SELINGKUH

SELINGKUH
Rasa Bersalah


__ADS_3

Udara kota terasa panas, siang hari yang terik, hanya semilir angin yang menjadi pelepas penat orang orang yang sibuk berlalu lalang di tengah keramaian kota.


Tia duduk di kursi ruang tunggu, Lila masih tertidur di dalam. Tia menunggu kedatangan Robi ataupun Zaky yang tak kunjung tiba. Ia sendiri merasa gerah belum mandi sejak pagi tadi, ingin sekali pulang dan berendam. Dari jauh Ia melihat sosok yang Ia kenal, bukan Zaky atau Robi, tapi itu pak Pandi. Pak Pandi menghampirinya.


" Tuan minta saya menjemput Nyonya, mungkin saja Nyonya ingin membersihkan diri?"


" Iya pak, tapi aku tidak bisa meninggalkan Lila sendirian. Apa boleh kita menunggu Robi?"


" Tuan Robi baru saja mengantarkan ibunya ke rumah. Beliau pulang hari ini. Setelah itu akan segera kembali untuk menemani Nona Lila."


Tia terlihat ragu, Ia tidak ingin Lila sadar dan tidak ada seorangpun di sisinya. Juga bagaimana jika bayi yang masih di ruang bayi nanti butuh sesuatu? pada siapa perawat akan bicara? Hingga akhirnya sebuah suara melapangkan hatinya.


" Hey, maaf agak lama. Aku mengantarkan mamaku pulang." kata Robi yang terlihat lebih segar dari tadi pagi.


" Dimana Zaky?"


" Entahlah, katanya ada keperluan. Mobilnya di tempat pencucian mobil. Kau pulanglah dengan Pak Pandi."


Tia mengerti. Sebelum pamit pulang ia mengintip Lila sekali lagi. Efek obat bius itu hilang cukup lama, pikirnya. Setelah itu Ia pamit pada Robi. Bersama Pak Pandi ia pergi meninggalkan rumah sakit.


Tia mencoba menelepon Zaky, penasaran sedang berada dimana suaminya, tapi nomor ponselnya tidak aktif.


Aku takut terjadi sesuatu padanya. Ponselnya tidak pernah mati sebelumnya. Tapi bukankah dia tadi pergi bersama Robi dan baik baik saja? Ah, aku terlalu berlebihan. Tapi perasaanku tidak enak.


" Pak, apa Zaky tadi pulang kerumah?"


Aduh Nyonya, bagaimana kalau aku mengatakan yang terjadi tadi pagi, kau pasti akan pingsan. Aku berbohong lagi Tuhan.


" Iya, setelah membersihkan diri lalu tuan pergi lagi dengan mobil double cabinnya."


" Pergi kemana ya?"


"Tidak tahu, Tuan cuma meminta saya untuk menjemput Nyonya."


Tia mengangguk. Mudah mudahan tidak terjadi apa apa padanya, kata Tia dalam hati.


---


Hari sudah gelap, bulan muncul menerangi penjuru malam. Tia berdiri di balkon kamarnya, melihat ke arah gerbang, Zaky belum pulang. Anak anak sudah tertidur di kamar, Tia juga ingin tidur tapi hatinya gusar.


Tya menelepon Robi, barangkali Robi tahu dimana keberadaan Zaky yang menghilang sepanjang hari. Robi mengatakan padanya agar tidak perlu khawatir dan tidak bicara apapun lagi karena sedang menyuapi Lila yang sudah sadar.


Pantulan lampu mobil membayang di balkon. Hartinya berdebar.


Semoga itu Zaky.


Tia melihat dari balkon. Itu benar mobil Zaky. Ia pun turun dengan serta merta ke bawah. Masih di tangga, Ia melihat Zaky masuk ke kamar tamu. Kenapa? tanya Tia dalam hati.


Jika ingin istirahat bukannya lebih baik di kamar sendiri?


Tya menyusul ke kamar tidur tamu, Ia membuka pintu perlahan lalu masuk. Tidak ada Zaky disana. Namun terdengar suara kucuran air dari kamar mandi. Zaky pasti sedang mandi, pikir Tia.

__ADS_1


Tia duduk di tepi ranjang, hampir setengah jam kemudian Zaky keluar. Pinggangnya terbalut handuk sedangkan tubuhnya yang atletis itu terbuka dan masih basah. Ia menggosok kepalanya yang basah dengan handuk kecil, mengeringkan rambutnya.


Zaky menatap Tia yang sengaja memasang wajah cemberut.


" Kau di sana?" Tanya Zaky, masih mengusap kepalanya.


" Kau kemana saja seharian? Ponselmu mati, mengapa tidak mengabariku?"


" Tidak penting, sekarang aku sudah pulang kan?" Zaky menghampiri Tia dan memeluknya dengan sangat erat.


" Aku merindukanmu."


" Kau basah sayang. "


Zaky tidak peduli. Zaky memeluk Tia dalam dekapannya menumpahkan segala perasaannya. Ia telah acuh pada istrinya, bahkan bermain main dengannya, padahal Tia sedang terluka dan ia sendirian. Zaky merasa sangat bersalah terlambat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi hari itu.


"Sayang, apa kau tidur?" tanya Tia heran pada Zaky yang masih mendekapnya dalam diam.


" Tidak. Sayang, bersumpahlah kau tidak akan meninggalkanku. Aku tidak ingin kehilangan istri sepertimu." katanya masih mendekap.


Tya heran, namun Ia salah mengira.


Zaky benar benar berpikir aku selingkuh dengan Benny dan mungkin akan meninggalkannya. Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu. Aku sangat mencintaimu.


" Aku bersumpah demi apapun, tidak akan pernah meninggalkanmu."


Zaky melepas dekapannya dan menatap Tia. Ia menyandarkan dahinya ke dahi Tia. Meresapi perasaan cintanya yang begitu besar pada istrinya. Rasa bersalah masih membayanginya, Ia membenci dirinya sendiri karena membiarkan Tia terpuruk sendirian.


Zaky menggendong Tia ke ranjang dan melepas gaun tidurnya. Ia menelusuri leher jenjang Tia dengan bibirnya, mengecup, menghisap dan mengigitnya hingga meninggalkan bekas. Tia hanya mendesah menikmatinya.


Aku tidak boleh takut lagi seperti kemarin. Ini Zaky suamiku. Zaky. Bukan dia.


Tia memberi sugesti pada dirinya sendiri. Tidak ingin traumanya muncul seperti malam kemarin. Lagi pula malam ini Zaky melakukannya dengan sangat lembut. Dekapannya, hentakannya dan semuanya ia lakukan dengan lembut. Tia terlarut dalam kenikmatan yang sempurna hingga akhirnya terkapar di ranjang tak berdaya. Zaky menariknya dalam dekapannya, tak ingin Tia terbaring sendiri.


Sejam mereka terlelap setelah lelah memacu hasrat yang membuncah, kemudian Tia menggeliat. Rambutnya tergerai mengenai wajah Zaky, Zaky pun terjaga. Zaky mengusap rambut Tia seraya pandangan mereka bertemu. Mereka saling melempar senyuman satu sama lain, seperti dua orang yang baru saja jatuh cinta.


"Semoga saja kali ini kita berhasil mendapatkan Zaky junior ya?" kata Zaky menunggu respon Tia.


Benar saja. Raut wajah Tia seketika berubah sendu teringat calon bayi laki lakinya.


" Jangan bersedih sayang." kata Zaky memegang dagu Tia.


"Pecundang itu telah melenyapkan bayi kita, tapi jika Tuhan berkehendak, mungkin kita akan punya 5 bayi laki laki lagi nanti."


Deg!


Tia menyadari sesuatu.


" Sayang kau tahu?" Airmata jatuh dari sudut kelopak mata Tia.


Zaky mengangguk. Ia memeluk Tia, kepalanya terbenam di dada Zaky.

__ADS_1


" Mengapa kau tidak mengatakan padaku? Kau justru mengaku berselingkuh! Kau bahkan menganggap aku percaya perselingkuhanmu itu, mana mungkin, kau adalah istri dengan cinta yang paling tulus di muka bumi ini."


Bahu Tia tersentak sentak karena tangisan yang tak tertahankan. Ia begitu terharu mendengar ucapan Zaky. Dan kini, apa yang dipendamnya selama ini telah lepas sudah. Zaky sudah tau yang sebenarnya. Dan ia tidak perlu memilih kata kata lagi untuk menceritakan, karena entah bagaimana caranya, Zaky sudah tahu kebenarannya.


" Melihatnya mencoba memperkosamu, menginjakmu dan bayi kita, benar benarfl membuat aku setengah gila. Bagaimana kau masih bisa bertahan dan menyembunyikannya? Mengapa tidak menceritakannya pada ku?"


" Aku- aku takut sekali. Aku takut dia akan membunuhmu, atau kau akan membunuhnya, lalu kau-, kau akan di penjara.. huhuhu"


Zaky menangkup wajah Tia. Melihat Tia yang terisak, lagi lagi matanya terasa panas. Butiran bening berkumpul di sudut mata Zaky, menunggu untuk tumpah.


"Kau pikir begitu? Lalu sampai kapan kau akan memendamnya?"


Tia terpikirkan sesuatu. Ia tersentak dan terbelalak menatap Zaky.


" Sayang, kau sudah tahu. Kau tidak mem- membunuhnya kan? Tadi- tadi kau kemana? apa kau menemuinya? Sayang?"


Zaky diam sejenak. Ia menutup matanya.


---


Pagi hari tadi. Setelah meradang mengetahui kejadian sebenarnya, Zaky dan Roby kini tiba di apartemen Benny. Roby sebelumnya menanyakan perihal keberadaan Benny pada Mira. Mira mengatakan Benny berada di apartemen semenjak Mira menggugat cerai. Mira mengirimkan alamatnya pada Robi meski dia sedikit khawatir. Robi memastikan pada Mira tidak akan terjadi apa apa.


Roby dan Zaky Turun dari mobil. Mereka di basement.


" Kau yakin tentang ini bos?"


" Iya, aku harus membalas untuk istri dan anakku. Pergilah ke kantor polisi dan bawa rekaman itu. Pastikan mereka datang sebelum aku membunuhnya."


" Bos, jangan bunuh dia."


" Berharaplah!" Zaky meninggalkan Robi yang terpaku di depan mobil.


---


Semoga suka ya 😊


Show your love ya pembaca yang baik.


❤❤❤


☺Like


☺Commet


☺Share


☺Rate


☺Vote


☺Favorite

__ADS_1


Makasi buat kalian yang selalu dukung aku.


__ADS_2