
"Kak Rian." panggil Putri, melangkah mendekati.
Rian menoleh. "Ada apa?"
"Putri pengen ngomong sesuatu, bisa gak kita ngomong berdua saja?" pintanya.
"Yaudah disini aja, mau ngomong apa?"
"Jangan disini kak, kita ke perpus aja yuk!" ajaknya.
"Maaf Put, gue lagi gak mood. Kita bicara lain kali aja ya?" pintanya, tanpa memerlukan jawaban langsung pergi begitu saja.
"Yah, kok pergi sih." Putri jadi kecewa.
Selama mata pelajaran dimulai sampai berakhir, Yuda tak sekalipun menoleh pada temannya itu lagi. Mereka benar-benar telah menjadi orang asing.
Dan seperti tantangan kemarin, saat Rian menuju parkiran. Tiba-tiba segerombolan anak nakal menyeretnya ketempat sepi karena murid lain sudah pulang.
Merekapun saling adu pukulan, mengeroyok Rian ramai-ramai. Memukul perut Rian secara bergantian.
"Mati lo!" umpatnya, sebelum melayangkan pukulan, dan Rian memekik kesakitan.
Kebetulan juga Yuda berjalan melihat agedan Mereka yang mengeroyok Rian.
"Eh! Yuda datang." bisik mereka, dan berhenti sejenak.
Tapi Yuda hanya meilirik saja, lalu berjalan tak peduli. Rian yang melihat Yuda jadi sangat bersedih, ia menunduk sembari memegangi perutnya dan sakit.
Jadi segerombolan anak nakal itu tertawa senang karena Yuda tak peduli, lalu mencengkeram krah Rian lagi dan memukulnya kembali. Tapi kali ini Rian tak tinggal diam.
Rian benar-benar melawan, dan mereka saling pukul karena kalah jumlah. Sedangkan jika Yuda bertarung, ia akan menghalalkan segala cara untuk menang. Beda dengan Rian yang hanya mengandalkan tinjunya dan tak tega jika memukul lebih pada lawannya.
"Akh." pekik Rian kesakitan.
****
Seperti biasa, Sefia menunggu Rian di depan rumah untuk menyambut kedatangan anaknya itu.
"Rian kemana sih, kok jam segini belum pulang?!" gumamnya gelisah.
Sefia mondar mandir menunggu anaknya pulang, hingga beberapa lama kemudian akhirnya Rian datang dan Sefia tersenyum senang.
__ADS_1
"Hei sayang, sudah pulang." memeluk anaknya datang. "Gimana sekolahnya?"
"Lancar kok mi." sahutnya, menahan sakit.
Sefia mengamati anaknya lamat-lamat. "Rian, bajumu kok kotor gini, nak?" tanyanya.
"Rian, tadi gak sengaja jatuh dari atas motor mi." sahutnya berbohong.
"Ya Tuhan, mana nya yang luka? Mana yang sakit? Hayo kita kedokter saja!" membolak balikkan tubuh anaknya, dipandang dari belakang dan depan.
Rian jadi tertawa. "Gak kok mi, cuma jatuh biasa gak sampek parah ataupun luka."
"Beneran gak apa-apa?"
Rian mengangguk. "Iya, beneran." sahutnya penuh kebohongan. "Yaudah Rian ganti baju dulu terus makan."
"Oke sayang, mami tunggu di meja makan."
Rianpun buru-buru masuk kedalam kamarnya, lalu mengunci pintunya.
"Akh." memegangi perut dan badannya yang begitu nyeri. berguling diatas kasur sambil mengaduh kesakitan tak tertahan.
Ia kemudian mencoba berjalan mengganti baju dan membersihkan diri lalu menuruni tangga dan makan bersama dengan maminya.
"Mami bikin ayam rebus dan capjay kuah kesukaanmu." mengusap kepala anaknya penuh sayang.
Rian tersenyum. "Makasih mi." ucapnya lalu mengunyah makanannya.
Setelah lama mengunyah, akhirnya Rian menyodorkan sebuah kertas kepada maminya.
"Eh, ini apa?" tanya Sefia, belum membacanya.
"Maaf ya mi? Jangan marah!" pintanya, membuat Sefia khawatir saja.
Dengan cepat Sefia membuka dan membaca surat dari sekolah itu.
"Rian, kamu bikin masalah ya, Nak?" tanya Sefia penuh kehati-hatian.
Rian mengangguk. "Maaf mi."menunduk.
Sefia memberi senyum meskipun ia kecewa, mengusap kembali rambut halus milik anaknya. "Yaudah biar mami aja yang datang besok." ucapnya.
__ADS_1
Rian menggelengkan kepala. "Jangan mi!Mami kan sakit."
"Gak apa-apa kok, dari pada papimu yang datang kan malah heboh satu sekolah."
Rian menggaruk tengkuknya. "Iya sih." sahutnya pasrah.
"Memangnya Rian berantem sama siapa di sekolah?" tanyanya.
"Sama Yuda, mi."
Sefia menepuk jidadnya sendiri. "Astaga!" menggelengkan kepala. "Bukannya kalian berteman baik?"
"Gak lagi mi, dia tiba-tiba benci banget sama Rian."
"Apa karena Putri?" tebaknya.
Rian menggelengkan kepala. "Bukan." sahutnya.
Karena mami.
Menatap wajah maminya, sedih. Dan Sefia mengelus wajah putranya itu lalu memeluknya.
****
"Ha ha, lihat gak kalian ekspresi pecundang tadi itu?" tanya segerombolan anak nakal pada temannya. "Lucu banget tau. gak? Ha ha."
"Ha ha iya lucu. Dia sampai mohon-mohon minta kita berhenti tidak memukulnya lagi, ha ha."
Mereka saling tertawa, mengejek Rian karena sudah puas menghajarnya.
"Sudah puas ketawanya?" ucap seseorang yang tak asing bagi mereka.
Merekapun menoleh, kaget. Mendapati Yuda berada dibelakang mereka membawa sebuah kayu digenggam dan menatap mereka tajam.
Merekapun langsung menelan ludah kasar dan gemetar.
"Gue mau lihat! Setelah ini, apa kalian masih bisa ketawa." ucapnya sebelum menghajar mereka yang telah berani melukai Rian.
****
Kamsamida :*
__ADS_1