Lidia yang menyentuh pipinya.
Mendengar itu Lidia jadi meneteskan air matanya karena terharu. "Tante kira, kamu akan membenci tante."
"Enggak kok, Sefia gak pernah sekalipun benci sama tante. Sefia sangat berterimakasih karena tante mau menerima Sefia kala itu."
Lidia jadi tersenyum lega. "Kamu memang baik Sefia." pujinya lagi. "Tante terlalu banyak salah sama kamu."
"Apapun kesalahan tante, semua sudah berlalu. Tante jangan terlalu terbebani oleh masalah! Sefia sudah melupakan semuanya dan hidup bahagia."
"Tolong peluk tante!" pintanya terisak.
Segera Sefia beranjak berdiri lalu memeluk Lidia yang tengah berbaring lemah itu. "Cepat sembuh ya Tante." ucapnya.
"Terimakasih." ucapnya setelah melepas pelukannya. "Tapi tante ini sudah tua, umur tante tidak akan lama lagi."
"Tante tidak boleh ngomong seperti itu, berdoa saja semoga Tuhan segera mengangkat penyakit tante." memegangi tangan Lidia.
"Semoga." sahutnya parau, merasa sangat bersyukur.
****
Disisi lain, Yuda dan Rian memilih untuk beristirahat, duduk di kursi pengunjug karena mereka sudah kehabisan bahan untuk bahan memasak. Jadi, mereka hanya menjual jenis-jenis minuman saja, dimana para gadis bisa membuatnya.
"Hah, akhirnya kita bisa santai." ucap Yuda setengah mengeluh.
__ADS_1
"Iya." sahut Rian. "huh, rame banget daritadi."
Desi kemudian ikut duduk diantara mereka berdua. "Minuman buat kalian berdua!" ucapnya, menyodorkan dua gelas jus buah.
"Terimakasih des, lo gak baik banget deh." ucap Yuda seraya bercanda.
Seketika Desi merengut, merebut minuman yang hendak Yuda minum.
"Weh, kok diambil sih? Becanda doang kok." ucapnya merayu. "Gue haus nih, Des." rengeknya.
"Biarin!" memalingkan muka, enggan memberikan segelas minuman itu kembali.
Rian hanya bisa tertawa geli melihat kelakuan dua temannya itu.
"Desi baik deh." rayu Yuda kembali.
Desi menoleh. "Oke gue kasih lagi, asal lo bilang gue Desi si cewek cantik, imut, baek hati, jodohnya Rian si ganteng."
Seketika Yuda memuntah, memberi mimik jijik.
"Mau gak lo?" desak Desi.
"Iya iya." Yuda menghela nafas. "Desi cantik, baik, imut, jodohnya Rian ganteng." ucapnya cepat, lalu langsung merebut kembali minuman ditangan Desi dan langsung meneguknya. "Pengen muntah gue." ucapnya lagi, ketika minumannya habis.
"Sialan!" umpatnya, seketika beranjak ingin memukul Yuda.
"Pukul Des! Hajar!" ucap Rian sembari tertawa, melihat kelakuan dua temannya.
"Hai cowok, kita ketemu lagi." sapa seseorang tiba-tiba pada Rian.
Rian menoleh pada gadis itu. "Hah, elo kan cewek yang ketemu di lampu merah waktu itu, kan?" tebaknya.
Gadis itu mengangguk. "Iya." sahutnya, lalu mengelurkan tangannya kedepan. "Kenalin, gue Mela."
Dengan cepat Desi yang tahu itu langsung menyambut uluran tangan Mela. "Namanya Rian, calon pacar gue." sahutnya, membuat Mela terkekeh geli.
Mela menarik tangannya kembali, langsung duduk disamping Rian sambil memberikan senyuman manisnya. "Hai Rian, kita bakal sering-sering ketemu nih." ucapnya.
Rian mengerut kening bingung. "Maksudnya? Lo dari sekolah lain, kan?"
"Semester depan, gue bakal pindah kesini." sahutnya.
Desi jadi kesal mendengarnya. "Udah gue bilangin, dia itu calon pacar gue! Jangan deket-deket deh!"
Mela tertawa mengejek. "Hanya calon pacar, jadi gak masalah dong. Toh dia juga kayaknya gak mau tuh sama lo." ledeknya.
__ADS_1
"Apa lo bilang?" Desi jadi emosi.
"Udah-udah jangan berantem!" Rian beranjak, mencegah Desi agar tidak kasar.
Mela kemudian beranjak berdiri, tersenyum menyeringai. "Sampai jumpa semester depan." pamitnya, lalu mendekatkan dirinya ditelinga Rian untuk berbisik. "Jangan kangen!" godanya.
"Sialan!" umpat Desi yang mendengar penuh emosi tapi Yuda menahannya.
Mela tak peduli, ia pun segera berbalik lalu kemudian pergi.
Melihat Mela yang sudah pergi, Desi lantas langsung memeluk lengan Rian dengan manja. "Kamu jangan ke goda sama nenek sihir itu ya!" pintanya.
Rian hanya tertawa. "Dia bukan tipe gue kok."
Desi jadi lega. "Syukurlah."
Kemudian Yuda mendekati Desi dan berbisik ditelinganya. "Lo juga bukan tipenya." ejeknya.
"Sialan!" umpat Desi geram.
Dan Yuda berlari kembali ketika Desi berusaha memukulnya.
****
Hallo Hallo
Author lagi ngadain give away nih!
Pertanyaannya : Naskah mana yang paling berkesan untuk kalian??
jawab pertanyaan diatas ini dengan format.
Kata-kata / Ucapan :
Judul Novel :
Alasan :
Contohnya : Kata-kata : "Mas, jangan hancurin hidup aku ya? Cukup hatiku selama ini menahan sakit, jangan sampai hidupku ya?!" Sefia.
Novel : Selingkuh.
Alasan : menyayat hati atau apalah wkwk, terserah.
Kirim jawaban ini di Chat Group ya! Nanti bakal Author undi minggu depan, dan pemenangnya akan Author follow untuk di minta alamat pengiriman.
__ADS_1
Produk pemut*h badan/bb cream, terserah kalian mau yg mana. cewek cowok boleh ikutan. Ini sebagai tanda terimakasih Author karena udah setia baca Novel - Novel Author :)
Ini bagi yang mau aja he he